Perselisihan perdagangan AS dan China menjadi persoalan penting bagi Indonesia karena perubahan tarif di dua negara tersebut dapat mengubah arus perdagangan dunia. Ketika tarif impor meningkat, perusahaan dapat mencari negara alternatif untuk produksi dan pemasaran. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia, tetapi sekaligus menghadirkan risiko karena produk China yang tidak lagi terserap pasar AS dapat dialihkan ke negara lain, termasuk Indonesia.
Karso menjelaskan bahwa perang dagang telah memberikan tekanan terhadap ekspor China ke Amerika Serikat. Pada Mei 2025, ekspor China ke AS tercatat turun 35 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Namun, secara global ekspor China justru meningkat 4,8 persen, sementara impornya turun 3,4 persen. Peningkatan ekspor tersebut terutama terjadi ke kawasan Asia Tenggara dan Uni Eropa. Thailand, Vietnam, dan Indonesia disebut sebagai tiga negara tujuan ekspor utama dengan total nilai sekitar 14,8 persen.
Situasi tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup kompleks. Di satu sisi, perubahan rantai pasok global dapat membuka peluang bagi perusahaan Indonesia untuk mendapatkan investasi dan pasar baru. Di sisi lain, masuknya produk China yang sebelumnya ditujukan ke pasar Amerika Serikat dapat meningkatkan persaingan dengan produsen dalam negeri.
Bagaimana kajian dilakukan?
Karso menggunakan pendekatan pencarian dan analisis data secara daring. Sumber yang digunakan mencakup buku, majalah, jurnal, tesis, disertasi, berita daring, situs web, serta informasi dari para ahli yang berkaitan dengan tarif AS-China dan strategi Indonesia menghadapi perang dagang.
Dengan pendekatan tersebut, artikel menghubungkan perkembangan kebijakan perdagangan dengan kondisi ekonomi global dan pilihan kebijakan Indonesia. Kajian tidak menggunakan eksperimen lapangan atau survei responden. Karena itu, sejumlah angka dalam artikel berasal dari sumber sekunder yang dikutip penulis.
Salah satu perkembangan penting yang dibahas adalah perundingan AS-China di Jenewa, Swiss, pada Mei 2025. Menurut artikel, kedua negara sepakat menurunkan tarif impor secara timbal balik selama 90 hari. Tarif AS terhadap barang China turun dari 145 persen menjadi 30 persen, sedangkan tarif China terhadap barang AS turun dari 125 persen menjadi 10 persen. Kesepakatan tersebut dipandang sebagai jeda sementara dalam konflik, bukan penyelesaian permanen.
Dampak perang dagang terhadap ekspor Indonesia
Dampak terhadap Indonesia telah terlihat dalam berbagai proyeksi ekonomi yang dikutip Karso. Kajian INDEF yang digunakan dalam artikel memperkirakan ekspor Indonesia dapat mengalami penurunan 0,24 persen akibat perang dagang. Angka tersebut berbeda dengan Vietnam yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan ekspor 2,58 persen. Malaysia, Singapura, dan Thailand juga diproyeksikan memperoleh dampak positif terhadap ekspor masing-masing sebesar 0,39 persen, 0,53 persen, dan 0,23 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perang dagang tidak otomatis memberikan dampak yang sama kepada seluruh negara. Negara yang mampu menarik relokasi produksi, memperluas pasar, dan menyesuaikan rantai pasok global dapat memperoleh peluang, sementara negara yang terlalu bergantung pada pasar tertentu menghadapi risiko lebih besar.
Dampaknya juga dapat meluas ke sektor industri strategis. Artikel menyoroti kebijakan China terkait ekspor mineral tanah jarang dan mineral kritis. Bahan-bahan tersebut penting bagi berbagai industri, termasuk otomotif, semikonduktor, dan sektor pertahanan. Ketergantungan dunia terhadap pasokan mineral kritis membuat komoditas tersebut menjadi salah satu faktor strategis dalam hubungan perdagangan internasional.
Tiga strategi Indonesia yang disoroti
Memperluas mitra perdagangan
Strategi pertama adalah memperluas jaringan perdagangan Indonesia agar tidak terlalu bergantung pada satu atau dua pasar utama. Artikel menyoroti keterlibatan Indonesia dalam berbagai kerja sama ekonomi, termasuk BRICS dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), serta sejumlah kerja sama bilateral dan multilateral lainnya.
Diversifikasi pasar dapat membantu Indonesia menghadapi perubahan kebijakan tarif secara lebih fleksibel. Jika permintaan dari satu negara melemah, eksportir memiliki alternatif pasar lain.
Mempercepat hilirisasi sumber daya alam
Strategi kedua adalah memperkuat hilirisasi. Indonesia didorong untuk tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mengolah sumber daya alam menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Salah satu contoh yang dicantumkan dalam artikel adalah komoditas nikel. Nilai ekspor nikel dan turunannya disebut meningkat dari US$3,7 miliar pada 2014 menjadi US$34,3 miliar pada 2022. Artikel juga menyebut pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada 24 Februari 2025 sebagai bagian dari upaya mendukung proyek strategis, termasuk sektor mineral, batu bara, minyak dan gas, perkebunan, perikanan, serta kehutanan.
Hilirisasi dinilai berpotensi meningkatkan daya saing ekspor sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi dan lapangan kerja di dalam negeri.
Memperkuat konsumsi domestik
Strategi ketiga adalah memperkuat daya beli masyarakat. Ketika kondisi perdagangan dunia tidak menentu, perekonomian Indonesia dapat memperoleh penyangga dari pasar domestik.
Artikel menyoroti program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembentukan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai program yang dikaitkan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat. Karso menyebut konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, sehingga konsumsi domestik menjadi salah satu fondasi penting pertumbuhan ekonomi.
Mengapa strategi ini penting?
Temuan utama artikel menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan strategi ekonomi yang tidak hanya berfokus pada hubungan dengan AS atau China. Perluasan mitra dagang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu, hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, sementara penguatan konsumsi domestik dapat memberikan bantalan ketika permintaan global melemah.
Bagi dunia usaha, kondisi tersebut berarti pentingnya mencari pasar alternatif dan meningkatkan kemampuan produksi bernilai tambah. Bagi pemerintah, perang dagang menunjukkan perlunya kebijakan perdagangan yang fleksibel sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Karso juga menekankan bahwa Indonesia tidak seharusnya terburu-buru dalam menghadapi negosiasi tarif. Posisi Indonesia perlu mempertimbangkan kepentingan nasional dan perkembangan politik serta ekonomi global.
Pada akhirnya, perang dagang AS-China tidak hanya menjadi persoalan tarif antara Washington dan Beijing. Bagi Indonesia, konflik tersebut menjadi ujian terhadap kemampuan negara dalam mempertahankan ekspor, mengembangkan industri domestik, memperluas hubungan perdagangan, dan menjaga daya beli masyarakat.
Strategi yang disoroti Karso—diversifikasi mitra perdagangan, percepatan hilirisasi sumber daya alam, dan penguatan konsumsi domestik—menawarkan kerangka untuk membangun ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian perdagangan global.
Profil Penulis
Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun profil profesional penulis secara lebih rinci, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi.
0 Komentar