Bekasi — Skrining kesehatan terhadap 280 orang dewasa di kawasan industri Kabupaten Bekasi menemukan hubungan antara kekuatan genggam tangan dengan usia, berat badan, dan tekanan darah. Kegiatan yang dilakukan Ruhdiat R.P, Suprayogi A., Al Faqih S., dan Ridwansyah dari Fakultas Kedokteran, President University, berlangsung di Botany Park, Jababeka, pada 8 Februari 2026. Hasilnya menunjukkan kekuatan genggam cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sedangkan berat badan memiliki hubungan positif paling kuat dengan kekuatan genggam. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kekuatan genggam dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung edukasi kesehatan dan deteksi dini penurunan fungsi fisik masyarakat.
Kekuatan otot merupakan bagian penting dari kebugaran fisik karena berhubungan dengan kemampuan seseorang melakukan aktivitas sehari-hari, mempertahankan produktivitas kerja, dan menjaga kemandirian. Salah satu pemeriksaan yang relatif mudah dilakukan adalah pengukuran kekuatan genggam atau handgrip strength. Pemeriksaan ini menggunakan alat dinamometer genggam dan dapat dilakukan tanpa prosedur invasif. Karena praktis dan relatif murah, kekuatan genggam telah digunakan dalam berbagai pemeriksaan kesehatan masyarakat dan kesehatan kerja.
Topik tersebut menjadi relevan bagi masyarakat Kabupaten Bekasi yang merupakan salah satu kawasan industri besar di Indonesia. Banyak pekerja di sektor manufaktur, logistik, dan jasa menjalani jam kerja panjang sehingga memiliki waktu terbatas untuk berolahraga secara teratur. Pola aktivitas tersebut dapat berkontribusi terhadap rendahnya kebugaran fisik dan berkurangnya aktivitas yang melibatkan sistem otot dan rangka. Penulis menilai bahwa pemeriksaan kekuatan otot masih jarang menjadi bagian dari program promosi kesehatan masyarakat di kawasan industri.
Skrining dilakukan pada 280 orang dewasa berusia 17 hingga 65 tahun yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Peserta diperiksa berdasarkan usia, berat badan, tekanan darah, dan kekuatan genggam tangan. Pemeriksaan berlangsung sebagai bagian dari kegiatan promosi kesehatan masyarakat di Botany Park, Jababeka, mulai pukul 06.00 pada 8 Februari 2026. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk melihat hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kekuatan otot.
Hasil pengukuran menunjukkan rata-rata usia peserta mencapai 39,6 tahun. Berat badan rata-rata tercatat 63,5 kilogram, sedangkan tekanan darah sistolik rata-rata berada pada 128,7 mmHg. Sementara itu, kekuatan genggam rata-rata mencapai 27,4 kilogram. Rentang kekuatan genggam cukup lebar, yaitu 10 hingga 63 kilogram, yang menunjukkan adanya perbedaan kapasitas otot yang cukup besar di antara peserta.
Analisis korelasi menunjukkan bahwa usia memiliki hubungan negatif dengan kekuatan genggam, dengan nilai korelasi -0,32. Artinya, semakin bertambah usia, kekuatan genggam cenderung semakin rendah. Penulis mengaitkan kondisi tersebut dengan proses penuaan biologis, termasuk berkurangnya massa otot dan perubahan fungsi neuromuskular yang dapat terjadi seiring bertambahnya usia.
Sebaliknya, berat badan menunjukkan hubungan positif paling kuat dengan kekuatan genggam, dengan nilai korelasi 0,41. Peserta dengan berat badan lebih tinggi cenderung memiliki kekuatan genggam lebih besar. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah berat badan dapat mencerminkan massa otot yang lebih tinggi. Namun, penulis menekankan bahwa berat badan tidak dapat membedakan massa otot dan massa lemak, sehingga berat badan yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kondisi otot yang lebih baik.
Tekanan darah juga memiliki hubungan positif dengan kekuatan genggam, meskipun hubungannya lebih lemah dibandingkan berat badan. Nilai korelasinya sebesar 0,21. Menurut penulis, hubungan tersebut dapat berkaitan dengan fungsi kardiovaskular dan aliran darah yang berperan dalam memasok oksigen serta nutrisi ke otot ketika melakukan kontraksi.
Analisis lanjutan menggunakan regresi memperkuat pola tersebut. Usia memiliki hubungan negatif dengan kekuatan genggam dengan nilai β -0,28 dan p = 0,02. Berat badan menjadi faktor dengan kontribusi positif paling kuat, dengan β 0,37 dan p = 0,01. Tekanan darah juga menunjukkan hubungan positif dengan β 0,16 dan p = 0,04. Ketiga variabel tersebut dinyatakan sebagai prediktor yang signifikan terhadap variasi kekuatan genggam dalam model yang digunakan.
Menurut Ruhdiat R.P dan tim dari President University, hasil tersebut memiliki manfaat untuk pengembangan program kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan dengan tuntutan pekerjaan tinggi seperti kawasan industri. Pemeriksaan kekuatan genggam dapat digunakan sebagai alat skrining yang praktis dan tidak invasif untuk membantu mengidentifikasi orang dewasa yang berisiko mengalami penurunan fungsi fisik. Pengukuran tersebut juga dapat dipadukan dengan pemeriksaan tekanan darah dan berat badan untuk memberikan gambaran kesehatan yang lebih menyeluruh.
Dari sisi kesehatan masyarakat, hasil tersebut mendukung perlunya program yang menggabungkan aktivitas fisik, edukasi gizi, pengelolaan komposisi tubuh, pemantauan tekanan darah, serta pemeriksaan kekuatan otot. Bagi masyarakat usia produktif, menjaga aktivitas fisik dan kesehatan otot penting untuk mempertahankan kemampuan bekerja dan kualitas hidup. Sementara bagi pembuat kebijakan, skrining kekuatan genggam berpotensi diintegrasikan ke dalam program pemeriksaan kesehatan masyarakat dan pemantauan kesehatan kerja.
Meski demikian, penulis mengingatkan bahwa hasil tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat karena kegiatan menggunakan desain potong lintang. Penelitian juga belum mengukur komposisi tubuh secara langsung serta belum memasukkan faktor aktivitas fisik dan pola makan ke dalam analisis. Penelitian berikutnya disarankan menggunakan pengamatan jangka panjang dan memasukkan lebih banyak variabel untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap mengenai faktor yang memengaruhi kekuatan otot.
Secara keseluruhan, kegiatan di Bekasi menunjukkan bahwa pemeriksaan kekuatan genggam dapat diterapkan dalam skrining kesehatan berbasis masyarakat. Integrasi pemeriksaan kekuatan otot, berat badan, tekanan darah, dan edukasi gaya hidup sehat berpotensi membantu mengenali risiko penurunan fungsi fisik lebih awal. Penulis merekomendasikan agar program serupa dilakukan secara berkelanjutan melalui promosi kesehatan di tempat kerja, edukasi langsung, dan media digital untuk mendorong aktivitas fisik serta pola hidup sehat.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Community-Based Screening of Handgrip Strength and Cardiovascular Risk Factors among Adults in an Industrial Area of Bekasi Regency
Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF)
Volume 5, Nomor 4, 2026, halaman 327–340.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i4.15
Link Jurnal: https://journaljpmf.my.id/index.php/jpmf
0 Komentar