Sertifikat Asal Membantu PT KPI RU II Dumai Mengurangi Risiko Ekspor Produk Migas

Ilusstrasi by AI

Sertifikat Asal (Certificate of Origin/CoO) bukan sekadar dokumen yang membuktikan negara asal suatu produk. Studi Dani Nurmaliki dan Rizqi Adhyka Kusumawati dari Universitas Islam Indonesia (UII) menunjukkan bahwa dokumen tersebut memiliki peran penting dalam mengurangi berbagai risiko ekspor di PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Dumai (PT KPI RU II Dumai). Studi ini mengamati ekspor Marine Fuel Oil (MFO), Low Sulphur Fuel Oil (LSFO), dan Green Coke, khususnya bagaimana ketepatan dan konsistensi dokumen asal barang mendukung fasilitas tarif, pelacakan asal produk, serta pembayaran melalui Letter of Credit (L/C).

Artikel yang diterbitkan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS) pada Agustus 2026 tersebut menemukan bahwa pengelolaan Sertifikat Asal yang tepat dapat membantu eksportir menghadapi tiga risiko yang saling berkaitan, yaitu tuduhan dumping, kesalahan deklarasi asal barang, dan risiko operasional yang berkaitan dengan pembayaran melalui Letter of Credit.

Mengapa Sertifikat Asal Penting dalam Perdagangan Internasional?

Kegiatan ekspor memberikan peluang bagi perusahaan untuk memperluas pasar dan meningkatkan penerimaan devisa. Namun, perdagangan lintas negara juga membawa berbagai risiko, mulai dari pengelolaan dokumen, kepabeanan, operasional, hingga pembayaran internasional.

Peneliti mengangkat kasus pada Oktober 2009 ketika ban yang diimpor ke Indonesia dari China dan India disertai Certificate of Origin palsu agar barang tersebut seolah-olah berasal dari negara anggota ASEAN. Cara tersebut memungkinkan importir memperoleh tarif intra-ASEAN yang lebih rendah dibandingkan tarif untuk barang non-ASEAN.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa Sertifikat Asal bukan sekadar formalitas administrasi. Keakuratan dokumen ini dapat menentukan perlakuan tarif, kepatuhan kepabeanan, dan risiko perusahaan terhadap tindakan perdagangan internasional.

Di Indonesia, Certificate of Origin dikenal sebagai Surat Keterangan Asal (SKA). Dokumen ini membuktikan bahwa suatu barang memenuhi aturan asal barang yang berlaku sehingga dapat memperoleh fasilitas tarif preferensial berdasarkan perjanjian perdagangan internasional.

Penelitian Berfokus pada PT KPI RU II Dumai

Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif di PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Dumai.

Penelitian dilakukan pada fungsi Finance selama periode magang selama tiga bulan, yaitu Oktober hingga Desember 2025. Dokumen yang diamati berkaitan dengan ekspor MFO, LSFO, dan Green Coke.

Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan staf pada subfungsi Hydrocarbon Accounting dan Budgeting. Sementara itu, data sekunder berasal dari dokumen ekspor, laporan internal perusahaan, serta proses verifikasi melalui sistem E-SKA dan Indonesia National Single Window (INSW).

Dokumen yang dianalisis meliputi:

  • Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal;
  • Bill of Lading;
  • Invoice;
  • Packing List; dan
  • Export Goods Declaration atau Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

Selanjutnya, peneliti memetakan setiap risiko ekspor dengan fungsi Sertifikat Asal dalam mengurangi risiko tersebut.

Tiga Jenis Sertifikat Asal Digunakan

Studi menemukan bahwa PT KPI RU II Dumai menggunakan tiga bentuk Sertifikat Asal.

Form E digunakan untuk ekspor Green Coke ke China dalam skema ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA). Sertifikat ini membuktikan asal Indonesia sehingga produk yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh pengurangan atau pembebasan bea masuk.

Form D digunakan untuk ekspor MFO dan LSFO ke negara-negara ASEAN, seperti Malaysia dan Singapura, berdasarkan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). Dokumen ini memungkinkan barang yang memenuhi aturan asal memperoleh tarif intra-ASEAN yang lebih rendah atau bahkan nol.

Sementara itu, Form B digunakan untuk negara tujuan yang tidak memiliki perjanjian perdagangan preferensial dengan Indonesia. Meskipun tidak memberikan keuntungan tarif, dokumen tersebut tetap berfungsi sebagai bukti resmi asal Indonesia dan dapat membantu mencegah penahanan barang, pemeriksaan tambahan, atau penolakan masuk di negara tujuan.

Mengurangi Risiko Tuduhan Dumping

Salah satu risiko utama yang dibahas dalam penelitian adalah tuduhan dumping.

Tuduhan dumping dapat muncul ketika negara tujuan menilai bahwa produk impor dijual dengan harga jauh lebih rendah daripada harga normal di negara asal. Untuk produk seperti MFO, LSFO, dan Green Coke, tuduhan tersebut dapat berujung pada penahanan pengiriman, pengenaan bea masuk antidumping, gangguan ekspor, hingga dampak terhadap reputasi perusahaan.

Sertifikat Asal membantu menunjukkan dari mana produk sebenarnya berasal. Dokumen ini juga dapat membantu mencegah illegal transhipment, yaitu praktik mengirimkan barang melalui negara ketiga kemudian menyatakan barang tersebut seolah-olah berasal dari negara tersebut untuk menghindari bea atau tindakan antidumping.

Dengan informasi asal barang yang terverifikasi, otoritas kepabeanan negara tujuan memiliki dasar untuk memastikan apakah produk benar-benar berasal dari Indonesia atau merupakan barang yang dialihkan melalui negara lain.

Keakuratan Asal Barang Mengurangi Risiko Salah Deklarasi

Risiko lain yang ditemukan adalah mis-declaration of origin atau kesalahan deklarasi asal barang.

Bagi produk kilang seperti MFO, LSFO, dan Green Coke, ketidakakuratan informasi mengenai negara asal dapat menyebabkan pemeriksaan tambahan, penahanan barang, penolakan impor, sanksi administratif, kerugian finansial, hingga gangguan terhadap kelangsungan ekspor.

Peneliti menemukan bahwa Sertifikat Asal membantu mengurangi risiko tersebut melalui informasi yang terverifikasi mengenai identitas perusahaan, lokasi produksi, dan karakteristik produk.

Green Coke mendapat perhatian khusus karena produk tersebut hanya diproduksi di kilang Dumai sehingga aspek asal barang menjadi lebih penting untuk diverifikasi. Sistem E-SKA dan INSW turut mendukung proses verifikasi dan pelacakan tersebut.

Sertifikat Asal Juga Berkaitan dengan Pembayaran Ekspor

Peran lain yang tidak kalah penting adalah hubungan Sertifikat Asal dengan Letter of Credit (L/C).

L/C merupakan instrumen pembiayaan perdagangan yang memungkinkan bank melakukan pembayaran kepada eksportir setelah dokumen yang dipersyaratkan memenuhi ketentuan yang telah disepakati.

Karena Sertifikat Asal dapat menjadi salah satu dokumen yang diperlukan untuk pencairan L/C, kesalahan dalam dokumen tersebut dapat menimbulkan konsekuensi keuangan secara langsung.

Misalnya, kesalahan nama produk, ketidaksesuaian Harmonized System (HS) Code, perbedaan data dengan Bill of Lading atau Invoice, maupun sertifikat yang tidak memperoleh pengesahan dari pihak berwenang dapat menyebabkan bank menolak pencairan pembayaran.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan pembayaran, biaya tambahan, dan potensi kerugian finansial bagi eksportir.

Konsistensi Dokumen Menjadi Faktor Penting

Temuan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas Sertifikat Asal sangat bergantung pada konsistensi informasi di seluruh dokumen ekspor.

Informasi dalam Sertifikat Asal harus sesuai dengan Invoice, Packing List, Bill of Lading, dan PEB. Ketika seluruh informasi konsisten, eksportir memiliki posisi yang lebih kuat dalam menunjukkan kepatuhan kepada otoritas kepabeanan dan memenuhi persyaratan dokumen dalam transaksi internasional.

Karena itu, peneliti menilai pengelolaan Sertifikat Asal bukan hanya pekerjaan administratif. Dokumen tersebut berkaitan langsung dengan kepatuhan ekspor, daya saing, kelancaran kepabeanan, dan pengelolaan risiko keuangan.

Perusahaan Perlu Memperkuat Pengawasan Dokumen

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merekomendasikan PT KPI RU II Dumai untuk meningkatkan akurasi dan pengawasan dalam penerbitan serta verifikasi Sertifikat Asal.

Perusahaan perlu memastikan bahwa informasi dalam Invoice, Packing List, Bill of Lading, dan PEB tetap konsisten dengan Sertifikat Asal. Koordinasi antarbagian yang terlibat dalam proses ekspor juga perlu diperkuat.

Selain itu, evaluasi berkala terhadap pengelolaan Sertifikat Asal dan peningkatan pemahaman mengenai regulasi perdagangan internasional serta prosedur ekspor diperlukan untuk semakin mengurangi risiko tuduhan dumping, kesalahan asal barang, dan masalah pencairan L/C.

Digitalisasi Berpotensi Memperkuat Verifikasi Asal Barang

Penelitian ini juga melihat peluang pengembangan melalui teknologi digital.

Peneliti mencatat bahwa blockchain dan sistem digital lainnya berpotensi meningkatkan keterlacakan dan verifikasi dokumen perdagangan, termasuk Sertifikat Asal. Penelitian selanjutnya dapat menguji penggunaan Sertifikat Asal elektronik atau berbasis blockchain pada sektor minyak dan gas Indonesia.

Hal tersebut dapat dikaji dari sisi kecepatan verifikasi, pengurangan risiko penipuan, serta efektivitas mitigasi risiko ekspor dibandingkan dengan proses berbasis dokumen yang diamati dalam penelitian ini.

Penelitian Memiliki Ruang Lingkup yang Spesifik

Peneliti mengakui bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan karena menggunakan satu studi kasus dengan pendekatan kualitatif, yaitu PT KPI RU II Dumai dan produk kilang yang menjadi objek penelitian.

Karena itu, hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasikan kepada seluruh perusahaan eksportir di Indonesia maupun seluruh sektor komoditas.

Peneliti merekomendasikan penelitian berikutnya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah perusahaan yang lebih besar serta penelitian komparatif pada berbagai perusahaan dan sektor komoditas.

Profil Penulis

  • Dani Nurmaliki - Universitas Islam Indonesia.
  • Rizqi Adhyka Kusumawati - Universitas Islam Indonesia

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Certificate of Origin as an Export Risk Mitigation Instrument: Evidence from PT KPI RU II Dumai
  • Penulis: Dani Nurmaliki dan Rizqi Adhyka Kusumawati
  • Afiliasi: Universitas Islam Indonesia
  • Jurnal: Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS)
  • Volume: 4, No. 8
  • Tahun: 2026
  • Bulan Publikasi: Agustus 2026
  • Halaman: 801–816
  • E-ISSN: 2986-2787
  • DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i8.213
  • URL: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas


Posting Komentar

0 Komentar