Riset yang dilakukan di ruang publik Kota Bandar Lampung ini menunjukkan bahwa ruang publik pintar tidak cukup hanya dilengkapi teknologi digital. Vegetasi, area teduh, furnitur yang dapat menyesuaikan kebutuhan pengguna, akses universal, serta teknologi informasi perlu dirancang sebagai satu kesatuan. Hasilnya penting bagi pengembangan ruang terbuka perkotaan yang tidak hanya modern, tetapi juga nyaman, inklusif, aman, dan mampu menghadapi kondisi lingkungan yang semakin panas.
Vegetasi dan Teduh Lebih Berpengaruh terhadap Kenyamanan
Salah satu temuan paling menonjol adalah perbedaan kondisi mikroklimat antara area terbuka, area teduh, dan area bervegetasi. Pengukuran menunjukkan suhu rata-rata di area terbuka mencapai 31,65°C. Sementara itu, suhu rata-rata di area teduh turun menjadi 29,98°C dan area bervegetasi menjadi 29,43°C.
Dengan demikian, area bervegetasi rata-rata 2,22°C lebih rendah dibandingkan area terbuka. Pada siang hari, perbedaannya bahkan mencapai 3,7°C: area terbuka memiliki suhu rata-rata 34,6°C, sedangkan area teduh 31,8°C dan area bervegetasi 30,9°C.
Perbedaan tersebut juga tercermin dalam pengalaman pengguna. Sebanyak 82 dari 120 responden atau 68,3 persen menyatakan nyaman atau sangat nyaman berada di zona yang memiliki kombinasi vegetasi dan teduh. Di area terbuka, proporsinya hanya 34,2 persen.
Vegetasi memperoleh nilai rata-rata tertinggi di antara lima elemen desain yang dievaluasi, yaitu 4,15. Elemen teduh berada di posisi berikutnya dengan nilai 4,08. Furnitur adaptif memperoleh 3,72, akses universal 3,61, dan teknologi informasi 3,58.
Temuan ini memperlihatkan bahwa konsep “smart public space” tidak harus identik dengan semakin banyak perangkat digital. Dalam konteks ruang publik Bandar Lampung, elemen alami seperti pepohonan dan vegetasi justru memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kenyamanan pengguna.
Pengguna Lebih Lama Bertahan di Area Hijau
Pengamatan terhadap perilaku pengguna memperkuat hasil pengukuran lingkungan. Selama 16 sesi observasi, peneliti mencatat 1.036 aktivitas. Aktivitas duduk dan interaksi sosial menjadi yang paling banyak ditemukan, yaitu 398 kejadian atau 38,4 persen. Aktivitas berjalan tercatat 288 kejadian, sedangkan menunggu atau beristirahat mencapai 192 kejadian.
Sebanyak 61,8 persen aktivitas berlangsung di zona yang memiliki vegetasi, teduh, atau kombinasi keduanya. Pada siang hari, 74,5 persen aktivitas menetap seperti duduk, berbicara, membaca, dan menunggu terkonsentrasi di area teduh dan bervegetasi.
Durasi penggunaan ruang juga berbeda cukup jauh. Pengguna di area terbuka rata-rata hanya berada di ruang tersebut selama 38,6 menit. Durasi meningkat menjadi 64,2 menit di area teduh dan mencapai 71,5 menit di area bervegetasi.
Artinya, kualitas lingkungan fisik dapat memengaruhi bagaimana masyarakat menggunakan ruang publik. Ruang yang lebih sejuk dan terlindungi dari panas cenderung membuat pengguna bertahan lebih lama.
Empat Hubungan Utama Desain Berpusat pada Manusia
Rasjid menggunakan pendekatan campuran yang menggabungkan pengukuran lingkungan, observasi perilaku, kuesioner, dan wawancara. Sebanyak 120 pengguna ruang publik menjadi responden, sementara delapan pemangku kepentingan—terdiri atas pengelola ruang publik, arsitek, perencana kota, petugas pemeliharaan, dan perwakilan pemerintah daerah—menjadi informan. Pengumpulan data dilakukan pada hari kerja dan akhir pekan, dari pagi hingga malam.
Analisis menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara penerapan desain berpusat pada manusia dengan empat aspek utama:
- Kenyamanan termal: koefisien korelasi 0,64.
- Aksesibilitas: koefisien 0,59.
- Persepsi keamanan: koefisien 0,53.
- Durasi penggunaan ruang: koefisien 0,47.
Seluruh hubungan memiliki nilai signifikansi di bawah 0,001.
Namun, peneliti menekankan bahwa korelasi menunjukkan hubungan antarvariabel, bukan hubungan sebab-akibat langsung. Karena itu, hasil statistik diperkuat dengan observasi dan wawancara untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Akses Universal Masih Menjadi Tantangan
Aspek aksesibilitas menunjukkan bahwa keberadaan ramp atau jalur khusus saja belum cukup untuk menciptakan ruang publik yang benar-benar inklusif. Hubungan antara akses universal dan persepsi aksesibilitas mencapai 0,66, salah satu hubungan terkuat dalam penelitian.
Wawancara dengan pemangku kepentingan menemukan sejumlah persoalan, seperti jalur yang tidak tersambung, perubahan ketinggian, permukaan yang tidak seragam, penunjuk arah yang terbatas, serta koneksi yang kurang baik antara pintu masuk, area duduk, dan fasilitas sanitasi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa akses universal harus dipahami sebagai sistem perjalanan yang utuh. Pengguna, termasuk lansia dan orang dengan keterbatasan mobilitas, membutuhkan jalur yang berkesinambungan, aman, mudah dibaca, dan dapat digunakan secara mandiri.
Teknologi Pintar Harus Mengikuti Kebutuhan Pengguna
Teknologi informasi justru memperoleh skor terendah di antara lima elemen desain, yaitu 3,58. Hubungannya dengan persepsi keamanan juga lebih lemah dibandingkan hubungan vegetasi dan teduh dengan kenyamanan termal, dengan koefisien 0,41.
Di lokasi penelitian, teknologi masih banyak digunakan untuk papan informasi dan beberapa titik pencahayaan. Informasi mengenai suhu, kualitas udara, navigasi yang mudah diakses, pelaporan kerusakan, dan kondisi fasilitas belum terintegrasi dalam satu sistem. Penggunaan media informasi digital hanya mencakup 7,6 persen dari seluruh aktivitas yang diamati.
Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi bukan tujuan akhir pembangunan ruang publik pintar. Teknologi akan lebih bermanfaat ketika benar-benar membantu pengguna memahami kondisi lingkungan, menemukan fasilitas, merasa aman, dan melaporkan masalah.
Implikasi bagi Kota yang Lebih Tahan Perubahan Iklim
Menurut Rasjid, ruang publik yang tahan terhadap perubahan iklim perlu dibangun melalui kombinasi elemen ekologis, spasial, sosial, teknologi, dan pemeliharaan. Vegetasi dan teduh perlu diprioritaskan, furnitur adaptif ditempatkan di zona nyaman, akses universal dibuat berkesinambungan, sementara teknologi diarahkan untuk menyediakan informasi lingkungan, navigasi, pencahayaan, dan pelaporan fasilitas.
Pemeliharaan juga menjadi bagian penting. Penelitian menemukan bahwa keterbatasan anggaran, pemeliharaan vegetasi, kerusakan drainase dan furnitur, serta koordinasi antarunit dapat menurunkan kinerja ruang publik. Karena itu, ketahanan iklim tidak berhenti pada tahap desain. Pohon, drainase, permukaan ruang, pencahayaan, furnitur, dan perangkat teknologi perlu dipelihara sebagai satu sistem.
Rasjid juga mengingatkan bahwa hasil penelitian perlu diterapkan secara hati-hati karena studi dilakukan dalam satu konteks perkotaan, menggunakan sampel non-probabilitas, dan memiliki desain potong lintang. Proporsi responden muda juga lebih besar dibandingkan kelompok lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Profil Penulis
Achmad Zoelkarnaen Rasjid merupakan penulis artikel dan berafiliasi dengan Universitas Lampung. Artikel mencantumkan Rasjid sebagai penulis sekaligus corresponding author. Berdasarkan isi artikel, bidang keahliannya dalam publikasi ini berkaitan dengan arsitektur, desain berpusat pada manusia, ruang publik pintar, kenyamanan termal, aksesibilitas, dan ketahanan ruang perkotaan terhadap perubahan iklim.
Sumber Penelitian
Rasjid, Achmad Zoelkarnaen. (2026). “Human Centered Design Adaptation in Smart and Climate Resilient Public Spaces.” Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 8, hlm. 2179–2198. DOI: 10.55927/fjst.v5i8.142. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar