Ruang Pertemuan Budaya dan Iman: Pendekatan Antarbudaya terhadap Ibadah Sasi dalam Merumuskan Strategi Keagamaan Kristen yang Kontekstual dan Responsif

Gambar Ilustration AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Praktik Tradisional Ibadah Sasi di Halmahera Menjadi Model Pendidikan Iman Ekologis dan Pelestarian Alam. Temuan ini diungkapkan dalam riset Mike Makahenggang dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel agama yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana integrasi antara tradisi lokal Sasi dan ibadah Kristiani di Halmahera, Indonesia, menghadirkan model efektif bagi pelestarian lingkungan serta pendidikan keagamaan berbasis konteks lokal.

Relevansi di Tengah Krisis Ekologi Global
Di tengah ancaman kerusakan lingkungan, eksploitasi alam, dan perubahan iklim global, berbagai pihak kini berpaling pada pengetahuan ekologis tradisional untuk menemukan solusi yang berkelanjutan. Di wilayah pedesaan seperti Halmahera, tekanan industri modern termasuk aktivitas pertambangan mengancam ekosistem lokal dan mata pencaharian masyarakat. Model pengelolaan alam tradisional kerap kali tergerus oleh arus globalisasi dan modernisasi yang mengubah cara pandang masyarakat dari pengelola lingkungan menjadi produsen komersial yang mengejar hasil jangka pendek. Menghubungkan adat istiadat setempat dengan struktur keagamaan masyarakat menghadirkan kerangka kerja yang tangguh untuk perlindungan lingkungan, solidaritas sosial, dan tata kelola sumber daya yang beretika.

Metodologi Sederhana dan Komprehensif
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain reflektif-interpretatif berbasis studi interkultural. Mike Makahenggang menganalisis praktik ibadah Sasi melalui tiga sudut pandang utama:

  • Analisis Hermeneutik: Menginterpretasikan simbol, ritual, dan narasi budaya-agama yang menyertai pelaksanaan Sasi.
  • Analisis Fenomenologi: Memahami pengalaman iman dan kehidupan sehari-hari masyarakat Halmahera sebagai sebuah realitas yang hidup.
  • Filsafat Kebudayaan: Membaca implikasi etis, makna spiritual, serta realitas mikroekonomi Sasi di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi.
Sumber data penelitian meliputi tradisi lisan, praktik peribadatan, literatur teologi kontekstual, dan teori pendidikan agama Kristen.
Temuan Utama Penelitian
Integrasi Sasi ke dalam peribadatan gereja mengubah tradisi adat menjadi ruang spiritualitas ekologis dan etika sosial yang nyata.
  • Fungsi Sosio-Ekologis: Sasi menetapkan jeda waktu atau larangan sementara untuk memanen hasil laut dan darat—seperti ikan, kelapa, dan hasil hutan—guna memberikan kesempatan bagi alam untuk memulihkan ekosistemnya.
  • Reinterpretasi Teologis: Masuknya ajaran Kristiani mereinterpretasi tradisi Sasi dari ritual kosmologis leluhur menjadi bentuk rasa syukur dan ketaatan kepada Pencipta, di mana menjaga alam dimaknai sebagai tugas memelihara ciptaan Tuhan.
  • Harmoni Antarumat Beragama: Masyarakat non-Kristiani, termasuk warga Muslim di Halmahera, menghormati Sasi sebagai mekanisme pelestarian alam yang positif. Sebagian keluarga Muslim bahkan berpartisipasi saat masa panen dengan menyerahkan sebagian hasil panen ke gereja untuk didoakan oleh pendeta sebelum dimanfaatkan bagi pelayanan gereja.
  • Media Pembelajaran Iman: Ibadah Sasi menjadi sarana pendidikan agama yang membumi, mengajarkan nilai-nilai kepedulian, disiplin, dan solidaritas sosial secara praktis di luar ruang kelas.
  • Benteng Hadapi Eksploitasi: Nilai etis dalam ibadah Sasi menjadi perlawanan kultural terhadap keserakahan ekonomi dan eksploitasi alam yang dipicu oleh industri pertambangan dan pasar modern.
Implikasi dan Dampak Nyata
Hasil studi ini menunjukkan bagaimana lembaga keagamaan dan pendidik dapat memanfaatkan tradisi lokal untuk mendukung gerakan pelestarian lingkungan global. Bagi para pendidik dan tokoh agama, mengintegrasikan tradisi seperti Sasi ke dalam kurikulum dan khotbah mampu mengubah doktrin abstrak menjadi tindakan nyata pelestarian alam. Bagi pembuat kebijakan dan organisasi lingkungan, penelitian ini membuktikan bahwa program konservasi alam akan lebih dipatuhi dan bertahan lama jika menyatu dengan nilai-nilai spiritual dan adat lokal dibandingkan sekadar menerapkan aturan formal dari atas.

Profil Penulis
Mike Makahenggang adalah akademisi dan peneliti yang menempuh pendidikan di Universitas Kristen Indonesia. Bidang keahliannya mencakup Pendidikan Agama Kristen, teologi kontekstual, studi interkultural, dan filsafat kebudayaan, dengan fokus perhatian pada perjumpaan kearifan lokal, etika lingkungan, dan strategi pendidikan di Indonesia.

Sumber Penelitian
MikeMakahenggang: Culture and Faith Encounter Spaces: An Intercultural Approach to Sasi Worship in Formulating Contextual and Responsive Christian Religious Strategies. Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET). Vol. 5, No. 2, hlm. 267-274.
DOI : https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i2.27
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijcet

Posting Komentar

0 Komentar