Risiko Harga Jadi Tantangan Terbesar Peternakan Ayam Broiler Sistem Kemitraan

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Sulawesi Selatan - Usaha peternakan ayam broiler memiliki peluang ekonomi yang besar karena ayam pedaging memiliki masa pemeliharaan relatif singkat, sekitar 30–35 hari. Namun, di balik perputaran modal yang cepat, peternak juga menghadapi berbagai ketidakpastian, mulai dari penyakit dan kondisi lingkungan hingga perubahan harga jual. Studi Asti Octaviana dan tim dari Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar, menemukan bahwa risiko harga menjadi ancaman paling tinggi bagi usaha ayam broiler dengan sistem kemitraan.

Temuan tersebut berasal dari studi kasus pada Usaha Peternakan Ayam Broiler Risky Astiani di Kelurahan Jawi-Jawi, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. Usaha ini telah berjalan sejak 2019 dan menggunakan pola kemitraan dengan PT Ciomas Adisatwa Unit Sinjai. Artikel penelitian diterima pada 25 Juli 2026 dan diterbitkan dalam Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026. Periode pelaksanaan pengumpulan data penelitian tidak disebutkan secara spesifik dalam artikel.

Kemitraan Membantu Peternak, tetapi Tidak Menghilangkan Risiko

Dalam sistem kemitraan, perusahaan berperan menyediakan berbagai kebutuhan utama seperti DOC atau anak ayam, pakan, obat-obatan dan vaksin, pendampingan teknis, serta pemasaran hasil produksi. Sementara itu, peternak menyediakan kandang, peralatan, tenaga kerja, dan menjalankan kegiatan pemeliharaan sehari-hari.

Pola tersebut dapat membantu peternak mengurangi ketidakpastian pasokan dan pemasaran. Kemitraan juga dapat menjadi solusi bagi peternak yang memiliki keterbatasan modal dan akses pasar. Namun, penelitian menunjukkan adanya sisi lain yang perlu diperhatikan, terutama ketika peternak memiliki posisi tawar yang lemah dalam menentukan harga jual ayam.

Usaha Risky Astiani sendiri mengalami perkembangan dalam pengelolaan kandang. Pada awal beroperasi, peternakan menggunakan sistem open house dengan kapasitas sekitar 3.000 ekor per periode. Sejak 2022, usaha tersebut beralih ke sistem closed house dengan kapasitas sekitar 10.000 ekor. Perubahan ini menjadi bagian dari upaya modernisasi pengelolaan lingkungan kandang dan pengendalian risiko produksi.

Tiga Risiko Utama Peternakan Broiler

Asti Octaviana bersama Reni Fatmasari Syafruddin, Nurdin, Sri Mardiyati, dan Saleh Molla mengidentifikasi tiga kelompok risiko utama, yaitu risiko produksi, risiko harga, dan risiko finansial.

Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus. Data diperoleh dari observasi, wawancara dengan kuesioner terstruktur, dan dokumentasi. Informasi berasal dari empat informan, terdiri atas satu pemilik usaha dan tiga pekerja. Tingkat kemungkinan terjadinya risiko serta dampaknya dinilai menggunakan skala 1–5, kemudian dihitung menggunakan Severity Index dan skor risiko. Hasilnya dipetakan dalam matriks yang membedakan risiko rendah, sedang, dan tinggi.
Hasil analisis menunjukkan:

  • Risiko produksi: kategori sedang, dengan probabilitas 4 dan dampak 4.
  • Risiko harga: kategori tinggi, dengan probabilitas 4 dan dampak 5.
  • Risiko finansial: kategori sedang, dengan probabilitas 3 dan dampak 4.

Risiko produksi dapat berasal dari penyakit, perubahan kualitas pakan atau bibit, keterlambatan pasokan input, serta kondisi lingkungan dan manajemen kandang. Meskipun masuk kategori sedang, risiko tersebut tetap membutuhkan pengawasan karena dapat meningkat apabila tidak dikendalikan secara konsisten.

Sementara itu, risiko finansial berkaitan dengan kemungkinan keterlambatan pembayaran hasil panen, kenaikan biaya produksi, kerugian dalam satu periode pemeliharaan, serta potongan atau biaya tambahan dari pihak mitra. Penelitian menilai pengelolaan keuangan yang terencana dan transparan penting untuk mencegah risiko tersebut berkembang menjadi lebih serius.

Risiko Harga Menjadi Titik Paling Rentan

Temuan paling menonjol adalah tingginya risiko harga. Peneliti mencatat bahwa penurunan harga ayam saat panen, perbedaan antara harga yang ditetapkan mitra dan harapan peternak, serta perubahan harga antarperiode dapat memberikan tekanan besar terhadap pendapatan.

Masalah utamanya adalah harga jual ayam dalam pola kemitraan pada kasus yang dikaji ditentukan oleh perusahaan mitra. Peternak tidak memiliki ruang tawar-menawar yang kuat dalam penetapan harga. Kondisi tersebut membuat pendapatan peternak lebih sulit diprediksi dan dapat memengaruhi keberlanjutan usaha.

“Penguatan peran perusahaan mitra dalam pendampingan teknis serta perbaikan mekanisme penetapan harga menjadi faktor penting dalam menciptakan kemitraan yang lebih seimbang dan berkelanjutan,” demikian inti rekomendasi yang disampaikan Asti Octaviana dan rekan-rekannya dari Universitas Muhammadiyah Makassar.

Monitoring dan Kandang Modern Jadi Strategi Mitigasi

Untuk mengurangi risiko, usaha Risky Astiani menerapkan sejumlah langkah, antara lain pengawasan kondisi ternak setiap hari, pengelolaan kandang yang lebih ketat, penggunaan sistem closed house, koordinasi intensif dengan perusahaan mitra, serta perencanaan keuangan yang lebih baik.

Perusahaan mitra juga dinilai memiliki peran penting melalui penyediaan input produksi, pendampingan teknis, pengendalian penyakit, serta jaminan pemasaran. Namun, penelitian menekankan bahwa dukungan tersebut perlu diikuti mekanisme penetapan harga yang lebih transparan, adil, dan stabil agar hubungan kemitraan tidak hanya menguntungkan dari sisi pasokan dan pemasaran, tetapi juga memberikan kepastian pendapatan bagi peternak.
Bagi dunia peternakan, temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan teknologi kandang saja belum cukup. Pengelolaan risiko juga membutuhkan komunikasi yang kuat antara peternak dan perusahaan, pengawasan produksi secara rutin, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta mekanisme harga yang lebih seimbang.

Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak peternak dan wilayah penelitian, sekaligus membandingkan peternakan dengan sistem kemitraan dan sistem mandiri. Faktor seperti harga pakan, kondisi pasar, biosekuriti, teknologi kandang, dan manajemen keuangan juga dinilai penting untuk dikaji lebih lanjut.

Profil Penulis

Asti Octaviana — Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar. Bidang kajian dalam artikel ini berkaitan dengan risiko usaha dan agribisnis, khususnya peternakan ayam broiler dengan sistem kemitraan.

Penelitian ini juga ditulis bersama Reni Fatmasari Syafruddin, Nurdin, Sri Mardiyati, dan Saleh Molla, yang seluruhnya tercantum berafiliasi dengan Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar. Gelar akademik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam artikel sumber.

Sumber Penelitian

Judul: Risk Analysis of Broiler Chicken Farming with a Partnership Model (Case Study of Risky Astiani's Business in Jawi-Jawi Village, Bulukumpa District, Bulukumba Regency)
Penulis: Asti Octaviana, Reni Fatmasari Syafruddin, Nurdin, Sri Mardiyati, Saleh Molla
Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)
Volume: 5, Nomor 2, 2026, halaman 485–496

Posting Komentar

0 Komentar