Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa yang sedang atau pernah mengikuti mata kuliah kewirausahaan digital. Dari populasi sekitar 460 mahasiswa yang memenuhi kriteria, sebanyak 210 mahasiswa menjadi responden. Artikel tidak mencantumkan periode spesifik pengumpulan data, sehingga waktu pelaksanaan penelitian tidak dapat dipastikan dari sumber. Yang tercatat, artikel diterima untuk publikasi pada Agustus 2026.
Riset ini penting karena perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat dunia bisnis berubah dengan cepat. Mahasiswa tidak lagi cukup hanya memahami teori kewirausahaan atau mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga perlu dapat membaca peluang, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai bisnis.
AI Mengubah Cara Mahasiswa Belajar Berwirausaha
Perkembangan AI membuat pendidikan kewirausahaan perlu bergerak dari pembelajaran konvensional menuju pendekatan yang lebih digital. Dalam konsep Digital Entrepreneurship Education, mahasiswa dapat belajar melalui proyek bisnis digital, pemecahan masalah berbasis teknologi, pemanfaatan platform digital, simulasi bisnis, hingga analisis peluang dengan bantuan AI.
Peneliti menjelaskan bahwa literasi digital dalam konteks kewirausahaan bukan sekadar kemampuan menggunakan komputer atau internet. Literasi digital mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, mengelola, dan memanfaatkan informasi digital untuk kegiatan produktif dan bisnis.
Sementara itu, entrepreneurial cognition atau kognisi kewirausahaan menggambarkan kemampuan berpikir yang diperlukan seorang calon pengusaha. Di dalamnya termasuk kemampuan mengenali peluang bisnis, berpikir kreatif dan inovatif, menilai risiko, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan dalam kondisi yang tidak pasti.
Kedua kemampuan tersebut kemudian dipelajari dalam lingkungan pendidikan kewirausahaan digital untuk melihat apakah dapat meningkatkan keinginan mahasiswa menjadi wirausahawan.
Melibatkan 210 Mahasiswa
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanatori. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala 1–7. Responden merupakan mahasiswa S1 yang sedang mengikuti mata kuliah kewirausahaan digital dan memiliki pengalaman menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran atau aktivitas kewirausahaan. Data kemudian dianalisis menggunakan metode SEM-PLS untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Hasil pengujian menunjukkan seluruh hubungan yang diuji dalam model penelitian memiliki pengaruh positif dan signifikan. Dengan kata lain, semakin baik kemampuan digital dan pola pikir kewirausahaan mahasiswa, semakin kuat pula kecenderungan mereka untuk memilih kewirausahaan sebagai pilihan karier.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Kognisi kewirausahaan menjadi faktor paling kuat dalam memengaruhi niat berwirausaha, dengan koefisien β = 0,510.
- Literasi digital juga berpengaruh positif terhadap niat berwirausaha, dengan β = 0,414.
- Pendidikan kewirausahaan digital berpengaruh positif terhadap niat berwirausaha, dengan β = 0,326.
- Kognisi kewirausahaan berpengaruh kuat terhadap pendidikan kewirausahaan digital, dengan β = 0,482.
- Literasi digital berpengaruh terhadap pendidikan kewirausahaan digital, dengan β = 0,388.
- Pendidikan kewirausahaan digital menjadi penghubung antara literasi digital dan niat berwirausaha dengan efek tidak langsung β = 0,127.
- Pengaruh tidak langsung kognisi kewirausahaan melalui pendidikan kewirausahaan digital mencapai β = 0,157.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kewirausahaan lebih menentukan dibandingkan sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Peneliti menemukan koefisien kognisi kewirausahaan sebesar 0,510, lebih tinggi dibandingkan literasi digital sebesar 0,414 dan pendidikan kewirausahaan digital sebesar 0,326.
Artinya, mahasiswa yang mampu melihat peluang, berpikir kreatif, menghitung risiko, dan mengambil keputusan bisnis cenderung memiliki niat berwirausaha yang lebih kuat.
Teknologi Saja Tidak Cukup
Temuan ini memberikan pesan penting bagi perguruan tinggi. Penguasaan teknologi tidak otomatis membuat mahasiswa ingin menjadi pengusaha. Teknologi perlu dipadukan dengan pola pikir yang mampu mengubah informasi menjadi peluang bisnis.
Penelitian juga menemukan bahwa pendidikan kewirausahaan digital memiliki peran mediasi. Literasi digital dan kognisi kewirausahaan tidak hanya berhubungan langsung dengan niat berwirausaha, tetapi juga dapat diperkuat melalui pengalaman belajar kewirausahaan digital. Efek mediasi kognisi kewirausahaan bahkan lebih besar daripada literasi digital, yakni 0,157 berbanding 0,127.
Bagi perguruan tinggi, hasil ini menunjukkan bahwa kurikulum kewirausahaan perlu dirancang tidak hanya untuk mengajarkan penggunaan teknologi. Pembelajaran juga perlu mendorong kreativitas, kemampuan mengenali peluang, analisis risiko, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan bisnis.
Peneliti menyarankan integrasi teknologi digital dan AI diarahkan untuk menghasilkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kondisi bisnis nyata. Mahasiswa dapat dilatih mengembangkan ide bisnis, menganalisis pasar, memecahkan persoalan bisnis, serta menggunakan AI sebagai alat pendukung pengambilan keputusan.
Temuan tersebut juga memiliki implikasi bagi dunia usaha. Lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan produk, layanan, dan peluang bisnis baru.
Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian memiliki keterbatasan. Studi hanya melibatkan mahasiswa dari satu perguruan tinggi dan menggunakan desain potong lintang, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan ke seluruh mahasiswa atau perguruan tinggi. Penelitian lanjutan disarankan melibatkan sampel yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain seperti efikasi diri kewirausahaan, kesiapan AI, dan kemampuan inovasi digital.
Profil Penulis
Iva Khoiril Mala merupakan dosen Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Malang. Bidang yang terkait dengan rekam akademiknya mencakup pendidikan bisnis, manajemen, dan kewirausahaan. Profil resmi UM mencantumkannya sebagai dosen tetap Departemen Manajemen.
Agung Winarno merupakan profesor pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Malang, dengan bidang keilmuan yang tercantum di laman resmi UM antara lain pendidikan kewirausahaan dan UMKM.
Penelitian ini juga melibatkan Fuad Abdul Fattah, Rachmad Hidayat, Imanda Nashoikha Dinniyah, dan Hidayati Suprihatin. Artikel menempatkan seluruh penulis pada Department of Management, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Malang.
0 Komentar