Riset Petakan Kekuatan dan Kelemahan Model Bisnis UMKM di Kota Dumai

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Dumai -  Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Dumai masih menghadapi tantangan dalam pemasaran, kemitraan, pengelolaan pendapatan, dan pencatatan bisnis. Temuan tersebut muncul dalam penelitian Variza Aditiya, Novelma Lastri, Dwi Hartutik, Andi Desy Musdiana, dan Suprasman dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning yang mengevaluasi model bisnis 20 pelaku UMKM di Kota Dumai menggunakan kerangka Business Model Canvas (BMC). Penelitian yang mengumpulkan data pada 12 Mei–4 Juni 2026 itu menunjukkan bahwa kualitas produk dan hubungan dengan pelanggan menjadi kekuatan utama, sedangkan saluran pemasaran, kemitraan, dan sumber pendapatan masih menjadi titik lemah.

UMKM Dumai Menghadapi Perubahan Pasar

UMKM memiliki peran penting dalam penciptaan lapangan kerja, penguatan aktivitas ekonomi lokal, dan perkembangan kewirausahaan. Namun, perubahan perilaku konsumen, transaksi digital, serta persaingan yang semakin ketat membuat pelaku usaha tidak cukup hanya meningkatkan produksi dan penjualan.

Bisnis juga perlu memiliki model yang mampu menghubungkan pelanggan, produk, pemasaran, sumber daya, aktivitas usaha, mitra, biaya, dan pendapatan.

Kondisi tersebut terlihat di Kota Dumai. Sejumlah persoalan yang dihadapi UMKM antara lain keterbatasan modal, teknologi, literasi digital, kemampuan pemasaran daring, akses pelatihan, serta dukungan kemitraan. Penelitian sebelumnya yang dikutip dalam artikel juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat membantu meningkatkan pendapatan UMKM di Dumai, tetapi penggunaan e-commerce dan teknologi finansial belum selalu memberikan dampak yang signifikan.

Karena itu, para peneliti menggunakan Business Model Canvas untuk melihat kondisi usaha secara lebih menyeluruh.

Business Model Canvas Memetakan Sembilan Elemen Bisnis

Business Model Canvas merupakan kerangka visual yang menggambarkan bagaimana sebuah bisnis menciptakan, menyampaikan, dan memperoleh nilai. Kerangka ini terdiri atas sembilan elemen, yaitu segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran, hubungan pelanggan, sumber pendapatan, sumber daya utama, aktivitas utama, kemitraan utama, dan struktur biaya.

Penelitian Aditiya dan rekan-rekannya menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan 20 pemilik atau pengelola UMKM yang dipilih secara purposif. Para peserta berasal dari bidang kuliner, perdagangan, fesyen, kerajinan, dan jasa.

Data wawancara kemudian dikelompokkan ke dalam sembilan elemen BMC. Peneliti melakukan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan pemetaan BMC. Microsoft Excel digunakan untuk membantu pengelompokan informasi dan penyusunan pemetaan model bisnis.

Dari 20 peserta, delapan bergerak di bidang kuliner, tiga perdagangan ritel, tiga fesyen, tiga kerajinan, dan tiga jasa. Sebanyak 11 pelaku usaha menggunakan penjualan offline sekaligus media sosial, enam masih mengandalkan penjualan offline, sedangkan tiga telah menggunakan offline, media sosial, dan marketplace.

Kualitas Produk dan Hubungan Pelanggan Menjadi Kekuatan

Salah satu temuan paling menonjol adalah kuatnya proposisi nilai yang ditawarkan UMKM.

Sebanyak 16 peserta menekankan kualitas produk, rasa, daya tahan, atau kerapian sebagai nilai utama. Sebanyak 14 peserta menawarkan harga yang dianggap terjangkau, sementara 11 peserta memberikan fleksibilitas berupa variasi produk, pesanan khusus, ukuran, desain, atau waktu pengerjaan.

Namun, keunggulan tersebut belum sepenuhnya dikomunikasikan dalam kegiatan promosi. Hanya enam peserta yang secara konsisten mencantumkan keunggulan produknya dalam materi promosi.

Hubungan dengan pelanggan juga menjadi elemen yang relatif kuat. Sebanyak 15 peserta membangun hubungan personal melalui komunikasi langsung dan WhatsApp. Dua belas peserta memberikan diskon, bonus, atau layanan khusus bagi pelanggan tetap, sedangkan delapan secara aktif meminta umpan balik setelah transaksi.

Hubungan personal tersebut membantu menciptakan pembelian ulang dan promosi dari mulut ke mulut. Namun, pengelolaan pelanggan masih bergantung pada kedekatan langsung pemilik usaha karena sebagian besar belum memiliki basis data pelanggan, pencatatan riwayat transaksi, atau program loyalitas yang terstruktur.

Pemasaran Digital Masih Belum Optimal

Di sisi lain, saluran pemasaran menjadi salah satu kelemahan utama UMKM yang diteliti.

Sebanyak 18 peserta menggunakan WhatsApp untuk komunikasi dan penjualan, sedangkan 14 menggunakan Instagram atau Facebook. Namun, hanya enam yang memanfaatkan marketplace dan hanya empat yang memiliki jadwal promosi digital secara rutin.

Media sosial juga belum sepenuhnya digunakan sebagai bagian dari strategi pemasaran yang terencana. Konten biasanya dibuat ketika ada produk baru atau ketika penjualan mulai menurun. Evaluasi jangkauan konten dan respons pelanggan juga masih terbatas.

Temuan ini menunjukkan bahwa memiliki akun media sosial belum otomatis berarti sebuah UMKM telah menjalankan pemasaran digital secara efektif. Literasi digital, perencanaan konten, konsistensi promosi, dan integrasi antara penjualan online dan offline tetap diperlukan.

Kemitraan dan Sumber Pendapatan Perlu Diperkuat

Kelemahan lain terdapat pada kemitraan utama. Sebanyak 12 peserta memiliki hubungan dengan pemasok, tetapi sebagian besar masih berupa transaksi rutin tanpa perjanjian jangka panjang.

Hanya lima peserta yang bekerja sama dengan reseller atau komunitas lokal, empat pernah mengikuti pelatihan pemerintah, dan dua memperoleh dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan. Kemitraan dengan perusahaan swasta, distributor besar, perguruan tinggi, dan lembaga pendamping masih terbatas.

Sementara itu, sumber pendapatan juga belum beragam. Sebanyak 18 peserta memperoleh pendapatan utama dari penjualan langsung produk atau jasa. Sebanyak 14 UMKM masih bergantung pada satu produk atau satu jenis transaksi sebagai sumber pendapatan utama.

Kondisi tersebut membuat usaha lebih rentan ketika permintaan terhadap produk utama menurun atau biaya bahan baku meningkat. Peneliti melihat diversifikasi produk, paket penjualan, reseller, catering, layanan tambahan, dan penjualan lintas wilayah sebagai beberapa pilihan yang dapat dikembangkan sesuai kapasitas usaha.

Apa yang Perlu Dilakukan UMKM dan Pemerintah?

Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan ketidakseimbangan dalam sembilan elemen BMC. Proposisi nilai dan hubungan pelanggan berada pada kondisi kuat, sedangkan saluran pemasaran, kemitraan utama, dan sumber pendapatan menjadi prioritas perbaikan. Sebanyak 16 peserta membutuhkan penguatan pemasaran digital dan distribusi, 15 membutuhkan jaringan kemitraan yang lebih luas, dan 14 membutuhkan diversifikasi sumber pendapatan.

Menurut temuan Aditiya, Lastri, Hartutik, Musdiana, dan Suprasman, persoalan UMKM di Dumai bukan semata-mata kurangnya akses terhadap teknologi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam keseluruhan model bisnis, mulai dari sumber daya dan aktivitas hingga pemasaran, hubungan pelanggan, dan pendapatan.

Bagi pelaku UMKM, rekomendasinya mencakup penggunaan media sosial dan marketplace secara konsisten, perluasan distribusi, pembangunan basis data pelanggan, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta pencatatan biaya dan pendapatan secara rutin.

Sementara bagi Pemerintah Kota Dumai dan lembaga pendamping, hasil penelitian dapat menjadi dasar untuk memperkuat pelatihan pemasaran digital, pengelolaan keuangan, penyusunan BMC, fasilitasi pembiayaan, serta kemitraan dengan pemasok, perusahaan, perguruan tinggi, dan komunitas bisnis.

Profil Penulis

Variza Aditiya merupakan penulis utama sekaligus corresponding author dalam artikel ini dan berafiliasi dengan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning. Penelitian ini ditulis bersama Novelma Lastri, Dwi Hartutik, Andi Desy Musdiana, dan Suprasman, yang seluruhnya tercantum dengan afiliasi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber lain.

Sumber Penelitian

Judul: Evaluation of the Development of MSMEs in Dumai City using Business Model Canvas
Penulis: Variza Aditiya, Novelma Lastri, Dwi Hartutik, Andi Desy Musdiana, Suprasman
Afiliasi: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 2163–2178


Posting Komentar

0 Komentar