Profitabilitas Jadi Penggerak Utama Pengungkapan CSR Perusahaan Tambang Indonesia


Gambar dibuat oleh AI

MAKASSAR, Formosa News — Kinerja keuangan perusahaan ternyata memiliki kaitan lebih kuat dengan keterbukaan informasi tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dibandingkan likuiditas dan peringkat lingkungan PROPER. Temuan ini terlihat dalam penelitian Samsinar dari Universitas Negeri Makassar, bersama Haliah dan Darmawati dari Universitas Hasanuddin, yang menganalisis perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia selama 2019–2022. Hasilnya menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan CSR, sementara likuiditas dan peringkat PROPER tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.

Kajian yang diterbitkan dalam International Journal of Finance and Business Management pada 2026 ini memberikan gambaran mengenai faktor keuangan dan lingkungan yang berkaitan dengan keterbukaan informasi CSR perusahaan pertambangan. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara kinerja perusahaan dan transparansi keberlanjutan tidak sesederhana hanya melihat kondisi keuangan atau peringkat lingkungan.

Pengungkapan CSR Menjadi Bagian Penting Transparansi Perusahaan

Industri pertambangan memiliki posisi penting dalam perekonomian karena berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi dan lapangan kerja. Pada saat yang sama, aktivitas pertambangan berkaitan erat dengan penggunaan sumber daya alam dan pengelolaan lingkungan.

Kondisi tersebut membuat informasi mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan menjadi semakin penting bagi berbagai pemangku kepentingan, termasuk investor, pemerintah, masyarakat, dan pihak lain yang berkepentingan terhadap aktivitas perusahaan.

Di Indonesia, kewajiban terkait tanggung jawab sosial perusahaan telah memiliki dasar regulasi. Selain itu, pemerintah menjalankan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) sebagai sistem penilaian kinerja lingkungan perusahaan. PROPER menggunakan lima kategori warna, yaitu Emas, Hijau, Biru, Merah, dan Hitam.

Namun, keberadaan aturan dan sistem penilaian tersebut tidak serta-merta membuat seluruh informasi CSR menjadi lebih lengkap. Penelitian yang dirujuk dalam artikel menunjukkan bahwa informasi lingkungan masih menjadi salah satu kategori yang relatif terbatas dalam laporan perusahaan pertambangan.

Mengamati Sembilan Perusahaan Selama Empat Tahun

Samsinar, Haliah, dan Darmawati menggunakan data perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2019–2022.

Dari perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian, diperoleh sembilan perusahaan dengan data lengkap selama empat tahun. Dengan demikian, penelitian tersebut menggunakan 36 observasi perusahaan-tahun. Perusahaan dipilih berdasarkan ketersediaan laporan tahunan, data keuangan, serta peringkat PROPER selama periode pengamatan.

Pengungkapan CSR dihitung berdasarkan 38 indikator GRI 11 untuk sektor pertambangan, yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Sementara itu, profitabilitas diukur menggunakan Return on Assets (ROA), likuiditas menggunakan Current Ratio, dan kinerja lingkungan menggunakan peringkat PROPER.

Data kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS melalui analisis statistik untuk melihat hubungan masing-masing faktor dengan pengungkapan CSR.

Rata-Rata Pengungkapan CSR Baru 47 Persen

Salah satu gambaran penting dari penelitian ini terlihat pada tingkat pengungkapan CSR.

Dari 36 observasi, rata-rata indeks pengungkapan CSR tercatat sekitar 47 persen dari 38 indikator GRI yang digunakan. Artinya, secara rata-rata, perusahaan dalam sampel mengungkapkan kurang dari setengah indikator CSR yang menjadi dasar pengukuran.

Sementara itu, rata-rata ROA perusahaan berada pada 1,06 persen, dengan nilai minimum sekitar -0,05 persen dan maksimum 8,80 persen. Current Ratio memiliki rata-rata 2,01.

Data PROPER menunjukkan kondisi yang cukup terbatas dalam sampel. Nilai PROPER berada pada rentang 1,09 hingga 1,61, yang menunjukkan bahwa seluruh observasi berada pada kategori Merah hingga Biru. Tidak terdapat perusahaan dengan peringkat Hijau atau Emas selama periode pengamatan.

Profitabilitas Berpengaruh Positif terhadap Pengungkapan CSR

Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa profitabilitas merupakan satu-satunya variabel yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan CSR.

ROA memiliki koefisien 0,02 dengan nilai signifikansi 0,04. Dalam model penelitian, kenaikan 1 persen ROA berkaitan dengan peningkatan indeks pengungkapan CSR sebesar 0,02 atau sekitar dua poin persentase, dengan variabel lain dianggap tetap.

Temuan tersebut memberi gambaran bahwa perusahaan dengan kemampuan menghasilkan laba yang lebih baik cenderung memiliki ruang sumber daya yang lebih besar untuk mendukung pelaporan keberlanjutan.

Samsinar, Haliah, dan Darmawati mengaitkan temuan tersebut dengan gagasan bahwa perusahaan yang memiliki kinerja keuangan lebih baik dapat mengalokasikan sumber daya untuk pelaporan keberlanjutan yang lebih komprehensif. Pengungkapan CSR juga dapat menjadi bentuk komunikasi perusahaan kepada pemangku kepentingan mengenai kualitas dan komitmen perusahaan.

Likuiditas Tidak Menjadi Penentu

Berbeda dengan profitabilitas, likuiditas tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.

Current Ratio memiliki koefisien 0,01 dengan nilai signifikansi 0,42. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek tidak secara statistik berkaitan dengan tingkat pengungkapan CSR dalam sampel penelitian.

Penulis menjelaskan bahwa keputusan mengenai pengungkapan CSR lebih bersifat strategis dan berjangka panjang sehingga tidak selalu mengikuti perubahan kemampuan likuiditas jangka pendek. Karakteristik industri pertambangan yang membutuhkan investasi besar juga menjadi salah satu konteks yang perlu diperhatikan.

Peringkat PROPER Belum Menunjukkan Pengaruh Signifikan

Hasil lain yang menarik berasal dari variabel PROPER. Peringkat kinerja lingkungan tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan CSR, dengan nilai signifikansi 0,15.

Penulis mengaitkan hasil ini antara lain dengan terbatasnya variasi peringkat PROPER dalam sampel. Seluruh observasi hanya berada pada kategori Merah hingga Biru sehingga tidak terdapat variasi yang cukup luas untuk membandingkan perusahaan dengan kinerja lingkungan yang lebih tinggi, seperti kategori Hijau dan Emas.

Dengan demikian, hasil tersebut tidak berarti bahwa kinerja lingkungan tidak penting. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa peringkat PROPER dalam sampel dan periode yang dianalisis belum dapat menjelaskan perbedaan tingkat pengungkapan CSR secara signifikan.

Sebagian Besar Faktor Pengungkapan CSR Berada di Luar Model

Penelitian juga menemukan bahwa model yang terdiri atas profitabilitas, likuiditas, dan PROPER hanya menjelaskan sekitar 14 persen variasi pengungkapan CSR. Sementara sekitar 86 persen variasi lainnya berkaitan dengan faktor yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.

Faktor lain yang berpotensi berperan antara lain ukuran perusahaan, leverage, karakteristik dewan perusahaan, dan struktur kepemilikan. Penulis juga mencatat bahwa periode penelitian mencakup masa pandemi COVID-19, yang berpotensi memengaruhi kondisi profitabilitas maupun praktik pengungkapan CSR.

Implikasi bagi Transparansi Perusahaan

Bagi manajemen perusahaan, hasil penelitian memberikan gambaran bahwa kemampuan keuangan dapat menjadi salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas pelaporan CSR.

Bagi regulator, hasil mengenai PROPER menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat keterkaitan antara penilaian kinerja lingkungan dan keterbukaan informasi keberlanjutan. Penulis menyarankan agar sistem penilaian lingkungan dapat dihubungkan dengan mekanisme pelaporan yang mendorong transparansi lebih luas.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Sampel hanya terdiri atas 36 observasi dari sembilan perusahaan, variasi PROPER relatif sempit, dan sejumlah faktor seperti ukuran perusahaan, leverage, karakteristik dewan, serta kepemilikan belum dimasukkan dalam model. Karena itu, hasil penelitian perlu dibaca sesuai konteks perusahaan dan periode yang dianalisis.

Profil Penulis

Samsinar berasal dari Universitas Negeri Makassar. Haliah dan Darmawati berasal dari Universitas Hasanuddin. Ketiganya menulis kajian mengenai pengungkapan CSR, kinerja keuangan, likuiditas, profitabilitas, serta kinerja lingkungan pada sektor pertambangan Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Drivers of CSR Disclosure in Mining Sector: Liquidity, Green Index, or Profitability?
Penulis: Samsinar, Haliah, dan Darmawati
Jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM)
Tahun: 2026
Volume: 3, Nomor 3
Halaman: 257–270
DOI: https://doi.org/10.59890/ijfbm.v4i3.1
Afiliasi: Universitas Negeri Makassar dan Universitas Hasanuddin

Posting Komentar

0 Komentar