Yogyakarta — Penggunaan persona berbasis kecerdasan buatan (AI) di media sosial berpotensi menjadi cara baru bagi perusahaan untuk membangun karakter merek dan mendukung pengenalan merek. Temuan tersebut berasal dari penelitian M Chaidar Ali dan Muhammad Saddam Sofyandi dari Universitas Islam Indonesia yang mengkaji penerapan lima akun persona AI dalam strategi konten media sosial PT Sumur Creative. Penelitian dilakukan selama periode September hingga Desember 2025 dan menemukan bahwa persona AI dapat digunakan sebagai karakter digital yang membawa identitas, gaya komunikasi, serta cerita tertentu secara konsisten. Namun, hasil penelitian belum dapat menyatakan bahwa penggunaan persona AI secara langsung meningkatkan brand awareness.
Perkembangan media sosial dan AI telah mengubah cara perusahaan berkomunikasi dengan audiens. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun identitas, hubungan dengan konsumen, dan pengalaman terhadap sebuah merek. Di saat yang sama, teknologi AI memungkinkan perusahaan menghasilkan konten yang lebih personal serta menciptakan karakter digital yang dapat berkomunikasi dengan gaya menyerupai manusia.
Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi tersebut adalah persona digital atau virtual influencer. Karakter digital dapat memiliki nama, latar belakang, kepribadian, tampilan visual, dan pola komunikasi yang dirancang secara konsisten. Dalam strategi perusahaan, karakter seperti ini tidak harus berfungsi sebagai influencer yang mempromosikan produk secara langsung. Persona dapat menjadi karakter milik perusahaan yang digunakan untuk menyampaikan cerita, memperlihatkan identitas merek, dan membangun komunikasi yang lebih personal dengan audiens.
Konsep tersebut berkaitan dengan brand personality, yaitu karakter manusia yang diasosiasikan dengan sebuah merek. Melalui persona AI, karakter merek yang sebelumnya ditampilkan melalui logo, warna, slogan, atau gaya komunikasi dapat diwujudkan dalam bentuk tokoh digital yang dapat berbicara dan bercerita. Konsistensi karakter, bahasa, visual, dan narasi berpotensi membantu audiens mengenali sebuah identitas merek.
M Chaidar Ali dan Muhammad Saddam Sofyandi melihat persoalan tersebut melalui studi kasus di PT Sumur Creative, sebuah agensi kreatif di Yogyakarta yang bergerak di bidang branding, komunikasi merek, pengelolaan media sosial, serta produksi visual dan audiovisual. Selama masa pengamatan, perusahaan mengembangkan lima akun persona AI internal di Instagram dengan target audiens, karakter, identitas visual, gaya bahasa, dan tema konten yang berbeda. Kelima akun tersebut menghasilkan total 62 konten Feed.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Para peneliti mengamati proses pengembangan akun, mewawancarai tiga informan yang terlibat dalam pengelolaan persona AI, serta memeriksa berbagai dokumen internal. Data pendukung mencakup Character Bible, Moodboard, kalender konten, draf dan revisi caption, arsip unggahan Instagram, referensi visual, catatan evaluasi, serta data Instagram Insight.
Proses pembuatan persona AI dimulai dengan menentukan siapa audiens yang ingin diajak berkomunikasi. Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi karakter berdasarkan usia, latar belakang, minat, hobi, kepribadian, dan perilaku komunikasi. Tim kemudian menyusun Character Bible yang memuat identitas, latar belakang, karakter, minat, gaya berbicara, topik yang dapat dibahas, serta batasan perilaku persona.
Setelah itu, karakter diterjemahkan ke dalam Moodboard visual yang mengatur gaya pakaian, warna, ekspresi, latar, sudut pengambilan gambar, dan suasana visual. Tim juga menentukan Content Pillar untuk mengatur variasi tema serta Tone of Voice untuk menjaga konsistensi gaya bahasa. Empat perangkat tersebut menjadi dasar agar persona tetap terlihat sebagai karakter yang sama dalam berbagai unggahan.
Lima persona yang dibuat memiliki sasaran berbeda. Persona A ditujukan kepada perempuan Gen Z dengan konten kecantikan, gaya hidup, OOTD, dan aktivitas mengunjungi kafe. Persona B menyasar audiens urban melalui konten fesyen, gaya hidup, dan humor. Persona C berfokus pada penggemar konten spiritual seperti tarot, aura, dan pembacaan energi. Persona D mengangkat budaya scene dan kopi, sedangkan Persona E menyasar pencinta hewan melalui konten kucing sehari-hari dan humor.
Selama periode penelitian, Persona B menghasilkan jumlah konten terbanyak dengan 15 unggahan, sedangkan Persona D menghasilkan lima unggahan. Persona A, C, dan E masing-masing menghasilkan 14 unggahan. Secara keseluruhan, kelima akun tersebut menghasilkan 62 konten Feed di Instagram.
Data Instagram menunjukkan respons audiens masih berada pada tahap awal. Total jangkauan (reach) dari lima akun mencapai 459, sedangkan kunjungan profil berjumlah 15. Jumlah likes berada pada kisaran satu hingga tujuh per unggahan dan tidak terdapat komentar pada data yang tersedia. Persona A mencatat reach tertinggi sebesar 251, sementara Persona D memperoleh reach sebesar delapan.
Meski demikian, angka tersebut belum cukup untuk membuktikan peningkatan brand awareness. Penelitian tidak melakukan survei atau wawancara langsung kepada audiens untuk mengukur apakah mereka mampu mengenali dan mengingat PT Sumur Creative melalui karakter tersebut. Karena itu, likes, reach, dan kunjungan profil hanya digunakan sebagai gambaran respons awal, bukan sebagai bukti keberhasilan strategi dalam meningkatkan brand awareness.
Salah satu persoalan utama yang ditemukan adalah hubungan antara persona dan perusahaan belum dikomunikasikan secara jelas dan konsisten. Kondisi ini menimbulkan kemungkinan audiens mengenali karakter digitalnya, tetapi tidak mengetahui perusahaan yang berada di balik karakter tersebut. Peneliti menyarankan agar hubungan tersebut diperkuat melalui bio akun, caption pengenalan, cross-posting, elemen visual, dan narasi yang secara berulang menghubungkan persona dengan perusahaan.
Penelitian juga menemukan bahwa AI belum menggantikan peran manusia dalam proses kreatif. Teknologi digunakan untuk membantu menghasilkan visual, tetapi hasilnya tetap harus dipilih, diperbaiki, dan disesuaikan dengan identitas persona. Tim manusia masih berperan dalam menentukan strategi, melakukan kurasi, menulis caption, mengoreksi hasil AI, dan menjaga kualitas konten.
Dari sisi teknis dan manajemen, konsistensi karakter menjadi tantangan. Hasil visual AI tidak selalu stabil sehingga wajah, ekspresi, atau gaya karakter dapat mengalami perubahan. Pengelolaan lima akun secara bersamaan juga membutuhkan alur kerja yang lebih terdokumentasi. Selain itu, konten masih didominasi Feed statis sehingga peluang interaksi dengan audiens belum dimanfaatkan secara optimal.
Peneliti merekomendasikan penggunaan format yang lebih interaktif, seperti Story, polling, Q&A, Reels, dan kolaborasi antarpersona. Format tersebut dinilai dapat memberikan lebih banyak ruang bagi audiens untuk berinteraksi sehingga karakter digital tidak hanya tampil sebagai gambar, tetapi berkembang menjadi sosok yang memiliki cerita dan pola komunikasi berkelanjutan.
Aspek transparansi penggunaan AI juga menjadi perhatian. PT Sumur Creative belum memiliki kebijakan khusus mengenai pengungkapan penggunaan AI pada saat penelitian dilakukan. Peneliti menilai transparansi dapat dilakukan secara proporsional, misalnya dengan memperkenalkan persona sebagai karakter digital yang dikembangkan oleh PT Sumur Creative melalui bio, Highlights, atau konten pengenalan. Langkah tersebut dapat membantu mencegah kesalahpahaman audiens mengenai status karakter digital tersebut.
Secara keseluruhan, penelitian M Chaidar Ali dan Muhammad Saddam Sofyandi menunjukkan bahwa persona AI memiliki potensi menjadi bentuk personifikasi brand personality. Namun, keberhasilan strategi tersebut tidak hanya bergantung pada kemampuan AI menghasilkan gambar atau konten. Konsistensi karakter, pengelolaan manusia, hubungan yang jelas antara persona dan merek, variasi format konten, transparansi, serta evaluasi jangka panjang menjadi faktor penting agar persona AI dapat memberikan manfaat bagi strategi komunikasi perusahaan.
Para peneliti menekankan bahwa keberadaan lima akun dan 62 unggahan menunjukkan strategi tersebut telah diterapkan, tetapi belum membuktikan peningkatan brand awareness. Penelitian lanjutan perlu mengukur secara langsung kemampuan audiens dalam mengenali, mengingat, mempercayai, dan menghubungkan persona dengan PT Sumur Creative.
Penulis
M Chaidar Ali — Universitas Islam Indonesia.
Muhammad Saddam Sofyandi — Universitas Islam Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Implementation of AI Persona Accounts in Social Media Content Strategies to Support Brand Awareness
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1789–1802.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.139
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar