Perilaku Petani Jadi Kunci Utama Keberhasilan Adopsi Teknologi Pertanian Terpadu Sapi dan Jagung di Muna


Ilustrasi by AI 

Keahlian dan ilmu yang dimiliki oleh seorang penyuluh pertanian ternyata tidak serta-merta membuat para petani langsung mengadopsi teknologi pertanian terpadu. Penelitian terbaru yang terbit pada Juli 2026 mengungkapkan bahwa performa kerja penyuluh dan perubahan perilaku petani menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan adopsi teknologi integrasi sapi potong dan tanaman jagung. Riset ilmiah ini disusun oleh La Ode Muh. Ikhsanuddin, Prof. Hartina Batoa, dan Prof. Weka Widayati dari Universitas Halu Oleo untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan pertanian di Kecamatan Kabangka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Latar Belakang: Mengoptimalkan Potensi Limbah Jagung Melalui Sistem Terpadu

Komoditas jagung kuning merupakan salah satu produk unggulan di Sulawesi Tenggara yang terus mengalami peningatan luas panen. Namun, tingkat produktivitas jagung di wilayah tersebut rata-rata masih berada di bawah angka nasional. Di sisi lain, budidaya jagung menghasilkan limbah biomassa yang sangat melimpah seperti batang, daun, dan tongkol.

Limbah tanaman ini memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi potong melalui teknologi pengolahan fermentasi atau silase. Pembudidayaan sistem integrasi tanaman-ternak (crop-livestock integration system) mampu meningkatkan efisiensi lahan, memperbaiki daur ulang nutrisi, serta memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga petani. Kendati demikian, sebagian besar petani di Kabupaten Muna masih bergantung pada pakan hijauan alami dan belum mengoperasikan teknologi pengolahan limbah pertanian secara maksimal akibat berbagai tantangan penerimaan inovasi.

Metodologi Penelitian: Evaluasi Model Struktural pada Kelompok Tani

Penelitian kuantitatif ini dilaksanakan di Kecamatan Kabangka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, pada rentang bulan Maret hingga Mei 2026. Populasi penelitian mencakup 102 petani yang membudidayakan jagung sekaligus memelihara sapi potong serta tergabung dalam kelompok tani binaan. Sampel penelitian ditetapkan sebanyak 81 petani responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, didukung oleh 8 orang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sebagai responden pendukung.

Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner tertutup berskala Likert (1–5) serta wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, maupun pengaruh simultan antarvariabel penelitian.

Temuan Utama: Perilaku Petani Memediasi Kinerja dan Kompetensi Penyuluh

Analisis data penelitian menghasilkan beberapa poin temuan penting terkait proses penyebaran inovasi teknologi di tingkat petani:

  • Kinerja Penyuluh Berpengaruh Positif dan Signifikan: Kinerja penyuluh dalam menjalankan tugas persiapan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pelaporan terbukti berdampak langsung terhadap peningkatan adopsi teknologi oleh petani (p-value = 0,000).
  • Kompetensi Penyuluh Tidak Berdampak Langsung: Tingkat pengetahuan atau kompetensi teknis penyuluh secara mandiri tidak berpengaruh langsung terhadap keputusan petani untuk mengadopsi teknologi (p-value = 0,579). Petani tidak serta-merta menerapkan teknologi hanya karena penyuluh memiliki keahlian yang tinggi.
  • Perilaku Petani Sebagai Jembatan Utama (Mediator): Perilaku petani—yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan nyata—berperan sebagai variabel mediasi yang sangat krusial. Kompetensi dan kinerja penyuluh baru bisa berdampak optimal apabila mampu mengubah cara pandang dan perilaku petani agar lebih adaptif terhadap inovasi.
  • Kontribusi Simultan Sangat Tinggi: Kombinasi antara kinerja dan kompetensi penyuluh yang dimediasi oleh perubahan perilaku petani memberikan kontribusi sebesar 99,6% ($R^2 = 0,996$) terhadap tingkat adopsi teknologi pertanian terpadu.

Implikasi dan Dampak Penelitian Bagi Kebijakan Pertanian Daerah

Hasil riset ini memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan sektor pertanian dan peternakan di daerah:

  • Fokus pada Pendekatan Perubahan Perilaku: Kegiatan penyuluhan tidak boleh sekadar berfokus pada transfer teori atau ceramah teknis. Penyuluh perlu memperbanyak demonstrasi plot (demplot) di lapangan, pelatihan praktis, dan pendampingan intensif yang menyasar perubahan sikap serta tindakan petani.
  • Peningkatan Sarana dan Fasilitas Penyuluhan: Pemerintah daerah dan dinas terkait diharapkan memperkuat kapasitas operasional penyuluh serta menyediakan fasilitas pendukung agar pendampingan di lapangan dapat berjalan lebih konsisten.
  • Keaktifan Kelompok Tani: Petani didorong untuk lebih aktif berpartisipasi dalam program pelatihan pengolahan pakan dan pupuk organik berbasis limbah jagung guna meningkatkan produktivitas serta pendapatan usaha tani mereka.

Profil Penulis

  • La Ode Muh. Ikhsanuddin, S.P., M.P.: Peneliti utama dan akademisi dari Universitas Halu Oleo yang berfokus pada bidang penyuluhan pertanian, komunikasi pembangunan, dan adopsi inovasi teknologi pedesaan.
  • Prof. Dr. Ir. Hartina Batoa, M.Si.: Guru Besar di Universitas Halu Oleo dengan kepakaran di bidang sosiologi pertanian, kelembagaan petani, dan penyuluhan pertanian.
  • Prof. Dr. Ir. Weka Widayati, M.S.: Guru Besar di Universitas Halu Oleo yang memiliki keahlian dalam bidang pengembangan masyarakat agribisnis dan evaluasi program pembangunan pertanian.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: The Effect of Extension Agent’s Performance and Competition on the Adoption 0f Integrated Cattle and Corn Farming Technology in Kabangka Subdistrict Muna Regency
Nama Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 6, No. 7, hal. 1041–1050)
DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i7.106

Posting Komentar

0 Komentar