Penelitian UIN Malang Menunjukkan Aktivitas Fisik Menjadi Kunci Kualitas Hidup Lansia di Kota Batu

Ilustrasi by AI

Tingkat aktivitas fisik harian terbukti berbanding lurus dengan kualitas hidup para lanjut usia (lansia) yang tinggal di masyarakat. Penelitian terbaru dari akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Batu mengungkap bahwa lansia yang aktif secara fisik memiliki skor kualitas hidup yang lebih tinggi, terutama dalam aspek kesejahteraan psikologis dan kesehatan tubuh.

Riset ini dipimpin oleh Doby Indrawan dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama tim peneliti yang terdiri dari Moh. Faris Syauki, Ayura Islakhah Zain, Aveline Ayu Grahitna, Muhammad Ramadhani Aurino Disastranegara, Syifaul Ummah, serta Emie Prabawaty dari Dinas Kesehatan Kota Batu. Hasil studi ini dipublikasikan secara resmi dalam International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS) volume 4 nomor 3 tahun 2026 berdasarkan pengambilan data lapangan yang dilakukan pada Juni hingga Juli 2026 di wilayah kerja Puskesmas Sisir, Kota Batu, Jawa Timur.

Tantangan Penuaan Populasi dan Peran Layanan Kesehatan Primer

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena laju penuaan populasi yang signifikan di Indonesia. Mengacu pada kerangka kerja global Decade of Healthy Ageing 2021–2030 yang dicanangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sistem pelayanan kesehatan modern dituntut beralih dari model medis konvensional yang berfokus pada pengobatan penyakit menjadi pendekatan promotif dan preventif yang menjaga kemandirian fungsional lansia.

Meskipun aktivitas fisik secara teori diketahui membawa banyak kebugaran, bukti ilmiah berskala lokal mengenai dampaknya terhadap kualitas hidup multidimensi lansia yang memanfaatkan layanan kesehatan primer seperti Puskesmas dan Posyandu Lansia di Indonesia masih sangat terbatas. Sebagian besar studi terdahulu berfokus pada populasi lansia di negara maju atau lansia yang tinggal di panti jompo.

Metodologi Sederhana Berbasis Komunitas

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti merancang studi analitis potong lintang (cross-sectional) dengan merekrut responden melalui teknik purposive sampling dari berbagai Posyandu Lansia di bawah wilayah kerja Puskesmas Sisir. Sebanyak 108 lansia berusia 60 tahun ke atas (dengan rata-rata usia 66,58 tahun) berpartisipasi penuh dalam penelitian ini.

Pengukuran tingkat aktivitas fisik lansia dilakukan menggunakan instrumen standar internasional International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF) yang mengelompokkan aktivitas ke dalam tiga kategori: rendah, sedang, dan tinggi. Sementara itu, pengukuran kualitas hidup menggunakan kuesioner World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF) yang menilai empat dimensi utama, yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan kondisi lingkungan.

Temuan Utama Penelitian

Berdasarkan analisis statistik korelasi rank Spearman, penelitian ini mengonfirmasi beberapa poin penting terkait kebiasaan fisik dan kualitas hidup lansia:

  1. Distribusi Aktivitas Fisik Lansia: Sebanyak 45,4% lansia dalam studi ini tergolong memiliki tingkat aktivitas fisik sedang, 27,8% tergolong tinggi, dan 26,9% berada dalam kategori aktivitas fisik rendah.
  2. Korelasi Positif dengan Kualitas Hidup Komposit: Terdapat hubungan positif yang signifikan secara statistik antara tingkat aktivitas fisik dan skor komposit kualitas hidup ($ρ = 0,318$, $p < 0,001$). Artinya, semakin tinggi kategori aktivitas fisik lansia, semakin baik kualitas hidup keseluruhan yang mereka rasakan.
  3. Dampak Terkuat pada Kesejahteraan Psikologis: Di antara empat domain yang diuji, aktivitas fisik menunjukkan hubungan paling kuat dengan domain psikologis ($ρ = 0,308$, $p = 0,001$), disusul oleh domain kesehatan fisik ($ρ = 0,272$, $p = 0,004$), lingkungan ($ρ = 0,250$, $p = 0,009$), dan hubungan sosial ($ρ = 0,203$, $p = 0,036$).
  4. Profil Skor Kualitas Hidup: Domain hubungan sosial mencatatkan rata-rata skor tertinggi di antara lansia (66,94 dari 100), sedangkan domain kesehatan fisik mencatatkan skor rata-rata terendah (57,61 dari 100). Hal ini mengindikasikan bahwa keterikatan sosial di masyarakat relatif terjaga, tetapi keterbatasan fisik menjadi tantangan utama pada usia lanjut.

Implikasi Kebijakan dan Layanan Kesehatan Masyarakat

Temuan ini memberikan masukan berharga bagi pengambil kebijakan kesehatan publik dan tenaga medis di puskesmas. Program promosi aktivitas fisik yang teratur, aman, dan ramah lansia — seperti jalan santai, senam lansia, latihan keseimbangan, serta kegiatan kebun atau rumah tangga — sangat krusial untuk diintegrasikan ke dalam kegiatan rutin Posyandu Lansia.

Doby Indrawan menekankan pentingnya aktivitas fisik rutin untuk menjaga kesehatan jiwa dan ragawi para lansia di tingkat komunitas. "Aktivitas fisik yang teratur bukan sekadar menjaga fungsi otot dan kebugaran tubuh, melainkan juga memberikan rasa pencapaian, rutinitas, dan kemandirian yang memperkuat kesejahteraan mental serta kepercayaan diri lansia," catat tim peneliti dalam laporan ilmiah tersebut.

Profil Penulis

  • Doby Indrawan, M.D., M.Sc. (Penulis Utama & Korespondensi)

Dosen dan Peneliti di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia. Memiliki kepakaran di bidang Kedokteran Komunitas, Kesehatan Masyarakat, dan Geriatri.

  • Tim Peneliti Pendamping:

Moh. Faris Syauki, Ayura Islakhah Zain, Aveline Ayu Grahitna, Muhammad Ramadhani Aurino Disastranegara, Syifaul Ummah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), serta Emie Prabawaty (Dinas Kesehatan Kota Batu).

Sumber Penelitian Resmi

 


Posting Komentar

0 Komentar