Pendidikan Perempuan Dinilai Jadi Kunci Pembangunan Berkelanjutan Nigeria

Ilustrasi by AI

Nigeria - Pendidikan perempuan menjadi salah satu fondasi penting pembangunan nasional Nigeria karena berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi, kesehatan keluarga, pengentasan kemiskinan, dan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan. Temuan ini disampaikan Oroma Alikor dari Department of Educational Foundations, Rivers State University, dalam artikel yang terbit pada 2026 di Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO). Artikel tersebut menganalisis perkembangan pendidikan perempuan di Nigeria, hambatan kesetaraan gender, serta kaitannya dengan agenda pembangunan berkelanjutan hingga 2030.

Alikor menempatkan pendidikan perempuan bukan sekadar persoalan kesetaraan gender, tetapi sebagai kebutuhan strategis bagi pembangunan negara. Menurut kajiannya, ketika perempuan memperoleh pendidikan berkualitas dan kesempatan yang setara, dampaknya dapat meluas dari ruang kelas ke keluarga, pasar kerja, kesehatan masyarakat, hingga pemerintahan.

Hambatan Pendidikan Perempuan Berakar dari Sejarah

Kesenjangan pendidikan perempuan di Nigeria memiliki akar sejarah yang panjang. Pada masa pra-kolonial, pendidikan berlangsung secara informal dan membekali anak-anak dengan keterampilan, nilai, serta norma kehidupan masyarakat. Namun, pembagian peran berdasarkan gender membuat pendidikan anak perempuan lebih banyak diarahkan pada persiapan menjadi istri dan pengelola rumah tangga.

Situasi semakin kompleks selama periode kolonial. Sekolah misionaris pada masa itu lebih banyak memberikan pendidikan kepada perempuan untuk peran domestik, keagamaan, mengajar, atau keperawatan. Sementara itu, laki-laki memperoleh akses lebih besar ke profesi seperti kedokteran, hukum, dan administrasi.

Setelah Nigeria merdeka pada 1960, berbagai kebijakan pendidikan memperluas kesempatan sekolah bagi perempuan. Namun, menurut Alikor, kebijakan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan hambatan khusus yang dihadapi anak perempuan, termasuk kemiskinan, perkawinan anak, stereotip gender, dan praktik budaya tertentu.

Masalah tersebut masih terlihat pada abad ke-21. Artikel yang dikaji Alikor mengutip data UNESCO 2022 yang menyebut sekitar 10,5 juta anak di Nigeria berada di luar sekolah dan anak perempuan menjadi kelompok mayoritas. Kondisi ini disebut lebih berat di wilayah Nigeria bagian utara, yang menghadapi persoalan perkawinan dini dan hambatan sosial-keagamaan terhadap pendidikan perempuan.

Kesenjangan Meningkat pada Jenjang Pendidikan Lebih Tinggi

Data yang dibahas dalam artikel menunjukkan bahwa kesenjangan gender tidak berhenti pada akses pendidikan dasar. World Bank 2019, sebagaimana dikutip Alikor, mencatat indeks kesetaraan gender untuk pendaftaran sekolah dasar di Nigeria berada pada 0,96. Angka tersebut turun menjadi 0,88 pada jenjang sekolah menengah.

Artikel juga mengutip data UNICEF yang menunjukkan perempuan menyumbang 52,9 persen dari anak yang tidak bersekolah, dibandingkan 42,7 persen laki-laki. Data 2022 yang dikutip dari UNICEF dan World Bank menunjukkan tingkat pendaftaran sekolah dasar perempuan sebesar 70,7 persen, sedangkan laki-laki 74,7 persen. Namun, tingkat perempuan yang masih berada di luar sekolah disebut mencapai 43,6 persen, dibandingkan 37,9 persen pada laki-laki.

Menurut Alikor, sejumlah faktor saling memperkuat kesenjangan tersebut. Kemiskinan membuat sebagian keluarga harus memilih anak mana yang diprioritaskan untuk memperoleh pendidikan. Dalam kondisi tertentu, anak laki-laki lebih diutamakan. Perkawinan dini, norma sosial, keterbatasan fasilitas sekolah, serta persoalan keamanan juga dapat membuat anak perempuan meninggalkan pendidikan.

Di sejumlah wilayah, konflik dan ketidakamanan bahkan menjadi hambatan langsung terhadap keberlangsungan sekolah. Artikel mencatat bahwa serangan terhadap sekolah perempuan dan penculikan siswi di beberapa wilayah Nigeria turut membuat pendidikan anak perempuan semakin rentan.

Pendidikan Perempuan Berdampak pada Ekonomi dan Kesehatan

Alikor menggunakan pendekatan kualitatif dengan menelaah berbagai sumber sekunder, termasuk jurnal akademik, dokumen kebijakan, laporan pemerintah, serta publikasi organisasi internasional seperti UNESCO. Pendekatan historis-analitis digunakan untuk melihat bagaimana faktor budaya, politik, agama, serta kebijakan sejak masa kolonial membentuk akses perempuan terhadap pendidikan.

Dari kajian tersebut, pendidikan perempuan dipandang memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada peningkatan kemampuan membaca dan menulis.

Perempuan yang memperoleh pendidikan berkualitas memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dan memasuki sektor produktif. Alikor menilai peningkatan partisipasi perempuan dalam perekonomian dapat memperkuat produktivitas nasional dan berpotensi mendukung pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Nigeria.

Manfaatnya juga berkaitan dengan kesehatan. Pendidikan memberikan pengetahuan yang dapat membantu perempuan mengambil keputusan mengenai kebersihan, kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, serta pemeriksaan kehamilan. Karena itu, pendidikan perempuan berpotensi memberikan dampak pada kesehatan ibu dan anak.

Dampak lainnya muncul di lingkungan keluarga. Alikor menekankan bahwa ibu yang berpendidikan cenderung memiliki kapasitas lebih besar untuk mendukung pendidikan anak-anaknya. Dengan demikian, manfaat pendidikan dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan membantu memutus siklus kemiskinan antargenerasi.

Pendidikan Juga Membuka Jalan ke Kepemimpinan

Persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ekonomi dan keluarga. Menurut Alikor dari Rivers State University, perempuan yang memperoleh pendidikan lebih baik memiliki kesempatan lebih besar untuk berpartisipasi dalam lembaga publik, pemerintahan, serta proses pengambilan keputusan.

Hal ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 5 tentang kesetaraan gender. Keduanya menekankan pentingnya akses pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi gender serta keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

Dalam artikel tersebut, Alikor juga mengutip posisi UNESCO yang menempatkan pendidikan anak perempuan sebagai investasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Artikel menyebut bahwa setiap tambahan satu tahun pendidikan bagi perempuan dapat meningkatkan pendapatan masa depan sebesar 10–20 persen, serta mengaitkan tingkat literasi perempuan yang tinggi dengan tingkat kematian bayi dan ibu yang lebih rendah.

Karena itu, Alikor menilai pendidikan perempuan perlu diperlakukan sebagai prioritas pembangunan nasional, bukan sekadar isu yang hanya berkaitan dengan perempuan. Ia menekankan bahwa negara tidak dapat mencapai pembangunan berkelanjutan apabila sebagian besar penduduknya belum memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai.

Pemerintah Diminta Memperkuat Kebijakan

Artikel tersebut merekomendasikan pendekatan lintas sektor untuk mengatasi kesenjangan pendidikan perempuan. Pemerintah di berbagai tingkatan didorong memastikan pendidikan dasar gratis dan wajib bagi anak perempuan, memperkuat perlindungan hukum dari diskriminasi berbasis gender, serta mengambil langkah untuk mengurangi perkawinan anak.

Alikor juga merekomendasikan peningkatan kampanye publik untuk mengubah norma budaya yang menghambat pendidikan perempuan, pemberian beasiswa bagi anak perempuan, serta penyediaan program keterampilan bagi perempuan di wilayah pedesaan.

Selain akses pendidikan, keterwakilan perempuan dalam politik dan posisi pengambilan keputusan juga perlu diperkuat. Kementerian Pendidikan Nigeria disarankan membangun sistem akuntabilitas berbasis data untuk memantau kemajuan pencapaian SDG 4 dan SDG 5.

Kajian ini juga membuka ruang bagi penelitian berikutnya. Alikor merekomendasikan studi kuantitatif, metode campuran, penelitian jangka panjang, serta perbandingan antarwilayah Nigeria untuk mengukur secara lebih langsung hubungan pendidikan perempuan dengan pertumbuhan ekonomi, kesehatan, mobilitas sosial, dan partisipasi politik. Peran teknologi dan pendidikan digital dalam memperluas akses belajar perempuan di daerah terpencil juga dinilai perlu dikaji lebih lanjut.

Profil Penulis

Oroma Alikor merupakan penulis artikel dan berasal dari Department of Educational Foundations, Rivers State University, Nigeria. Bidang kajian dalam artikel ini berfokus pada pendidikan perempuan, kesetaraan gender, pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan ekonomi, serta keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Informasi gelar akademik penulis tidak tercantum dalam artikel yang tersedia.

Sumber Penelitian

Judul: Women Education and Sustainable Development: Implications for National Development
Penulis: Oroma Alikor
Afiliasi: Department of Educational Foundations, Rivers State University
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 1
Tahun: 2026
Halaman: 49–60
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i1.5
URL: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo

Posting Komentar

0 Komentar