Pendampingan Guru PAUD Tangerang Dorong Berpikir Komputasional Anak Melalui Lingkungan Bermain

Ilustrasi by AI

Tangerang — Pendampingan terhadap 61 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Tangerang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir komputasional anak dapat mulai dikembangkan melalui lingkungan bermain yang dirancang secara sengaja, tanpa harus bergantung pada komputer atau perangkat digital. Program yang dilaksanakan Irma Yuliantina, Iik Zakiah Darajat, Mansyur Ridho, Marijah, Sri Lestari, dan Yosephine Wijayanti dari Universitas Panca Sakti Bekasi berlangsung pada April hingga Juni 2026 melalui workshop, praktik, dan pendampingan guru. Hasilnya memperlihatkan peningkatan kemampuan guru dalam menata lingkungan bermain yang mendorong anak mengeksplorasi, mengenali pola, mengelompokkan benda, menyusun urutan, dan memecahkan masalah melalui aktivitas bermain yang bermakna.

Program tersebut dilaksanakan bersama guru-guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) dan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Kegiatan berangkat dari persoalan yang ditemukan di lapangan, yakni lingkungan bermain di sebagian satuan PAUD masih lebih banyak difungsikan sebagai tempat menyediakan alat permainan, belum secara khusus dirancang untuk mendorong kemampuan anak dalam berpikir logis, sistematis, mengenali pola, dan menyelesaikan masalah.

Persoalan lain muncul dari pemahaman guru mengenai istilah berpikir komputasional. Sebagian besar peserta sebelumnya mengaitkan kemampuan tersebut dengan komputer, gawai, robotik, atau kegiatan coding. Padahal, dalam pendidikan anak usia dini, kemampuan berpikir komputasional juga dapat dibangun melalui permainan sehari-hari yang melibatkan anak dalam proses mengelompokkan, mencari pola, mengurutkan langkah, mengambil keputusan, dan menemukan solusi.

Para penulis memperkenalkan pendekatan yang menempatkan lingkungan bermain sebagai bagian penting dari proses belajar anak. Guru tidak hanya menyediakan mainan, tetapi mengatur area, bahan, dan aktivitas agar anak memiliki kesempatan untuk mencoba, mengamati, membandingkan, mengelompokkan, membuat urutan, serta menyelesaikan persoalan secara mandiri. Lingkungan bermain bahkan diposisikan sebagai “the third teacher” yang dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih alami dan berpusat pada anak.

Pelaksanaan program berlangsung melalui lima tahapan, mulai dari analisis kebutuhan, penyusunan materi pelatihan, workshop, praktik penataan lingkungan bermain, hingga pendampingan implementasi dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut. Sebanyak 61 guru dari berbagai lembaga PAUD di Kecamatan Tangerang mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Dalam workshop, guru memperoleh pemahaman mengenai konsep berpikir komputasional dan cara menerapkannya dalam aktivitas bermain. Materi mencakup dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma, tetapi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Guru kemudian bekerja dalam kelompok untuk merancang area bermain, menggunakan alat dan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, serta mempraktikkan aktivitas yang dapat memancing rasa ingin tahu dan kemampuan memecahkan masalah anak.

Pendampingan setelah workshop menjadi bagian penting dari program. Guru menerapkan hasil pelatihan di satuan PAUD masing-masing dan mendapatkan kesempatan untuk melakukan refleksi serta memperoleh umpan balik. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa sebagian besar guru mulai mampu menata lingkungan bermain dengan lebih terencana dan memberikan ruang lebih besar bagi anak untuk melakukan eksplorasi, percobaan, dan pemecahan masalah secara mandiri.
Perubahan juga terlihat pada cara guru memandang peran mereka dalam pembelajaran. Guru mulai menggunakan kelompok kecil dan sistem giliran bermain, menata area untuk mendukung eksplorasi mandiri, menggunakan balok serta bahan alam untuk menstimulasi pola dan penyusunan langkah, serta menggunakan pertanyaan terbuka untuk mendukung proses berpikir anak. Pendekatan tersebut mendorong perubahan dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang lebih berpusat pada anak.

Menurut temuan program, manfaat utama pendampingan tidak hanya terlihat pada bertambahnya pengetahuan guru, tetapi juga pada perubahan praktik pembelajaran. Guru mulai memahami bahwa berpikir komputasional bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Keterampilan tersebut dapat dikembangkan melalui permainan yang sederhana dan tersedia dalam kehidupan sehari-hari, selama lingkungan dan aktivitasnya dirancang untuk memberi kesempatan kepada anak berpikir, mencoba, dan mencari solusi.

Setiap peserta juga menyusun Rencana Tindak Lanjut sebagai komitmen untuk menerapkan hasil program di satuan PAUD masing-masing. Rencana tersebut mencakup penataan kembali lingkungan bermain, pengembangan area yang memberi kesempatan eksplorasi dan pemecahan masalah, penyediaan bahan untuk mengenali pola dan mengelompokkan objek, serta refleksi berkala terhadap penerapan berpikir komputasional dalam kegiatan bermain anak.

Bagi dunia pendidikan, temuan ini memperlihatkan bahwa pengembangan keterampilan abad ke-21 pada anak usia dini tidak selalu membutuhkan fasilitas teknologi yang mahal. Lingkungan bermain yang terencana, bahan sederhana, serta guru yang mampu memberikan stimulasi melalui pertanyaan dan aktivitas yang tepat dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan berpikir anak. Namun, para penulis juga merekomendasikan pendampingan lanjutan, pembentukan komunitas praktik guru, serta dukungan sekolah agar penerapan berpikir komputasional tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, melainkan menjadi bagian dari budaya pembelajaran PAUD.

Penulis

Irma Yuliantina — Prodi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Pascasarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.

Iik Zakiah Darajat — Prodi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Pascasarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.

Mansyur Ridho — Prodi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Pascasarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.

Marijah — Prodi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Pascasarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.

Sri Lestari — Prodi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Pascasarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.

Yosephine Wijayanti — Prodi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Pascasarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.

Sumber Penelitian

“Pendampingan Guru PAUD dalam Menata Lingkungan Main untuk Menstimulasi Kemampuan Berpikir Komputasional Anak Usia Dini”, Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5, No. 4, Agustus 2026, halaman 341–356.

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i4.17

Jurnal: https://journaljpmf.my.id/index.php/jpmf

Posting Komentar

0 Komentar