Tangerang — Pelatihan identifikasi pemborosan menggunakan pendekatan Lean Manufacturing membantu CV Green Zone Herbal meningkatkan efisiensi produksi dan kemampuan karyawan dalam menemukan berbagai aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan oleh Muhammad Kholil, Hasbullah, Hendri, Selamet Riadi, dan Adizty Suparno dari Universitas Mercu Buana di CV Green Zone Herbal, Cikupa, Tangerang. Program tersebut menunjukkan bahwa pelatihan Lean Manufacturing dapat meningkatkan pemahaman karyawan sekaligus membantu perusahaan mengurangi waktu produksi dan tingkat cacat produk.
CV Green Zone Herbal merupakan usaha yang bergerak dalam produksi dan jasa profesional produk herbal dengan mengedepankan bahan alami untuk kebutuhan kesehatan dan kebugaran. Perusahaan yang berada di Desa Pangadegan, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, ini memproduksi berbagai produk herbal, termasuk suplemen, minuman herbal, dan kapsul berbahan ekstrak tumbuhan. Perusahaan juga menyediakan layanan produksi dengan merek milik pelanggan serta program wisata edukasi herbal.
Di balik aktivitas produksinya, perusahaan masih menghadapi sejumlah persoalan operasional. Penataan material yang belum terstruktur, alur kerja yang kurang efisien, serta standar kerja yang belum konsisten menjadi beberapa kendala yang dapat menghambat produktivitas. Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan pekerjaan ulang, waktu tunggu, penggunaan material yang tidak efisien, hingga meningkatnya waktu kerja.
Para peneliti dari Universitas Mercu Buana melihat bahwa salah satu kebutuhan penting perusahaan adalah kemampuan operator produksi dalam mengenali pemborosan sejak awal. Lean Manufacturing menjadi pendekatan yang digunakan karena berfokus pada pengurangan pemborosan sekaligus peningkatan efisiensi, produktivitas, kualitas, dan pengendalian biaya. Namun, penerapan pendekatan tersebut membutuhkan pemahaman karyawan agar mereka mampu menemukan dan mengurangi pemborosan dalam pekerjaan sehari-hari.
Program pengabdian ini menetapkan beberapa sasaran utama, yaitu meningkatkan pengetahuan karyawan sebesar 30 persen, mengurangi waktu produksi atau lead time sebesar 20 persen, serta menekan tingkat cacat produk hingga di bawah 2 persen. Target tersebut diarahkan untuk memperbaiki sistem produksi sekaligus memperkuat pengelolaan operasional CV Green Zone Herbal.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap. Tim terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan dan mengumpulkan data awal melalui pengamatan langsung di area produksi. Data yang diamati mencakup alur produksi, waktu siklus, tingkat cacat, persediaan, dan tata letak. Enam karyawan juga mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mengenai pemborosan dan dasar-dasar manajemen. Bersama pemilik perusahaan, tim kemudian membentuk Lean Team yang terdiri atas dua karyawan sebagai mitra internal selama proses pendampingan.
Tahap pelatihan mencakup workshop mengenai tujuh jenis pemborosan atau 7 Wastes dan Lean Manufacturing untuk usaha kecil dan menengah. Materi disampaikan melalui kombinasi teori, diskusi, video, foto, dan contoh yang diambil dari kondisi produksi perusahaan sendiri. Setelah itu, tim bersama Lean Team melakukan pengamatan langsung atau Gemba Walk pada setiap stasiun produksi. Setiap pemborosan yang ditemukan dicatat menggunakan lembar identifikasi pemborosan, dengan perhatian utama pada waktu tunggu, gerakan yang tidak perlu, dan cacat produk.
Hasil pengamatan menemukan lima jenis pemborosan dominan dalam lini produksi CV Green Zone Herbal. Pemborosan berupa waktu tunggu mencapai 25 persen, gerakan yang tidak perlu 20 persen, cacat produk 15 persen, produksi berlebihan 10 persen, dan persediaan 10 persen. Temuan tersebut memberikan gambaran konkret mengenai bagian-bagian proses produksi yang masih membutuhkan perbaikan.
Tim dan pihak perusahaan kemudian langsung menerapkan sejumlah perbaikan sederhana melalui pendekatan Kaizen. Salah satunya adalah memindahkan rak bahan baku agar lebih dekat dengan area perebusan sehingga waktu dan gerakan operator dapat dikurangi. Perusahaan juga membuat papan jadwal produksi harian untuk membantu mengurangi produksi berlebihan dan waktu tunggu. Langkah-langkah tersebut dipilih karena dapat diterapkan dengan biaya relatif rendah dan berhubungan langsung dengan aktivitas karyawan sehari-hari.
Perbaikan juga dilakukan pada sistem manajemen produksi. Tim bersama pemilik dan Lean Team berhasil menyusun tiga Standar Operasional Prosedur atau SOP untuk proses perebusan bahan baku, pencampuran dan pengendalian kualitas, serta pengemasan. SOP tersebut memuat tujuan, ruang lingkup, tahapan pekerjaan, penanggung jawab, dan standar kualitas, kemudian dicetak dan ditempatkan di area produksi agar mudah digunakan oleh karyawan.
Dalam pengelolaan persediaan, perusahaan mulai menggunakan template Excel sederhana dan pencatatan manual untuk mencatat barang masuk, keluar, dan stok. Karyawan dilatih melakukan pencatatan setiap hari. Pemilik perusahaan juga mendapatkan pendampingan dalam menyusun jadwal produksi mingguan berdasarkan pesanan sehingga risiko kekurangan bahan baku dapat ditekan.
Evaluasi menunjukkan hasil yang cukup kuat. Pengetahuan karyawan meningkat 41,3 persen, melampaui target awal sebesar 30 persen. Waktu produksi atau lead time berhasil berkurang 18,3 persen, mendekati target penurunan 20 persen. Tingkat cacat produk juga turun dari 4,1 persen menjadi 2,3 persen setelah penerapan SOP pengendalian kualitas. Dari enam indikator utama, lima indikator berhasil mencapai target, sementara satu indikator berada dekat dengan target.
Penurunan lead time tersebut dicapai terutama melalui dua tindakan Lean. Pertama, pemindahan rak bahan baku lebih dekat dengan stasiun perebusan untuk mengurangi gerakan yang tidak diperlukan. Kedua, penerapan papan jadwal produksi harian untuk mengurangi waktu tunggu dan produksi berlebihan. Meskipun hasilnya sedikit berada di bawah target 20 persen, peneliti menilai peningkatan tersebut tetap signifikan bagi usaha yang memiliki keterbatasan modal.
Selain memberikan dampak pada produksi, program tersebut juga memperkuat kemampuan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan perbaikan. Pemilik dan Lean Team menyusun rencana aksi selama enam bulan yang berisi target bulanan, penanggung jawab, dan sumber daya yang diperlukan. Pemilik perusahaan berkomitmen menyediakan waktu setiap Jumat untuk evaluasi internal, sementara Lean Team diarahkan menjadi pelatih internal bagi karyawan baru.
Kegiatan ini juga melibatkan kolaborasi internasional antara Universitas Mercu Buana dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Dosen dari Malaysia memberikan contoh penerapan Lean Manufacturing pada usaha herbal di Malaysia yang digunakan sebagai pembanding bagi CV Green Zone Herbal. Kolaborasi tersebut memberikan tambahan perspektif mengenai penerapan efisiensi produksi pada sektor usaha kecil dan menengah.
Menurut hasil kegiatan, penerapan Lean Manufacturing tidak harus selalu dimulai dengan investasi besar. Perbaikan sederhana seperti mengatur ulang posisi bahan baku, membuat jadwal produksi, menerapkan SOP, dan melakukan pencatatan persediaan secara rutin dapat memberikan dampak terhadap efisiensi operasional. Bagi pelaku UMKM, kemampuan karyawan dalam mengenali pemborosan menjadi salah satu modal penting untuk membangun proses produksi yang lebih teratur dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, program pelatihan identifikasi pemborosan di CV Green Zone Herbal berhasil meningkatkan pengetahuan karyawan sebesar 41,3 persen, menurunkan lead time sebesar 18,3 persen, serta menurunkan tingkat cacat produk dari 4,1 persen menjadi 2,3 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan Lean Manufacturing dapat menjadi salah satu pendekatan praktis bagi UMKM untuk memperbaiki efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing usaha.
Penulis
Muhammad Kholil — Universitas Mercu Buana.
Hasbullah — Universitas Mercu Buana.
Hendri — Universitas Mercu Buana.
Selamet Riadi — Universitas Mercu Buana.
Adizty Suparno — Universitas Mercu Buana.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Waste Identification Training to Improve Production Efficiency using Lean Manufacturing At CV. Green Zone Herbal Cikupa Tangerang
Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5, No. 4, Agustus 2026, halaman 391–400.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i4.16
Link Jurnal: https://journaljpmf.my.id/index.php/jpmf/
0 Komentar