Motivasi Kerja dan Lingkungan Fisik Mendukung Kinerja Pegawai Non-ASN di Kantor Desa

Ilustrasi by AI

Bandung — Motivasi kerja dan kondisi lingkungan kerja fisik menjadi dua faktor yang saling berkaitan dalam mendukung kinerja pegawai non-ASN di Kantor Desa XYZ. Temuan tersebut berasal dari penelitian Ilham Ramdan Pauzi dan Mochamad Vrans Romi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 ini melibatkan tujuh pegawai non-ASN dan menunjukkan bahwa motivasi kerja pegawai masih belum sepenuhnya optimal, sementara lingkungan kerja fisik sudah cukup mendukung aktivitas kerja meskipun masih membutuhkan sejumlah perbaikan. Secara keseluruhan, kinerja pegawai tergolong cukup baik, tetapi aspek inisiatif dan efektivitas penyelesaian pekerjaan masih perlu ditingkatkan.

Pegawai pemerintah desa memiliki peran penting karena berhadapan langsung dengan masyarakat dalam berbagai urusan administrasi, pelayanan publik, dan pelaksanaan program pemerintahan. Kualitas pelayanan yang diterima masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh aturan dan sistem kerja, tetapi juga oleh kemampuan pegawai menyelesaikan tugas secara tepat waktu, bertanggung jawab, dan sesuai prosedur. Karena itu, kondisi sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan desa menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sejumlah persoalan yang ditemukan di Kantor Desa XYZ. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan pegawai, peneliti menemukan adanya penurunan produktivitas, kurangnya inisiatif dalam menyelesaikan pekerjaan, serta kecenderungan sebagian pegawai menjalankan tugas sebatas memenuhi kewajiban. Data evaluasi kinerja pegawai tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 17 pegawai di kantor tersebut, terdapat empat orang atau 23,5 persen yang masuk kategori kinerja kurang dan dua orang atau 11,8 persen berada dalam kategori cukup. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang untuk meningkatkan kinerja pegawai.

Motivasi kerja menjadi salah satu perhatian utama dalam penelitian. Motivasi dapat berasal dari dalam maupun luar diri pegawai dan memengaruhi semangat, rasa tanggung jawab, serta dedikasi dalam bekerja. Dalam penelitian ini, motivasi dilihat melalui aspek pencapaian, pengakuan, tanggung jawab, kesejahteraan pegawai, fasilitas dan kondisi kerja, serta hubungan kerja dan komunikasi. Kerangka tersebut mengacu pada konsep dua faktor Herzberg yang membedakan faktor pendorong dari dalam diri dengan faktor lingkungan yang mendukung pekerjaan.

Kondisi lingkungan fisik kantor juga menjadi perhatian. Lingkungan kerja fisik mencakup kenyamanan ruangan, penataan fasilitas, pencahayaan, sirkulasi udara, kebersihan, serta ketersediaan peralatan yang membantu pekerjaan. Hasil observasi menunjukkan bahwa area pelayanan di Kantor Desa XYZ belum dilengkapi pendingin udara seperti kipas atau AC. Ketika aktivitas pelayanan meningkat, suhu ruangan menjadi kurang nyaman. Beberapa ruangan juga memiliki sirkulasi udara yang belum optimal karena keterbatasan ventilasi. Selain itu, terdapat bagian dinding yang lembap dan sejumlah fasilitas seperti komputer, printer, serta koneksi internet yang terkadang mengalami gangguan teknis.

Untuk melihat kondisi tersebut secara lebih mendalam, Pauzi dan Romi menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian melibatkan tujuh pegawai non-ASN sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya, data dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan informasi diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik untuk memastikan hasil penelitian sesuai dengan kondisi di lapangan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa motivasi kerja pegawai belum sepenuhnya kuat. Dari sisi pencapaian, pegawai memiliki keinginan untuk menghasilkan pekerjaan yang baik, tetapi belum memiliki target atau tujuan kerja tertentu yang mendorong mereka untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Pegawai cenderung merasa berhasil ketika tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik sesuai tanggung jawab, sehingga fokus mereka masih lebih banyak pada penyelesaian tugas dibandingkan upaya untuk meningkatkan pencapaian kerja.

Aspek pengakuan juga masih menjadi perhatian. Atasan memberikan apresiasi melalui pujian secara langsung dan perhatian terhadap pekerjaan pegawai. Namun, belum terdapat bentuk penghargaan khusus bagi pegawai yang menunjukkan kinerja lebih baik. Kondisi tersebut membuat dorongan untuk meningkatkan prestasi kerja belum berkembang secara maksimal. Padahal, penghargaan terhadap hasil kerja dapat membuat pegawai merasa bahwa kontribusinya dihargai dan pada akhirnya mendorong motivasi.

Di sisi lain, rasa tanggung jawab pegawai sudah terlihat cukup baik. Pegawai memahami bahwa tugas yang diberikan merupakan bagian dari tanggung jawab mereka dan berusaha menyelesaikannya sesuai aturan. Ketika menghadapi pekerjaan yang membutuhkan keputusan tertentu, mereka tetap melakukan koordinasi dengan atasan untuk memastikan tindakan yang diambil sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.

Kesejahteraan pegawai dinilai sudah membantu mendukung pekerjaan, tetapi perhatian terhadap kondisi kesejahteraan masih dirasakan belum maksimal. Pegawai menyatakan bahwa ketika merasa diperhatikan oleh organisasi, mereka menjadi lebih nyaman dan termotivasi. Sebaliknya, aspek kesejahteraan yang kurang diperhatikan dapat mengurangi semangat untuk memberikan kontribusi lebih besar.

Hubungan antarpegawai tergolong cukup baik. Kerja sama dan sikap saling membantu terlihat dalam penyelesaian tugas. Namun, komunikasi masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam penyampaian informasi pekerjaan. Peneliti menilai komunikasi yang lebih efektif diperlukan agar seluruh pegawai memiliki pemahaman yang sama mengenai tugas dan tanggung jawab mereka.

Sementara itu, kondisi lingkungan kerja fisik secara umum dinilai sudah cukup mendukung aktivitas pegawai. Ruang kerja, meja, kursi, komputer, dan fasilitas administrasi tersedia dan digunakan dalam kegiatan pelayanan. Namun, beberapa bagian ruangan masih lembap, penataan fasilitas belum sepenuhnya optimal karena keterbatasan ruang, dan kenyamanan menurun ketika aktivitas pelayanan meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan kerja sudah memberikan dukungan dasar, tetapi masih memerlukan pemeliharaan dan perbaikan.

Sirkulasi udara menjadi salah satu persoalan yang cukup menonjol. Empat informan yang diwawancarai menyatakan bahwa kondisi udara di dalam ruangan menjadi kurang nyaman ketika aktivitas kantor meningkat karena belum tersedia fasilitas seperti kipas atau AC. Kebersihan kantor secara umum dinilai cukup baik, tetapi beberapa bagian tetap membutuhkan pemeliharaan agar kenyamanan lingkungan kerja dapat dipertahankan.

Ketersediaan fasilitas kerja seperti komputer, printer, internet, dan perlengkapan administrasi juga telah membantu pegawai menyelesaikan pekerjaan. Namun, sejumlah peralatan terkadang mengalami gangguan teknis sehingga pekerjaan menjadi kurang efisien. Ketika fasilitas bermasalah, pegawai harus menunggu perbaikan atau mencari alternatif lain agar pelayanan tetap berjalan.

Dari sisi kinerja, pegawai non-ASN di Kantor Desa XYZ secara umum menunjukkan hasil yang cukup baik. Mereka mampu menyelesaikan tugas sesuai tanggung jawab, menjaga kualitas pekerjaan, mengikuti tenggat waktu, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun, peneliti masih menemukan kebutuhan untuk meningkatkan inisiatif, kemandirian, efektivitas penyelesaian pekerjaan, dan pengelolaan waktu. Beberapa pegawai masih membutuhkan arahan dalam menyelesaikan tugas tertentu.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja dan lingkungan fisik memiliki keterkaitan dalam mendukung kinerja pegawai. Motivasi yang diperkuat oleh pencapaian, penghargaan, dan tanggung jawab, ditambah lingkungan kerja yang nyaman serta fasilitas yang memadai, dapat membantu pegawai bekerja secara lebih efektif. Karena itu, peningkatan kinerja tidak hanya membutuhkan dorongan dari dalam diri pegawai, tetapi juga dukungan organisasi dan kondisi tempat kerja yang memadai.

Bagi Kantor Desa XYZ, peneliti merekomendasikan peningkatan penghargaan terhadap prestasi pegawai, perhatian terhadap kesejahteraan, serta dukungan terhadap inisiatif dan kemandirian dalam bekerja. Fasilitas kerja juga perlu dievaluasi secara berkala, terutama peralatan yang sering mengalami gangguan. Penataan fasilitas, kebersihan kantor, kenyamanan ruangan, serta komunikasi dan koordinasi antarpegawai juga perlu terus diperbaiki. Evaluasi kinerja secara berkala dinilai penting untuk meningkatkan kualitas, ketepatan waktu, dan hasil pekerjaan.

Ilham Ramdan Pauzi dan Mochamad Vrans Romi menyimpulkan bahwa motivasi kerja pegawai non-ASN di Kantor Desa XYZ masih belum optimal, sementara lingkungan kerja fisik sudah cukup mendukung tetapi membutuhkan beberapa perbaikan. Kinerja pegawai secara keseluruhan tergolong cukup baik, namun peningkatan motivasi, kenyamanan lingkungan kerja, inisiatif, kemandirian, dan efektivitas pekerjaan tetap diperlukan agar kualitas pelayanan kepada masyarakat dapat semakin baik.

Profil Penulis

Ilham Ramdan Pauzi — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Mochamad Vrans Romi — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of Employees' Perceptions of Work Motivation and the Physical Work Environment in Improving the Performance of Non-Civil Service Employees at the XYZ Village Office

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3425–3440.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.270

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar