![]() |
| Illustration by Ai |
Startup kreatif di Kota Makassar ternyata mampu bertahan dan berkembang tanpa bergantung pada investor maupun pinjaman bank. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Dwiyanti, Hasisa Haruna, dan Mildayanti dari Universitas Negeri Makassar (UNM), yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR). Studi tersebut mengungkap bagaimana pelaku startup kreatif memanfaatkan strategi bootstrapping atau pembiayaan mandiri untuk menghadapi keterbatasan modal sekaligus menjaga keberlanjutan usaha mereka.
Temuan ini menjadi penting karena
akses terhadap modal masih menjadi tantangan utama bagi banyak startup di
daerah. Berbeda dengan kota-kota besar yang memiliki jaringan investor dan
modal ventura yang kuat, pelaku usaha kreatif di wilayah berkembang seperti
Makassar sering kali harus mengandalkan sumber daya yang mereka miliki sendiri
untuk mempertahankan operasional bisnis.
Menurut para peneliti,
keterbatasan akses pembiayaan formal tidak selalu menjadi hambatan yang
menghambat pertumbuhan usaha. Sebaliknya, kondisi tersebut justru mendorong
para pendiri startup untuk mengembangkan strategi keuangan yang lebih kreatif,
efisien, dan mandiri. Mereka memanfaatkan keterampilan pribadi, jaringan
sosial, teknologi digital, hingga kerja sama komunitas sebagai pengganti modal
eksternal.
Mengandalkan Modal Internal
dan Jaringan Sosial
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman
nyata para pelaku startup kreatif di Makassar. Tim peneliti mewawancarai
pendiri dari lima startup kreatif yang bergerak di bidang media digital, desain,
fesyen, dan kerajinan kuliner. Seluruh startup yang menjadi objek penelitian
telah beroperasi minimal dua tahun dan menjalankan usaha tanpa dukungan modal
ventura maupun pinjaman bank. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam,
observasi lapangan, serta analisis dokumen bisnis selama Januari hingga April
2026.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar startup kreatif mengandalkan
tiga strategi utama:
- Meminimalkan biaya operasional.
- Berbagi sumber daya dengan pelaku usaha lain.
- Memanfaatkan jaringan sosial dan komunitas sebagai
sumber dukungan bisnis.
Selain itu, banyak startup
menggunakan model pertumbuhan yang dibiayai langsung oleh pelanggan melalui
sistem pembayaran di muka atau uang muka proyek. Strategi ini membantu menjaga
arus kas tetap stabil tanpa perlu mencari pendanaan eksternal.
Berbagi Fasilitas untuk
Menekan Pengeluaran
Salah satu temuan menarik dalam
penelitian ini adalah tingginya praktik berbagi sumber daya di kalangan startup
kreatif Makassar. Para pelaku usaha menggunakan ruang kerja bersama, berbagi
peralatan produksi, hingga melakukan promosi kolaboratif untuk menekan biaya
operasional. Strategi ini memungkinkan startup mengakses fasilitas yang lebih
baik tanpa harus mengeluarkan investasi besar.
Menurut Dwiyanti dan tim peneliti
dari Universitas Negeri Makassar, praktik tersebut bukan sekadar langkah
penghematan. Kolaborasi menjadi strategi bisnis yang membantu startup
memperoleh efisiensi sekaligus memperluas peluang pasar. Dengan berbagi sumber
daya, perusahaan rintisan dapat tetap kompetitif meskipun memiliki keterbatasan
modal.
Teknologi Digital Menjadi
Senjata Utama
Penelitian juga menemukan bahwa
teknologi digital memainkan peran penting dalam keberhasilan strategi
bootstrapping. Startup memanfaatkan perangkat lunak berbasis cloud, sistem
pembayaran digital, dan berbagai platform daring untuk mengurangi biaya operasional
sekaligus mempercepat pengelolaan keuangan.
Dengan dukungan teknologi
tersebut, startup dapat memantau arus kas secara real-time tanpa harus
membentuk divisi keuangan yang besar. Penggunaan teknologi juga mempercepat
proses pembayaran pelanggan dan mengurangi biaya administrasi. Kondisi ini
membantu usaha kecil mempertahankan likuiditas di tengah persaingan yang
semakin ketat.
Kepercayaan Komunitas Menjadi
Modal Berharga
Selain teknologi, faktor sosial
juga menjadi kekuatan utama startup kreatif di Makassar. Penelitian menemukan
bahwa hubungan kepercayaan dalam komunitas bisnis lokal berfungsi sebagai
“modal tidak terlihat” yang sangat berharga. Jaringan sosial memungkinkan
pelaku usaha memperoleh kredit informal, pinjaman tanpa bunga dari rekan
bisnis, hingga fleksibilitas pembayaran dari pemasok.
Dalam banyak kasus, dukungan
komunitas mampu menggantikan peran lembaga keuangan formal. Jaringan tersebut
menjadi semacam jaring pengaman yang membantu startup bertahan ketika
menghadapi tekanan arus kas atau penurunan pendapatan.
Menjaga Kemandirian Bisnis
Alasan lain mengapa banyak
startup memilih strategi bootstrapping adalah keinginan untuk mempertahankan
kendali penuh atas perusahaan. Para pendiri startup kreatif cenderung
menghindari investor eksternal karena khawatir kehilangan kebebasan dalam
menentukan arah bisnis dan mengembangkan ide kreatif mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa
pendanaan mandiri memungkinkan pelaku usaha menjaga otonomi manajerial serta
melindungi identitas kreatif yang menjadi keunggulan utama bisnis mereka. Bagi
banyak startup, kebebasan mengambil keputusan dianggap lebih berharga daripada
tambahan modal dari pihak luar.
Ada Risiko yang Harus Dihadapi
Meski efektif untuk bertahan,
strategi bootstrapping bukan tanpa risiko. Penelitian menemukan bahwa
penghematan yang terlalu ekstrem dapat menghambat ekspansi usaha, membatasi
investasi pada inovasi, dan meningkatkan risiko kelelahan bagi pendiri startup.
Ketergantungan pada sumber daya internal juga dapat memperlambat pertumbuhan
ketika bisnis membutuhkan modal besar untuk memasuki pasar yang lebih luas.
Karena itu, para peneliti menilai
bahwa startup perlu menemukan keseimbangan antara efisiensi biaya dan investasi
untuk pertumbuhan jangka panjang. Strategi bootstrapping efektif sebagai
fondasi awal, tetapi tetap perlu didukung perencanaan keuangan yang matang agar
tidak menjadi penghambat perkembangan bisnis.
Implikasi bagi Kebijakan dan
Ekosistem Startup
Penelitian ini memberikan
sejumlah rekomendasi bagi pemerintah, lembaga keuangan, dan pengelola inkubator
bisnis. Para peneliti menilai bahwa sistem penilaian kredit tradisional yang
mengandalkan aset fisik sering kali tidak sesuai dengan karakter startup
kreatif yang berbasis ide dan inovasi.
Dwiyanti dan tim merekomendasikan
pengembangan instrumen pendanaan alternatif seperti dana mikro berbasis
ekuitas, program penjaminan kredit berbasis komunitas, serta skema pembiayaan
yang mempertimbangkan kekayaan intelektual sebagai aset usaha. Selain itu,
inkubator bisnis di daerah perlu menyediakan pelatihan pengelolaan arus kas,
strategi pertumbuhan berbasis pelanggan, dan optimalisasi teknologi digital.
Secara keseluruhan, penelitian
ini menunjukkan bahwa kreativitas, jaringan sosial, dan pemanfaatan teknologi
dapat menjadi pengganti efektif bagi modal tradisional. Di tengah keterbatasan
akses pendanaan formal, startup kreatif Makassar membuktikan bahwa
keberlangsungan usaha tidak selalu ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi
juga oleh kemampuan mengelola sumber daya yang tersedia secara cerdas dan
berkelanjutan.
Profil Penulis
Dwiyanti merupakan
akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar yang berfokus pada
bidang manajemen keuangan, kewirausahaan, dan pengembangan startup. Penelitian
ini ditulis bersama Hasisa Haruna dan Mildayanti, yang juga
berasal dari Universitas Negeri Makassar. Ketiganya memiliki perhatian pada isu
pengelolaan keuangan usaha, inovasi bisnis, dan penguatan ekosistem
kewirausahaan di daerah berkembang.
Sumber Penelitian
Dwiyanti, Haruna, H., &
Mildayanti. (2026). “Analysis of Bootstrapping-Based Financial Management
Strategies in Creative Startups in Makassar City.” International Journal
of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4 No. 7,
halaman 657–672. DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i7.275.

0 Komentar