Ilustrasi by AI 

Sebuah penelitian ilmiah terbaru mengungkapkan dinamika unik di balik kebiasaan finansial generasi muda. Penelitian yang dilakukan oleh Aanisah Eka Wahyu R dan Haryati Setyorini dari Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya pada tahun 2026 ini menemukan bahwa pemahaman finansial yang tinggi saja tidak menjamin seorang mahasiswa rajin menabung. Sebaliknya, perilaku pembelian impulsif serta status sosial ekonomi orang tua justru menjadi faktor pendorong utama yang signifikan dalam membentuk kebiasaan menabung. Temuan ini menjadi sangat relevan di tengah tren penurunan angka menabung nasional di Indonesia yang berada di level rendah.

Latar Belakang: Krisis Tabungan di Tengah Era Digital

Kebiasaan menabung merupakan pilar utama kestabilan ekonomi individu. Sebagai negara berkembang dengan populasi muda yang besar, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam membangun budaya hemat di kalangan mahasiswa. Berada di era digital yang serba cepat, mahasiswa mendapatkan kemudahan akses informasi dan transaksi. Namun, kemudahan ini sering kali diiringi dengan godaan belanja impulsif dan minimnya kontrol diri dalam mengelola uang saku bulanan.

Kondisi tersebut diperparah oleh data nasional dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Indeks Menabung Konsumen (CSI). Sepanjang tahun 2025, rata-rata CSI masyarakat Indonesia hanya berada di angka 80,6—masih di bawah angka standar 100. Penurunan drastis grafik menabung konsisten terjadi pada bulan-bulan dengan beban pengeluaran pendidikan yang tinggi, seperti Mei dan September. Penurunan rasio menabung nasional ini menegaskan pentingnya memahami faktor psikologis dan lingkungan yang memengaruhi keputusan keuangan para mahasiswa.

Metodologi Penelitian Sederhana

Untuk membedah fenomena ini, peneliti mengumpulkan data primer dari 175 mahasiswa aktif di berbagai perguruan tinggi swasta di Surabaya. Para responden mencakup mahasiswa dari Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Universitas Surabaya, Universitas Narotama, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Dr. Soetomo, dan Universitas Dinamika yang memiliki uang saku serta pengalaman menabung.

Penelitian kuantitatif ini menggunakan instrumen kuesioner daring dengan skala ukur 1 sampai 5. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode statistik Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS. Metode ini digunakan untuk menguji hubungan langsung antar variabel serta peran kontrol diri sebagai penghubung.

Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini membuahkan beberapa hasil analisis yang mematahkan asumsi awam mengenai perilaku keuangan mahasiswa:

  • Literasi Keuangan Tidak Berdampak Langsung: Tingkat pengetahuan finansial yang tinggi (financial literacy) ternyata tidak secara otomatis membuat mahasiswa rajin menabung. Sebanyak 96% responden memiliki pemahaman finansial yang sangat baik, tetapi pengetahuan tersebut sering berhenti sebagai teori dan tidak dipraktikkan dalam kehidupan nyata.
  • Pembelian Impulsif Justru Mendorong Menabung: Secara mengejutkan, perilaku belanja spontan (impulsive buying) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung. Ketika mahasiswa menyadari bahwa mereka telah melakukan belanja tak terencana, timbul kesadaran psikologis untuk segera menyisihkan uang guna menyeimbangkan kembali kondisi keuangan mereka.
  • Status Sosial Ekonomi Orang Tua Sangat Menentukan: Latar belakang ekonomi keluarga memberikan dorongan positif yang nyata. Orang tua dengan tingkat pendidikan, pendapatan, dan kepemilikan aset yang memadai cenderung memberikan uang saku yang cukup serta teladan manajemen keuangan yang baik bagi anak-anak mereka.
  • Kontrol Diri Sebagai Jembatan Pemahaman: Kontrol diri (self-control) terbukti mampu memediasi pengaruh literasi keuangan terhadap kebiasaan menabung. Tanpa adanya kedisiplinan dan kontrol diri, pengetahuan keuangan yang dimiliki mahasiswa tidak akan membuahkan tindakan menabung yang konsisten.

Implikasi dan Dampak Bagi Masyarakat dan Pendidikan

Temuan dari Universitas Hayam Wuruk Perbanas ini memberikan wawasan baru bagi para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan. Pendidikan finansial di perguruan tinggi tidak boleh hanya berfokus pada hafalan teori akuntansi atau manajemen uang. Kurikulum harus diarahkan pada pelatihan psikologi keuangan dan penguatan kontrol diri agar mahasiswa mampu mengendalikan dorongan konsumtif.

Bagi kalangan mahasiswa, hasil studi ini menyarankan pentingnya langsung menyisihkan alokasi tabungan di awal saat menerima uang saku, bukan menyisakan sisa belanja. Pemisahan antara kebutuhan utama dan keinginan jangka pendek menjadi kunci utama agar kestabilan finansial masa depan dapat terwujud secara berkelanjutan.

"Pengetahuan keuangan saja tidak cukup untuk membentuk kebiasaan menabung tanpa didukung oleh kontrol diri yang kuat dalam mengendalikan dorongan belanja harian," ungkap Haryati Setyorini, salah satu peneliti dari Universitas Hayam Wuruk Perbanas.

Profil Peneliti

  • Aanisah Eka Wahyu R: Peneliti dan akademisi di bidang manajemen keuangan dari Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Surabaya.
  • Haryati Setyorini: Dosen dan peneliti senior di Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Surabaya, dengan kepakaran di bidang perilaku konsumen dan manajemen keuangan pribadi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: The Influence of Financial Literacy, Impulsive Buying, and Parents' Socioeconomic Status on Saving Behavior Through Self-Control as a Mediation Variable
Nama Jurnal: Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/mudima.v6i7.104