Mahasiswa yang Menggunakan AI Secara Reflektif Cenderung Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis Lebih Baik

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Penggunaan kecerdasan buatan generatif (GenAI) seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity berkaitan dengan perkembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, tetapi manfaatnya sangat bergantung pada cara teknologi tersebut digunakan. Temuan ini dilaporkan Agustina dari Politeknik Arutala Johana Hendarto Jakarta bersama Dwi Otik Kurniawati dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Boy Lumoindong dari Universitas Klabat, dan Irwan Suanto dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dalam artikel yang terbit di Formosa Journal of Science and Technology pada 2026. Penelitian yang berlangsung selama satu semester melibatkan 186 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Jawa Timur dan menemukan bahwa penggunaan GenAI secara reflektif dan evaluatif berkaitan dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis.

AI Tidak Otomatis Membuat Mahasiswa Lebih Kritis

Kemunculan GenAI telah mengubah cara mahasiswa mencari informasi, mengembangkan ide, menulis, dan menyelesaikan tugas akademik. Teknologi seperti ChatGPT dapat memberikan penjelasan dengan cepat, menawarkan alternatif jawaban, memberikan umpan balik, hingga membantu pembelajaran yang lebih personal.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko. Mahasiswa dapat menerima jawaban AI tanpa memeriksa sumber, menguji kebenaran informasi, atau mengevaluasi argumentasi yang diberikan. Karena itu, penggunaan AI tidak secara otomatis membuat kemampuan berpikir kritis meningkat atau menurun.

Para peneliti membedakan dua pola penggunaan GenAI. Pertama, AI dapat berfungsi sebagai cognitive scaffold, yakni alat bantu yang mendukung proses berpikir mahasiswa melalui perbandingan perspektif, pemeriksaan argumen, pencarian kelemahan jawaban, dan pemberian umpan balik.

Kedua, AI dapat mendorong cognitive offloading, ketika mahasiswa menyerahkan proses mengingat, menganalisis, mengevaluasi, atau mengambil keputusan kepada teknologi. Dalam kondisi ini, AI berpotensi menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilakukan mahasiswa sendiri.

Perbedaan hasil penelitian sebelumnya juga menjadi alasan pentingnya studi ini. Sebagian penelitian menemukan hubungan positif antara penggunaan AI dan berpikir kritis, sedangkan penelitian lain menunjukkan bahwa ketergantungan pada jawaban instan dapat mengurangi kemandirian berpikir. Penelitian sebelumnya di Indonesia juga banyak menggunakan pendekatan satu kali pengukuran sehingga belum menggambarkan perubahan kemampuan mahasiswa sepanjang periode pembelajaran.

Mengikuti 186 Mahasiswa Selama Satu Semester

Agustina dan tim menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional longitudinal. Artinya, para mahasiswa tidak diberi perlakuan eksperimen khusus, tetapi diamati selama satu semester untuk melihat perubahan kemampuan berpikir kritis dan kaitannya dengan pola penggunaan GenAI.

Populasi penelitian terdiri dari 1.238 mahasiswa aktif dari tiga perguruan tinggi di Jawa Timur pada tahun akademik 2025/2026. Dari 210 mahasiswa yang mengikuti pengukuran awal, sebanyak 186 mahasiswa menyelesaikan seluruh tahapan penelitian dan menjadi sampel akhir. Mereka berasal dari semester 2 hingga 8 dan telah menggunakan GenAI untuk keperluan akademik.

Pengumpulan data dilakukan selama 16 minggu. Pada awal semester, mahasiswa mengisi kuesioner penggunaan GenAI dan menjalani tes berpikir kritis. Pengukuran kembali dilakukan pada minggu ke-15 dan ke-16.

Kuesioner penggunaan GenAI mengukur tiga aspek: intensitas penggunaan, penggunaan reflektif dan evaluatif, serta penggunaan pasif dan ketergantungan. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis dinilai melalui tes berbasis kasus yang mengukur interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan kemampuan menjelaskan.

Data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji paired t-test, korelasi Pearson, dan regresi linear. Karena desain penelitian bersifat korelasional, hasilnya menunjukkan hubungan antarvariabel dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Skor Berpikir Kritis Naik 6,5 Poin

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa selama satu semester. Rata-rata skor meningkat dari 68,4 pada awal semester menjadi 74,9 pada akhir semester, atau bertambah 6,5 poin.

Peningkatan terbesar terjadi pada kemampuan evaluasi, yang naik 7,6 poin, disusul kemampuan analisis yang meningkat 7,1 poin. Sebanyak 137 mahasiswa atau 73,7 persen mengalami peningkatan skor berpikir kritis. Sebanyak 28 mahasiswa menunjukkan perubahan yang relatif stabil, sedangkan 21 mahasiswa mengalami penurunan skor.
Uji statistik menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik. Nilai p berada di bawah 0,001, dengan ukuran efek Cohen's d sebesar 0,79. Meski demikian, para peneliti tidak menyatakan bahwa peningkatan tersebut sepenuhnya disebabkan oleh penggunaan GenAI karena penelitian tidak menggunakan kelompok kontrol.

Cara Menggunakan AI Lebih Penting daripada Seberapa Sering AI Digunakan

Temuan yang paling penting muncul ketika peneliti melihat pola penggunaan GenAI.

Secara keseluruhan, penggunaan GenAI memiliki hubungan positif dengan perkembangan berpikir kritis mahasiswa dengan nilai korelasi r = 0,34. Namun, hubungan tersebut menjadi lebih kuat ketika mahasiswa menggunakan AI secara reflektif dan evaluatif, dengan r = 0,46; p < 0,001.

Sebaliknya, penggunaan AI secara pasif dan ketergantungan menunjukkan hubungan negatif dengan perkembangan berpikir kritis, yaitu r = −0,30; p < 0,001. Intensitas penggunaan saja hanya memiliki hubungan positif yang lemah, yaitu r = 0,19.

Analisis regresi memperkuat pola tersebut. Penggunaan reflektif dan evaluatif menjadi prediktor positif paling kuat dengan β = 0,38 dan p < 0,001. Sebaliknya, penggunaan pasif dan ketergantungan menjadi prediktor negatif dengan β = −0,22 dan p = 0,001. Setelah pola penggunaan diperhitungkan, intensitas penggunaan GenAI tidak lagi memberikan kontribusi yang signifikan.

Dengan kata lain, mahasiswa yang sering menggunakan AI belum tentu memiliki perkembangan berpikir kritis yang lebih baik. Yang lebih penting adalah apa yang mereka lakukan terhadap jawaban AI.

Mahasiswa yang memeriksa sumber, membandingkan berbagai argumen, mengevaluasi keluaran AI, menemukan kesalahan, dan kemudian memperbaiki jawabannya menunjukkan perkembangan berpikir kritis yang lebih baik.

Agustina dan rekan-rekannya menggambarkan GenAI sebagai alat yang dapat menjadi pendukung proses berpikir ketika mahasiswa tetap memegang kendali intelektual. Sebaliknya, ketika mahasiswa hanya menerima atau menyalin jawaban AI, proses analisis dan evaluasi dapat dialihkan kepada teknologi.

Implikasi bagi Kampus dan Dosen

Temuan ini memberikan pesan penting bagi perguruan tinggi. Persoalannya bukan sekadar apakah mahasiswa boleh menggunakan AI, tetapi bagaimana AI diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.

Para peneliti menyarankan agar dosen merancang tugas yang mengharuskan mahasiswa memeriksa sumber, mengidentifikasi kesalahan AI, membandingkan jawaban, menjelaskan proses revisi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.

Model penilaian juga dapat diarahkan pada proses, bukan hanya produk akhir. Tugas berbasis kasus, kritik terhadap sumber, presentasi, dokumentasi prompt, dan jurnal reflektif dapat digunakan untuk memastikan mahasiswa tetap terlibat dalam proses berpikir.

Bagi mahasiswa, pesan penelitian ini juga sederhana: gunakan AI sebagai partner berpikir, bukan sebagai pengganti berpikir. Jawaban AI tetap perlu diperiksa karena dapat mengandung kesalahan, bias, atau informasi yang tidak sesuai dengan sumber terpercaya.

Penelitian Masih Memiliki Keterbatasan

Para peneliti menekankan bahwa hasil tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasannya. Studi menggunakan desain korelasional tanpa kelompok kontrol sehingga peningkatan kemampuan berpikir kritis tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan penggunaan GenAI.

Selain itu, data mengenai pola penggunaan AI diperoleh melalui kuesioner sehingga masih memiliki kemungkinan bias persepsi. Pengukuran hanya dilakukan dua kali dan responden berasal dari tiga perguruan tinggi di Jawa Timur.

Penelitian berikutnya disarankan menggunakan desain eksperimental atau kuasi-eksperimental, periode pengamatan lebih panjang, lebih banyak titik pengukuran, serta data riwayat prompt dan keluaran AI. Peneliti juga menyarankan pengujian faktor seperti literasi AI, metakognisi, motivasi, kepercayaan terhadap AI, dan cognitive offloading.

Profil Penulis

Agustina — Politeknik Arutala Johana Hendarto Jakarta.
Dwi Otik KurniawatiUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Boy LumoindongUniversitas Klabat.
Irwan SuantoUniversitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Artikel yang mereka tulis berfokus pada hubungan penggunaan kecerdasan buatan generatif dengan perkembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam pendidikan tinggi.

Sumber Penelitian

Agustina, Dwi Otik Kurniawati, Boy Lumoindong, dan Irwan Suanto. “Exploring the Relationship Between Generative Artificial Intelligence Usage and the Development of University Students’ Critical Thinking in Higher Education.” Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 8, 2026, hlm. 2247–2264. DOI: 10.55927/fjst.v5i8.145.

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar