Temuan ini penting karena pembelajaran fisika tidak hanya menuntut siswa menghafal rumus, tetapi juga memahami fenomena, menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, serta mengambil keputusan berdasarkan alasan yang logis. Para peneliti melihat perlunya aktivitas pembelajaran yang dapat menghubungkan konsep fisika dengan lingkungan dan pengalaman yang sudah dikenal siswa.
Menghubungkan Fisika dengan Kearifan Lokal
Mabbulo Sipeppa merupakan filosofi budaya Sulawesi Selatan yang menggambarkan persatuan seperti beberapa batang bambu yang disatukan menjadi satu kesatuan kuat. Filosofi ini mengandung nilai solidaritas, kerja sama, tanggung jawab bersama, dialog dan pemecahan masalah secara kolaboratif.
Nilai tersebut kemudian diterapkan dalam aktivitas kokurikuler fisika. Siswa tidak hanya mengerjakan soal, tetapi diarahkan untuk mengamati fenomena, mendiskusikan bukti, mempertimbangkan berbagai pendapat, melakukan penyelidikan dan menyusun kesimpulan secara bersama-sama.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep deep learning yang menekankan pengalaman belajar yang bermakna, reflektif dan menyenangkan. Dalam pembelajaran seperti ini, siswa didorong untuk memahami konsep secara lebih mendalam dan menghubungkannya dengan kondisi di lingkungan sekitar, bukan sekadar menghafal materi.
LKPD Dikembangkan Melalui Lima Tahap
Kurniawan, Martawijaya dan Khaeruddin menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan dengan menggabungkan prosedur Borg dan Gall serta model ADDIE. Pengembangan dilakukan melalui lima tahap, yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi.
Pada tahap analisis, peneliti mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran melalui wawancara dengan guru, analisis kurikulum dan karakteristik siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan kokurikuler fisika belum dilaksanakan secara sistematis, sementara bahan ajar yang mengintegrasikan kearifan lokal juga belum tersedia. Siswa masih menghadapi kesulitan dalam mengolah informasi, menganalisis argumen dan merefleksikan proses berpikir mereka.
Selanjutnya, LKPD dirancang dengan memasukkan prinsip deep learning dan nilai-nilai Mabbulo Sipeppa. Materi kemudian dikembangkan dan divalidasi oleh ahli sebelum diterapkan kepada siswa kelas XI UPT SMA Negeri 2 Bone. Peneliti membandingkan kemampuan siswa sebelum dan setelah penggunaan LKPD, serta meminta tanggapan guru dan siswa mengenai kemudahan penggunaannya.
Hasil Validasi Menunjukkan LKPD Sangat Layak
Hasil evaluasi menunjukkan kualitas LKPD yang tinggi. Koefisien validitas Gregory mencapai 1,00, jauh di atas batas minimum 0,75 yang digunakan dalam penelitian.
Penilaian dari ahli media menghasilkan tingkat kelayakan rata-rata 85,42 persen, sedangkan ahli materi memberikan nilai rata-rata 85,83 persen. Kedua hasil tersebut masuk dalam kategori sangat layak.
Dari sisi penggunaan, guru memberikan respons positif dengan rata-rata 97 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa LKPD dinilai mudah diterapkan dan dapat menyesuaikan dengan kondisi pembelajaran.
Respons siswa bahkan mencapai rata-rata 98 persen. Aspek konteks budaya memperoleh respons tinggi, menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal membuat kegiatan belajar terasa lebih relevan bagi siswa.
Penalaran Kritis dan Kompetensi Siswa Meningkat
Penggunaan LKPD juga diikuti peningkatan sejumlah kompetensi siswa. Nilai kemampuan berpikir kritis meningkat dari 63 pada pretest menjadi 86 pada posttest. Kemampuan kolaborasi meningkat dari 77 menjadi 93, kreativitas dari 66 menjadi 85, kemandirian dari 63 menjadi 90, dan dimensi kewarganegaraan dari 72 menjadi 95.
Analisis N-gain menunjukkan dimensi kewarganegaraan memperoleh peningkatan tertinggi dengan skor 0,82, yang masuk kategori tinggi. Sementara itu, penalaran kritis memperoleh skor 0,61, kreativitas 0,56, kolaborasi 0,69 dan kemandirian 0,72.
Secara keseluruhan, peneliti melaporkan N-gain penalaran kritis sebesar 0,60, yang berada pada kategori sedang. Peningkatan terutama terlihat pada kemampuan bertanya, menganalisis argumen dan melakukan refleksi terhadap proses berpikir.
Menurut temuan Kurniawan, Martawijaya dan Khaeruddin, pembelajaran berbasis kearifan lokal tidak hanya berkaitan dengan pencapaian kognitif. Nilai-nilai Mabbulo Sipeppa juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan komunikasi, kerja sama dan tanggung jawab bersama selama melakukan kegiatan ilmiah.
Kearifan Lokal Bisa Menjadi Bagian dari Pembelajaran Sains
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa kearifan lokal dapat digunakan sebagai bagian dari strategi pembelajaran fisika, bukan hanya sebagai materi budaya tambahan.
Bagi guru, LKPD tersebut dapat menjadi alternatif bahan ajar untuk mengembangkan kegiatan kokurikuler yang lebih kontekstual. Bagi siswa, pendekatan ini membantu menghubungkan konsep fisika dengan pengalaman dan lingkungan sosial yang mereka kenal.
Pendekatan tersebut juga dapat mendukung pelestarian budaya. Ketika nilai Mabbulo Sipeppa diperkenalkan melalui aktivitas pembelajaran, siswa tidak hanya mempelajari konsep fisika tetapi juga memahami nilai persatuan, kerja sama dan tanggung jawab yang hidup dalam budaya masyarakat setempat.
Meski hasil awalnya positif, penelitian ini masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Para peneliti merekomendasikan penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar dan wilayah yang lebih beragam, serta pengamatan terhadap dampak LKPD dalam jangka panjang. Integrasi dengan model Problem-Based Learning, Inquiry-Based Learning atau Project-Based Learning juga dinilai layak dikaji lebih lanjut.
Profil Penulis
Dedy Kurniawan merupakan penulis korespondensi dalam artikel ini dan berafiliasi dengan Universitas Negeri Makassar. Ia menulis artikel bersama M. Agus Martawijaya dan Khaeruddin, yang juga berasal dari Universitas Negeri Makassar. Bidang kajian artikel berada pada pendidikan fisika, pengembangan bahan ajar, pembelajaran berbasis kearifan lokal, kegiatan kokurikuler dan penguatan penalaran kritis siswa.
Penelitian ini juga mendapat dukungan akademik dari Program Magister Pendidikan Fisika Universitas Negeri Makassar serta kerja sama kepala sekolah, guru fisika dan siswa UPT SMA Negeri 2 Bone selama pelaksanaan penelitian.
0 Komentar