Literasi Keuangan Pengaruhi Keputusan Gen Z Bandung Menggunakan Pinjaman Online

Ilustrasi by AI

Bandung — Literasi keuangan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap keputusan Generasi Z dalam menggunakan pinjaman online, sementara perilaku keuangan digital justru menunjukkan pengaruh positif. Temuan tersebut berasal dari penelitian Nabila Aprillia dan Novi Susyani dari Universitas Jenderal Achmad Yani yang menganalisis 220 responden Generasi Z di Kota Bandung. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 ini juga menemukan bahwa locus of control tidak terbukti memperkuat maupun memperlemah hubungan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan digital dengan keputusan penggunaan pinjaman online.

Pinjaman online semakin mudah diakses seiring berkembangnya teknologi finansial di Indonesia. Proses pengajuan yang cepat, persyaratan yang relatif mudah, serta pencairan dana secara digital membuat layanan tersebut menjadi salah satu pilihan ketika masyarakat membutuhkan dana. Namun, kemudahan tersebut juga dapat meningkatkan risiko penggunaan pinjaman apabila tidak disertai pemahaman yang memadai mengenai bunga, biaya, kemampuan membayar, dan kewajiban finansial.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi Generasi Z karena kelompok ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Penelitian Nabila Aprillia dan Novi Susyani secara khusus melihat keputusan penggunaan pinjaman online pada Generasi Z di Kota Bandung. Penelitian tersebut dilatarbelakangi kondisi pinjaman online di Jawa Barat yang menunjukkan tingginya nilai utang masyarakat. Pada Desember 2024, total utang pinjaman online di Jawa Barat dilaporkan mencapai Rp19,56 triliun, sementara di Kota Bandung mencapai sekitar Rp1,3 triliun.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan tingkat literasi keuangan. Penelitian mencatat bahwa indeks literasi keuangan Jawa Barat berada pada angka 43,90 persen, lebih rendah dibandingkan indeks nasional sebesar 49,68 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengambil keputusan terkait produk serta layanan keuangan.

Dalam penelitian ini, literasi keuangan berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami informasi mengenai keuangan dan menggunakannya dalam mengambil keputusan. Pemahaman tersebut mencakup perencanaan keuangan, tabungan, investasi, pengelolaan risiko, serta kemampuan mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan finansial.

Sementara itu, perilaku keuangan digital menggambarkan kebiasaan seseorang dalam menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi. Penggunaan aplikasi keuangan, transaksi digital, serta berbagai layanan financial technology menjadi bagian dari perilaku tersebut. Dalam konteks pinjaman online, kebiasaan menggunakan layanan digital dapat memengaruhi seberapa mudah seseorang mengakses dan mempertimbangkan layanan pinjaman.

Penelitian melibatkan 220 responden Generasi Z berusia 18–28 tahun yang tinggal di Kota Bandung dan pernah menggunakan layanan pinjaman online. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Forms dengan skala penilaian lima tingkat. Data kemudian dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling Partial Least Square atau SEM-PLS melalui SmartPLS 4.0.

Sebagian besar responden berusia 22–25 tahun, yaitu 130 orang atau 59,09 persen. Sebanyak 70 responden atau 31,82 persen berusia 26–28 tahun, sedangkan 20 responden atau 9,09 persen berusia 18–21 tahun. Dari sisi pendapatan bulanan, kelompok terbesar memiliki pendapatan antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta, yaitu 113 responden atau 51,36 persen.

Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat literasi keuangan yang sangat tinggi dengan skor rata-rata 4,524. Perilaku keuangan digital memperoleh skor rata-rata 4,101 dan masuk kategori tinggi. Sementara itu, locus of control memperoleh skor 3,659 dan keputusan penggunaan pinjaman online memperoleh skor 4,179, yang keduanya berada dalam kategori tinggi.

Meskipun tingkat literasi keuangan responden tergolong sangat tinggi, hasil pengujian menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan keputusan menggunakan pinjaman online. Koefisien pengaruhnya sebesar -0,290, dengan nilai t-statistik 4,022 dan signifikansi 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi literasi keuangan seseorang, semakin rendah kecenderungannya mengambil keputusan untuk menggunakan pinjaman online.

Pengetahuan mengenai produk keuangan dapat membuat seseorang lebih berhati-hati sebelum mengambil pinjaman. Pemahaman mengenai bunga, biaya layanan, jangka waktu pembayaran, kemampuan membayar, serta risiko keterlambatan dapat mendorong calon pengguna mempertimbangkan kebutuhan dan konsekuensi pinjaman terlebih dahulu.

Temuan berbeda terlihat pada perilaku keuangan digital. Variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan menggunakan pinjaman online. Koefisien pengaruhnya sebesar 0,273, dengan t-statistik 2,440 dan signifikansi 0,015. Artinya, semakin tinggi kecenderungan seseorang menggunakan dan berinteraksi dengan layanan keuangan digital, semakin besar pula kecenderungannya menggunakan layanan pinjaman online.

Kondisi tersebut dapat terjadi karena Generasi Z sudah terbiasa melakukan berbagai aktivitas keuangan melalui perangkat digital. Kemudahan mengakses aplikasi dan layanan fintech dapat membuat proses memperoleh informasi maupun mengajukan pinjaman terasa lebih sederhana. Kedekatan dengan teknologi akhirnya dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong penggunaan layanan pinjaman online.

Penelitian juga menguji peran locus of control, yaitu keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya dalam mengendalikan berbagai kondisi dan keputusan dalam kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa locus of control tidak terbukti memoderasi hubungan antara literasi keuangan dan keputusan menggunakan pinjaman online. Nilai signifikansinya sebesar 0,429, sehingga pengaruh moderasi tersebut tidak signifikan secara statistik.

Hasil yang sama ditemukan pada hubungan perilaku keuangan digital dengan keputusan penggunaan pinjaman online. Interaksi antara locus of control dan perilaku keuangan digital menghasilkan koefisien 0,054, t-statistik 1,298, dan signifikansi 0,194. Angka tersebut menunjukkan bahwa locus of control tidak secara signifikan mengubah hubungan antara perilaku keuangan digital dan keputusan menggunakan pinjaman online.

Menariknya, kedua faktor utama dalam penelitian tersebut belum sepenuhnya menjelaskan keputusan penggunaan pinjaman online. Nilai R² hanya mencapai 10,5 persen, yang berarti literasi keuangan dan perilaku keuangan digital dalam model penelitian menjelaskan 10,5 persen variasi keputusan penggunaan pinjaman online. Sebanyak 89,5 persen lainnya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model.

Peneliti menyebut sejumlah faktor lain yang berpotensi memengaruhi keputusan penggunaan pinjaman online, seperti persepsi terhadap risiko, gaya hidup, kebutuhan konsumtif, pengendalian diri, sikap terhadap keuangan, tingkat pendapatan, serta literasi teknologi finansial. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi bahan penelitian berikutnya untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai perilaku Generasi Z dalam menggunakan layanan pinjaman digital.

Temuan penelitian memberikan implikasi bagi Generasi Z, perusahaan penyedia pinjaman online, pemerintah, dan regulator. Bagi pengguna, pemahaman mengenai bunga, biaya administrasi, tenor, kemampuan pembayaran, dan risiko keterlambatan menjadi hal penting sebelum mengambil pinjaman. Keputusan meminjam sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kemudahan memperoleh dana, tetapi juga pada kemampuan untuk memenuhi kewajiban pembayaran.

Bagi penyedia layanan, transparansi informasi mengenai biaya, bunga, tenor, serta risiko pinjaman menjadi bagian penting dalam perlindungan konsumen. Sementara bagi pemerintah dan regulator, penguatan edukasi literasi keuangan digital serta pengawasan terhadap layanan pinjaman online dapat membantu masyarakat menggunakan layanan keuangan digital secara lebih bertanggung jawab.

Penelitian ini menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi kecenderungan penggunaan pinjaman online, sedangkan kebiasaan menggunakan layanan keuangan digital dapat meningkatkan kecenderungan tersebut. Namun, keputusan penggunaan pinjaman online merupakan persoalan yang kompleks karena sebagian besar variasinya masih dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian.

Karena penelitian hanya dilakukan pada Generasi Z di Kota Bandung, peneliti merekomendasikan penelitian selanjutnya dengan cakupan responden yang lebih luas dan memasukkan faktor psikologis, sosial, gaya hidup, persepsi risiko, serta kondisi ekonomi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai alasan Generasi Z menggunakan layanan pinjaman online.

Penulis

Nabila Aprillia — Universitas Jenderal Achmad Yani.

Novi Susyani — Universitas Jenderal Achmad Yani.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Influence of Financial Literacy and Digital Financial Behavior on Online Loan Usage Decisions among Generation Z in Bandung City: The Moderating Role of Locus of Control

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1757–1774.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.137

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr


Posting Komentar

0 Komentar