Penelitian tersebut penting karena tingginya penggunaan layanan keuangan digital belum otomatis membuat anak muda lebih rajin menabung. Fintech seperti dompet digital, aplikasi perbankan, dan layanan tabungan digital memang mempermudah transaksi. Namun, kemudahan teknologi dapat lebih banyak digunakan untuk pembayaran dan belanja daripada membangun kebiasaan menyisihkan uang.
Kondisi itu terlihat dalam survei awal yang dilakukan peneliti terhadap 30 anggota Generasi Z di Cianjur. Sebanyak 83,3 persen responden mengaku belum memiliki tabungan yang cukup untuk mencapai tujuan keuangan masa depan. Sebanyak 76,7 persen juga tidak menabung secara rutin. Bahkan, 90 persen responden merasa layanan keuangan digital belum membuat aktivitas menabung menjadi lebih mudah, meskipun sebagian besar menggunakan dompet digital untuk transaksi sehari-hari.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara tingginya penggunaan teknologi digital dan kemampuan menggunakannya untuk perencanaan keuangan. Bagi Generasi Z, yang dikenal dekat dengan teknologi, persoalannya bukan hanya tersedia atau tidaknya layanan finansial digital, tetapi juga kemampuan memahami dan memanfaatkannya secara tepat.
Survei 161 Generasi Z di Cianjur
Hisan dan Sembiring menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei lapangan. Data primer dikumpulkan secara daring menggunakan Google Forms dari 161 responden Generasi Z di Kabupaten Cianjur yang aktif menggunakan e-wallet. Responden dipilih dengan metode simple random sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan SmartPLS 4.0 untuk melihat hubungan antara literasi keuangan, fintech, perilaku menabung, dan literasi digital.
Analisis penelitian menguji pengaruh langsung maupun pengaruh gabungan antarvariabel. Literasi digital ditempatkan sebagai variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara literasi keuangan maupun fintech dengan perilaku menabung.
Hasil pengukuran menunjukkan rata-rata skor literasi keuangan responden sebesar 2,476, literasi digital 2,473, perilaku menabung 2,358, dan penggunaan fintech 2,237. Peneliti mencatat bahwa penggunaan fintech memiliki rata-rata paling rendah dibandingkan variabel lainnya sehingga masih membutuhkan peningkatan.
Literasi Keuangan Berpengaruh, Fintech Tidak Cukup
Temuan paling menonjol adalah pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung. Hasil analisis menunjukkan koefisien sebesar 0,289, nilai t-statistic 4,206, dan p-value 0,000. Karena p-value berada di bawah 0,05, pengaruh tersebut dinyatakan signifikan. Artinya, semakin baik pemahaman seseorang mengenai keuangan, semakin baik pula kecenderungannya untuk mengatur pengeluaran dan menyisihkan pendapatan untuk tabungan.
Sebaliknya, fintech tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan. Koefisiennya hanya -0,012 dengan t-statistic 0,102 dan p-value 0,919. Hasil tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan fintech saja belum cukup untuk meningkatkan kebiasaan menabung. Menurut pembahasan peneliti, fintech lebih sering dimanfaatkan untuk transfer dana, belanja daring, dan pembayaran sehari-hari daripada untuk menabung.
Namun, ketika literasi keuangan dan fintech dianalisis secara bersama-sama, keduanya terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku menabung. Nilai F mencapai 97,34, lebih tinggi daripada F-tabel 3,05. Model penelitian juga memiliki nilai R² sebesar 0,552, yang berarti kedua variabel tersebut secara bersama-sama menjelaskan 55,2 persen variasi perilaku menabung responden. Sementara 44,8 persen sisanya dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian.
Literasi Digital Menjadi Faktor Penguat
Penelitian ini menemukan peran penting literasi digital. Kemampuan digital memperkuat hubungan antara literasi keuangan dan perilaku menabung. Koefisien interaksi mencapai 0,270 dengan t-statistic 3,472 dan p-value 0,001. Dengan kata lain, pengetahuan keuangan akan lebih efektif mendorong kebiasaan menabung ketika seseorang juga mampu memahami dan menggunakan teknologi digital dengan baik.
Literasi digital juga memperkuat hubungan antara fintech dan perilaku menabung. Koefisien interaksinya sebesar 0,266, dengan t-statistic 2,823 dan p-value 0,005. Responden dengan kemampuan digital yang lebih baik dinilai lebih mampu memanfaatkan fitur seperti tabungan digital, alat pengatur anggaran, pencatat pengeluaran, dan pengingat keuangan.
Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi keuangan tidak otomatis menghasilkan perilaku finansial yang sehat. Teknologi menjadi lebih bermanfaat ketika pengguna memiliki pengetahuan keuangan dan kemampuan digital yang memadai.
Pendidikan Keuangan Perlu Berjalan Bersama Literasi Digital
Nisrina Khoirotun Hisan dan Ferikawita M. Sembiring merekomendasikan agar lembaga pendidikan, pemerintah, dan penyedia layanan fintech tidak hanya memperluas akses teknologi finansial, tetapi juga memperkuat pendidikan keuangan dan literasi digital. Program tersebut dapat diarahkan pada kemampuan membuat anggaran, mengendalikan pengeluaran, membangun dana darurat, serta merencanakan tujuan keuangan jangka panjang.
Bagi industri fintech, hasil penelitian ini juga memberikan arah pengembangan layanan. Fitur yang berorientasi pada kebiasaan menabung, seperti pengaturan anggaran, tabungan otomatis, pencatatan pengeluaran, dan pengingat keuangan, dinilai dapat membantu pengguna mengubah fintech dari sekadar alat pembayaran menjadi sarana pengelolaan keuangan.
Peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini terbatas pada Generasi Z di Kabupaten Cianjur. Model penelitian menjelaskan 55,2 persen variasi perilaku menabung sehingga masih terdapat faktor lain yang perlu dikaji, seperti sikap terhadap keuangan, kontrol diri, keyakinan terhadap kemampuan finansial, gaya hidup, dan pendapatan.
Profil Penulis
Nisrina Khoirotun Hisan — Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Bidang penelitian dalam artikel ini berfokus pada literasi keuangan, financial technology (fintech), literasi digital, dan perilaku menabung Generasi Z. Artikel mencantumkan Nisrina Khoirotun Hisan sebagai corresponding author. Gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam artikel.
Ferikawita M. Sembiring — Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan bersama Nisrina Khoirotun Hisan membahas perilaku keuangan, literasi keuangan, fintech, dan literasi digital. Gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam artikel.
0 Komentar