Literasi Keuangan dan Perilaku Finansial Dorong Keputusan Investasi Saham di Pontianak

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Pontianak - Penelitian Ghina Raudhatul Jannah dan Fuad Ramdhan Ryanto dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, menunjukkan bahwa literasi keuangan, pendapatan, perilaku keuangan, dan persepsi risiko berpengaruh terhadap keputusan investasi saham masyarakat di Kota Pontianak. Studi yang dipublikasikan pada 2026 ini penting di tengah meningkatnya jumlah investor saham dan semakin mudahnya akses investasi melalui platform digital.

Penelitian tersebut menemukan bahwa literasi keuangan, pendapatan, dan perilaku keuangan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan investasi saham. Sebaliknya, persepsi risiko berpengaruh negatif dan signifikan. Jika keempat faktor tersebut dilihat secara bersama-sama, kontribusinya mampu menjelaskan 53,6 persen variasi keputusan investasi para investor saham di Pontianak.

Artikel tidak mencantumkan secara spesifik periode pelaksanaan atau pengumpulan data penelitian. Namun, naskah diterima pada Juni 2026, direvisi pada Juli, dan diterima untuk publikasi pada Agustus 2026.

Jumlah Investor Meningkat, Kualitas Keputusan Menjadi Tantangan

Kemudahan teknologi finansial membuat masyarakat semakin mudah memasuki pasar modal. Aplikasi investasi berbasis ponsel memungkinkan masyarakat membeli dan menjual berbagai instrumen keuangan tanpa harus melalui proses yang rumit.

Di Indonesia, perkembangan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan jumlah investor. Artikel Jannah dan Ryanto mencatat jumlah investor saham mencapai 7.558.552 SID pada 2025, termasuk tambahan lebih dari 1,17 juta investor baru. Di Kalimantan Barat, jumlah investor saham juga meningkat dari 72.018 pada 2022 menjadi 128.052 pada 2024.

Pontianak menjadi salah satu pusat aktivitas investasi saham di Kalimantan Barat. Jumlah investor saham di kota tersebut meningkat dari 34.428 investor pada 2022 menjadi 59.753 investor pada 2024. Sebaran terbesar berada di Kecamatan Pontianak Kota, Pontianak Utara, dan Pontianak Selatan.

Namun, bertambahnya investor tidak otomatis berarti semakin baiknya kualitas keputusan investasi. Peneliti menyoroti persoalan pemahaman terhadap produk keuangan dan risiko investasi. Karena itu, penelitian ini menggabungkan empat faktor—literasi keuangan, pendapatan, perilaku keuangan, dan persepsi risiko—untuk melihat bagaimana semuanya berkaitan dengan keputusan investor saham di Pontianak.

Melibatkan 150 Investor Saham

Jannah dan Ryanto menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji hubungan antara keempat faktor tersebut dengan keputusan investasi. Populasi penelitian terdiri atas investor saham di Kota Pontianak yang berjumlah 59.753 orang.

Dari populasi tersebut, peneliti mengumpulkan data dari 150 responden menggunakan teknik purposive sampling. Responden harus berdomisili di Pontianak, aktif melakukan transaksi saham, serta memiliki pengalaman investasi sedikitnya enam bulan. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner Google Forms dengan skala Likert lima tingkat.

Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk melihat pengaruh masing-masing variabel, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Pengujian juga mencakup validitas, reliabilitas, normalitas, linearitas, multikolinearitas, uji t, dan uji F.

Hasil pengujian menunjukkan instrumen penelitian memiliki tingkat konsistensi yang memadai. Seluruh variabel memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,60, dengan literasi keuangan sebesar 0,929, pendapatan 0,907, perilaku keuangan 0,880, persepsi risiko 0,903, dan keputusan investor 0,911.

Perilaku Keuangan Menjadi Faktor Paling Dominan

Dari empat faktor yang diuji, perilaku keuangan menjadi faktor yang paling dominan dalam keputusan investasi saham.

Hasil regresi menghasilkan persamaan:

Y = 1,047 + 0,121 X1 + 0,206 X2 + 0,672 X3 – 0,228 X4

Angka tersebut menunjukkan bahwa perilaku keuangan memiliki koefisien 0,672, lebih besar dibandingkan literasi keuangan sebesar 0,121 dan pendapatan sebesar 0,206. Sementara itu, persepsi risiko memiliki koefisien negatif sebesar -0,228.

Jika dilihat berdasarkan uji statistik, hasilnya adalah sebagai berikut:

  • Literasi keuangan: berpengaruh positif dan signifikan, dengan nilai signifikansi 0,037.
  • Pendapatan: berpengaruh positif dan signifikan, dengan nilai signifikansi 0,013.
  • Perilaku keuangan: berpengaruh positif dan signifikan, dengan nilai signifikansi 0,000 serta menjadi faktor paling dominan.
  • Persepsi risiko: berpengaruh negatif dan signifikan, dengan nilai signifikansi 0,005.

Menurut Jannah dan Ryanto, investor yang memiliki pemahaman finansial lebih baik cenderung mampu memilih saham, menentukan dana investasi, serta mempertimbangkan risiko dengan lebih rasional. Investor juga tidak semata-mata mengikuti tren atau rekomendasi pihak lain, tetapi dapat menyesuaikan keputusan dengan pengetahuan dan tujuan keuangannya.

Sementara itu, perilaku keuangan berkaitan dengan kebiasaan mengelola pengeluaran, mengatur arus kas, menyisihkan dana, menabung, berinvestasi, dan mengendalikan kewajiban. Peneliti menemukan bahwa kebiasaan finansial yang lebih baik membuat investor lebih siap berinvestasi dan cenderung lebih disiplin dalam mengambil keputusan.

Persepsi Risiko Justru Menekan Keputusan Investasi

Temuan berbeda terlihat pada persepsi risiko. Semakin tinggi risiko yang dirasakan investor, semakin rendah kecenderungan mereka mengambil keputusan investasi saham.

Risiko yang dimaksud mencakup kemungkinan kerugian, fluktuasi harga saham, dan ketidakpastian imbal hasil. Investor yang menganggap risiko terlalu tinggi cenderung lebih berhati-hati, menunda keputusan, atau mengurangi dana yang akan diinvestasikan.

Secara keseluruhan, keempat variabel memiliki hubungan yang cukup kuat dengan keputusan investor. Nilai korelasi sebesar 0,732, sedangkan nilai R² sebesar 0,536 menunjukkan bahwa 53,6 persen variasi keputusan investasi dapat dijelaskan oleh literasi keuangan, pendapatan, perilaku keuangan, dan persepsi risiko. Sisanya, 46,4 persen, berkaitan dengan faktor lain di luar model penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan uang. Pengetahuan keuangan, kebiasaan mengelola uang, serta cara investor memandang risiko turut membentuk keputusan di pasar saham.

Bagi investor, hasil tersebut menegaskan pentingnya membangun kebiasaan keuangan yang sehat sebelum meningkatkan aktivitas investasi. Bagi lembaga pendidikan dan pihak yang bergerak dalam edukasi pasar modal, hasil penelitian dapat menjadi masukan untuk memperkuat materi mengenai pengelolaan keuangan, analisis investasi, dan pemahaman risiko.

Peneliti juga mengingatkan bahwa masih terdapat faktor lain yang belum masuk dalam model. Penelitian lanjutan disarankan memasukkan motivasi investasi, pengetahuan pasar modal, gaya hidup, dan teknologi finansial serta memperluas wilayah penelitian agar hasilnya lebih komprehensif.

Profil Penulis

Ghina Raudhatul Jannah — penulis pertama dan penulis korespondensi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pontianak, Indonesia. Bidang kajian dalam artikel ini berkaitan dengan literasi keuangan, perilaku keuangan, persepsi risiko, pendapatan, dan keputusan investasi saham. Gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam artikel jurnal.

Fuad Ramdhan Ryanto — penulis kedua, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pontianak, Indonesia. Bidang keahlian atau gelar akademik tidak dicantumkan secara spesifik dalam artikel.

Sumber Penelitian

Judul: The Effect of Financial Literacy, Income, Financial Behavior, and Risk Perception on Investors’ Decisions in Stock Investment in Pontianak City
Penulis: Ghina Raudhatul Jannah dan Fuad Ramdhan Ryanto
Jurnal: Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM)
Volume: 5, Nomor 3, 2026, halaman 865–882
DOI: 10.55927/ajabm.v5i3.58

Posting Komentar

0 Komentar