Bandung — Kondisi lingkungan kerja fisik terbukti berpengaruh positif terhadap motivasi kerja guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di SMA Negeri 1 ZQZ, Kabupaten Bandung Barat. Temuan tersebut berasal dari penelitian Suci Maharani Azizah dan R.M Juddy Prabowo dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani. Penelitian ini melibatkan 32 guru ASN dan menemukan bahwa lingkungan kerja fisik berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja, sedangkan kepuasan kerja secara individual tidak terbukti berpengaruh signifikan. Ketika kedua faktor dianalisis secara bersama-sama, lingkungan kerja fisik dan kepuasan kerja memberikan pengaruh yang kuat terhadap motivasi kerja guru.
Lingkungan tempat guru bekerja menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kenyamanan dalam menjalankan tugas. Dalam kegiatan pendidikan, guru tidak hanya bertanggung jawab mengajar, tetapi juga melakukan penilaian, membimbing peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran, serta menjalankan berbagai tugas lain yang mendukung proses pendidikan. Karena itu, kondisi ruang kerja dan fasilitas sekolah dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan pekerjaan guru.
Penelitian ini berangkat dari kondisi yang ditemukan di SMA Negeri 1 ZQZ, Kabupaten Bandung Barat. Data administrasi sekolah menunjukkan terdapat 203 kejadian keterlambatan guru ASN selama Januari hingga Oktober 2025. Jumlah keterlambatan tertinggi tercatat pada Juni sebanyak 34 kejadian, disusul Oktober sebanyak 33 kejadian dan Agustus sebanyak 24 kejadian. Peneliti menggunakan kondisi tersebut sebagai salah satu gambaran yang berkaitan dengan persoalan motivasi kerja guru.
Selain persoalan kedisiplinan waktu, observasi dan wawancara pada 11 Desember 2025 juga menemukan sejumlah kondisi fisik lingkungan kerja yang perlu diperhatikan. Beberapa ruang kelas dilaporkan memiliki masalah seperti munculnya jamur hitam di sejumlah sudut ruangan dan permukaan pintu yang mengalami kerusakan. Ruang kelas juga tidak dilengkapi kipas angin, sementara jumlah siswa dalam satu kelas mencapai sekitar 40–50 orang. Ventilasi yang kurang baik membuat pertukaran udara tidak optimal sehingga ruangan terasa panas dan pengap ketika kegiatan belajar berlangsung.
Masalah lain ditemukan pada kebersihan dan penataan ruang. Sampah yang berserakan dinilai membuat lingkungan terlihat kurang rapi, sementara ruang guru memiliki meja kerja yang ditempatkan berdekatan sehingga ruang gerak menjadi terbatas. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk melihat lebih jauh hubungan lingkungan kerja fisik dengan motivasi guru.
Data administrasi sekolah juga mencatat 298 kejadian izin tidak masuk kerja dari guru ASN selama Januari hingga Oktober 2025. Angka tersebut menjadi bagian dari latar belakang penelitian dalam melihat kondisi kehadiran guru dan kaitannya dengan kepuasan serta motivasi kerja.
Untuk mengetahui hubungan berbagai faktor tersebut, Azizah dan Prabowo menggunakan pendekatan kuantitatif. Responden penelitian terdiri dari 32 guru ASN yang aktif bekerja di SMA Negeri 1 ZQZ, Kabupaten Bandung Barat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan kemudian diolah menggunakan SPSS versi 25. Analisis dilakukan melalui pengujian validitas, reliabilitas, asumsi statistik, regresi linear berganda, koefisien determinasi, serta pengujian pengaruh masing-masing variabel dan pengaruh secara bersama-sama.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa secara umum kondisi lingkungan kerja fisik berada dalam kategori baik, dengan nilai rata-rata 3,73. Dari sejumlah aspek yang dinilai, keamanan memperoleh skor tertinggi sebesar 4,10, disusul pencahayaan sebesar 3,88 dan kesesuaian warna ruangan sebesar 3,85. Kenyamanan udara memperoleh skor 3,52, dekorasi 3,63, sedangkan aspek bau memperoleh skor 3,43. Secara keseluruhan, responden masih menilai lingkungan kerja fisik mereka dalam kategori baik.
Kepuasan kerja guru juga berada dalam kategori puas, dengan nilai rata-rata 4,05. Sementara itu, motivasi kerja guru memperoleh nilai rata-rata 4,07 dan masuk kategori tinggi. Aspek tanggung jawab memperoleh nilai 4,45, pekerjaan itu sendiri 4,41, dan pengembangan potensi 4,34. Namun, aspek pengakuan memperoleh nilai paling rendah, yaitu 3,21.
Analisis regresi menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik memiliki koefisien positif sebesar 0,491 dengan tingkat signifikansi 0,030. Karena nilai tersebut lebih kecil dari 0,05, lingkungan kerja fisik dinyatakan berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru ASN. Artinya, semakin baik kondisi fisik lingkungan kerja, semakin tinggi kecenderungan motivasi kerja guru.
Sebaliknya, kepuasan kerja memiliki koefisien positif sebesar 0,459, tetapi tingkat signifikansinya mencapai 0,111, lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, kepuasan kerja secara individual tidak terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru dalam penelitian ini. Meskipun arah hubungannya positif, peningkatan kepuasan kerja belum cukup untuk menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap motivasi kerja.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa motivasi kerja guru tidak selalu terbentuk hanya karena mereka merasa puas terhadap pekerjaannya. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan kemungkinan adanya faktor lain, seperti kepemimpinan, penghargaan, dan lingkungan kerja yang dapat mendorong semangat kerja. Hasil ini juga berbeda dengan sejumlah penelitian lain sehingga menunjukkan bahwa hubungan antara kepuasan kerja dan motivasi dapat berbeda bergantung pada karakteristik organisasi dan responden.
Ketika lingkungan kerja fisik dan kepuasan kerja dianalisis secara bersamaan, hasilnya menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi kerja. Nilai R Square sebesar 0,641 berarti kedua variabel tersebut secara bersama-sama menjelaskan 64,1 persen variasi motivasi kerja guru. Sementara itu, 35,9 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dianalisis dalam penelitian. Peneliti mengategorikan pengaruh gabungan tersebut sebagai pengaruh yang kuat.
Hasil uji simultan juga memperkuat temuan tersebut. Nilai F mencapai 25,836 dengan tingkat signifikansi 0,000, sehingga lingkungan kerja fisik dan kepuasan kerja secara bersama-sama terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru ASN.
Bagi sekolah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan lingkungan kerja fisik tetap menjadi langkah penting. Peneliti merekomendasikan agar kondisi lingkungan yang sudah tergolong baik dipertahankan dan ditingkatkan, terutama terkait kebersihan serta sirkulasi udara. Perbaikan pada aspek tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang kerja yang lebih nyaman bagi guru dalam menjalankan tugasnya.
Aspek penghargaan terhadap guru juga menjadi perhatian. Karena indikator pengakuan memperoleh skor relatif rendah dalam pengukuran motivasi, sekolah disarankan meningkatkan apresiasi terhadap kinerja dan pencapaian guru. Penghargaan terhadap kontribusi guru dapat menjadi salah satu bagian dari upaya mempertahankan dan meningkatkan motivasi kerja.
Temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa kualitas lingkungan sekolah tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan fisik, tetapi juga dapat berhubungan dengan semangat guru dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Ruang yang aman, pencahayaan yang memadai, sirkulasi udara yang baik, kebersihan, dan kondisi ruang kerja yang nyaman menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sekolah.
Azizah dan Prabowo menyimpulkan bahwa lingkungan kerja fisik secara individual memiliki pengaruh positif terhadap motivasi kerja guru ASN. Kepuasan kerja secara individual tidak terbukti memberikan pengaruh signifikan, tetapi kedua variabel tersebut secara bersama-sama memiliki pengaruh kuat terhadap motivasi kerja guru.
Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan teori dan referensi yang lebih baru serta menambahkan variabel lain yang mungkin memengaruhi motivasi kerja guru. Dengan demikian, penelitian mendatang dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang membentuk motivasi tenaga pendidik di lingkungan sekolah.
Profil Penulis
Suci Maharani Azizah — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.
R.M Juddy Prabowo — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Influence of Physical Work Environment and Job Satisfaction on the Work Motivation of ASN Teachers at SMA Negeri 1 ZQZ, West Bandung Regency
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3409–3424.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.269
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar