Penelitian tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research dengan judul The Effect of Physical Work Environment and Job Satisfaction on Employee Performance in the CV Production Section. A New Era of Prosperity in the City of Karawang. Artikel diterima pada 20 Agustus 2026.
Kinerja Karyawan Masih Menjadi Tantangan
Latar belakang penelitian berangkat dari kondisi industri otomotif yang berkembang, termasuk meningkatnya pasar kendaraan listrik di Indonesia. Artikel mencatat data Gaikindo bahwa penjualan kendaraan listrik pada 2024 mencapai 43.188 unit, naik 152 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 17.051 unit. Pertumbuhan tersebut ikut mendorong kebutuhan terhadap industri pendukung otomotif, termasuk manufaktur komponen dan proses perakitan.
CV Teknik Baru Sejahtera atau CV TBS merupakan perusahaan yang bergerak sebagai general trading dan subcontractor. Perusahaan menyediakan layanan seperti trimming, hot-melt, logistik, serta fabrikasi berbagai peralatan industri untuk mendukung perusahaan berskala menengah dan besar, termasuk sektor otomotif. Salah satu bagian penting dalam kegiatan produksinya adalah divisi Cutting and Trimming yang mengolah material menggunakan mesin berdasarkan cetakan, model, dan spesifikasi teknis.
Namun, evaluasi kinerja 2024 menunjukkan masih terdapat karyawan yang belum mencapai standar perusahaan. Dari 30 karyawan produksi, hanya tiga orang masuk kategori sangat baik dan empat orang berada pada kategori baik. Sebanyak 10 orang berada pada kategori cukup, delapan orang berkinerja rendah, dan lima orang masuk kategori sangat rendah. Perusahaan sendiri mengharapkan karyawan produksi setidaknya mencapai kategori baik.
Peneliti kemudian menyoroti dua faktor yang diduga berhubungan dengan kondisi tersebut, yakni lingkungan kerja fisik dan kepuasan kerja.
Fasilitas Kerja Masih Memerlukan Pembenahan
Lingkungan kerja fisik dalam penelitian mencakup kondisi nyata yang dirasakan karyawan saat bekerja, seperti pencahayaan, kenyamanan, bau, keamanan, tata ruang, kebersihan, sirkulasi udara, serta fasilitas pendukung.
Observasi awal menemukan sejumlah persoalan di area kerja CV TBS. Penempatan material dinilai belum tertata, sejumlah barang menumpuk di area kerja, beberapa fasilitas seperti kipas mengalami kerusakan atau jumlahnya tidak mencukupi, dan kapasitas penyimpanan masih terbatas. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kenyamanan dan efisiensi kerja.
Meski demikian, hasil kuesioner menunjukkan persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja secara keseluruhan masih berada dalam kategori baik, dengan nilai rata-rata 4,03. Aspek keamanan memperoleh skor tertinggi, yakni 4,13. Sementara itu, pencahayaan menjadi aspek dengan skor terendah, yaitu 3,96.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan fasilitas tidak selalu berarti seluruh kondisi tempat kerja buruk. Sebaliknya, perusahaan sudah memiliki aspek yang dinilai baik, khususnya keamanan, tetapi masih terdapat ruang untuk memperbaiki fasilitas tertentu, terutama pencahayaan.
Karyawan Tergolong Puas, tetapi Komunikasi Perlu Diperkuat
Kepuasan kerja juga mendapatkan penilaian positif. Nilai rata-rata variabel ini mencapai 4,14 dan masuk kategori puas. Karyawan secara umum memberikan persepsi positif terhadap berbagai aspek pekerjaan dan lingkungan organisasi.
Dimensi tingkat pekerjaan memperoleh penilaian tinggi karena tugas dan tanggung jawab dinilai sesuai dengan kemampuan karyawan. Namun, aspek ukuran organisasi memperoleh skor paling rendah. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan kebutuhan memperbaiki koordinasi, komunikasi internal, serta keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan.
Situasi ini menjadi relevan karena penelitian juga mencatat adanya penurunan pesanan pelanggan sekitar 30 persen antara 2023 dan 2024. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian pekerjaan dan memengaruhi kepuasan karyawan.
Lingkungan Kerja dan Kepuasan Kerja Sama-Sama Berpengaruh
Untuk menguji hubungan kedua faktor tersebut dengan kinerja, Trimaya dan Abdurahman menggunakan pendekatan kuantitatif. Responden terdiri atas 30 karyawan produksi yang telah bekerja sekurang-kurangnya satu tahun dan satu supervisor produksi. Karena jumlah populasi relatif kecil, seluruh populasi digunakan sebagai responden sehingga totalnya 31 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan IBM SPSS Statistics 27.
Hasil analisis menghasilkan beberapa temuan penting:
- Lingkungan kerja fisik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
- Kepuasan kerja juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
- Kedua faktor tersebut secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja.
- Nilai koefisien determinasi atau R² mencapai 0,525. Artinya, lingkungan kerja fisik dan kepuasan kerja secara bersama-sama menjelaskan 52,5 persen variasi kinerja karyawan, sedangkan 47,5 persen lainnya berkaitan dengan faktor lain yang tidak diteliti.
Dalam model regresinya, koefisien lingkungan kerja fisik tercatat sebesar 0,535, sedangkan koefisien kepuasan kerja sebesar 0,634. Artinya, dalam model penelitian ini, peningkatan skor lingkungan kerja dan kepuasan kerja berkaitan dengan peningkatan skor kinerja, dengan kepuasan kerja memiliki koefisien yang lebih besar.
Uji parsial juga menunjukkan lingkungan kerja fisik memiliki nilai t sebesar 3,233, sedangkan kepuasan kerja sebesar 3,526. Keduanya melampaui nilai t tabel 2,052 dan dinyatakan signifikan. Sementara itu, uji simultan menghasilkan F sebesar 14,905, lebih tinggi daripada F tabel 3,35.
Implikasi bagi Perusahaan
Menurut Adelia Trimaya dan Khaerul Rizal Abdurahman dari Universitas Jenderal Achmad Yani, temuan tersebut menunjukkan pentingnya perusahaan mempertahankan aspek lingkungan kerja yang sudah baik sekaligus memperbaiki bagian yang masih lemah. Keamanan perlu dipertahankan, sedangkan pencahayaan menjadi salah satu prioritas perbaikan.
Untuk kepuasan kerja, perusahaan disarankan memperkuat komunikasi, koordinasi, dan keterlibatan karyawan dalam kegiatan serta proses pengambilan keputusan. Sementara dari sisi kinerja, peningkatan kualitas pekerjaan dapat dilakukan melalui pelatihan, pengembangan keterampilan, evaluasi berkala, dan pemberian umpan balik yang konstruktif.
Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil penelitian belum dapat digeneralisasi ke perusahaan lain karena objek penelitian hanya satu perusahaan dengan jumlah responden terbatas. Penelitian berikutnya disarankan memasukkan faktor lain seperti motivasi kerja, disiplin kerja, beban kerja, kepemimpinan, stres kerja, dan budaya organisasi serta melibatkan lebih banyak responden dan perusahaan.
Profil Penulis
Adelia Trimaya — peneliti dari Program Studi Manajemen Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani. Bidang penelitian dalam artikel ini berfokus pada lingkungan kerja fisik, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan.
Khaerul Rizal Abdurahman — peneliti dari Program Studi Manajemen Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, dengan kajian yang berkaitan dengan manajemen dan sumber daya manusia.
Artikel tidak mencantumkan gelar akademik kedua penulis dalam informasi kepenulisan yang tersedia, sehingga gelar tidak ditambahkan untuk menghindari informasi yang tidak terverifikasi.
0 Komentar