Palangka Raya — Lembar kerja mahasiswa berbasis Guided Project-Based Learning terbukti membantu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan pembelajaran mandiri mahasiswa dalam mata kuliah Manajemen Sumber Belajar. Temuan ini berasal dari penelitian Ima Pinensi Br Tarigan, Mustaji, Utari Dewi, Beta Centauri, dan Winda Lestiani. Penelitian dilaksanakan pada semester kedua 2025 pada Program Studi Teknologi Pendidikan, Universitas Palangka Raya, dengan melibatkan 82 mahasiswa semester enam. Hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dari skor rata-rata 60,51 menjadi 82,18, sedangkan kemampuan belajar mandiri meningkat dari 60,45 menjadi 87,20.
Perubahan kebutuhan pendidikan tinggi di era digital membuat mahasiswa tidak cukup hanya menguasai pengetahuan teoritis. Mereka juga dituntut mampu menghadapi masalah yang kompleks, mengatur proses belajar secara mandiri, mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan menghasilkan produk yang dapat diterapkan dalam situasi nyata. Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa Teknologi Pendidikan yang nantinya harus mampu merancang, mengembangkan, mengelola, dan mengevaluasi sumber belajar di berbagai lingkungan pendidikan.
Mata kuliah Manajemen Sumber Belajar dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan menganalisis kebutuhan institusi dan merancang sistem pengelolaan sumber belajar. Penerapannya dapat mencakup sekolah, perpustakaan, pusat pelatihan, pusat kegiatan belajar masyarakat, maupun organisasi pendidikan lainnya. Namun, pengamatan awal menunjukkan bahwa pembelajaran masih banyak berfokus pada penjelasan teori dan tugas umum. Mahasiswa masih mengalami kesulitan ketika harus menemukan persoalan nyata di sebuah institusi, menganalisis kebutuhan, membagi tugas proyek, memantau perkembangan pekerjaan, hingga menilai kelayakan solusi yang mereka buat.
Kondisi tersebut menjadi alasan pengembangan lembar kerja mahasiswa yang memberikan panduan lebih terstruktur. Pembelajaran berbasis proyek sebenarnya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar melalui persoalan nyata dan menghasilkan produk. Namun, tugas proyek yang terlalu luas tanpa arahan yang cukup dapat membuat mahasiswa bingung dalam menentukan langkah, membagi pekerjaan, atau mengatur waktu. Pendekatan Guided Project-Based Learning menawarkan solusi dengan tetap memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bekerja secara mandiri, tetapi dilengkapi dengan pertanyaan pengarah, lembar perencanaan, alat pemantauan, umpan balik, evaluasi, dan refleksi.
Dalam penelitian ini, lembar kerja dikembangkan untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran mandiri. Mahasiswa diarahkan untuk mengenali masalah, menganalisis kebutuhan, menentukan prioritas, menyusun beberapa alternatif solusi, memilih rancangan yang sesuai, dan mengevaluasi kelayakannya. Pada saat yang sama, mereka dilatih menetapkan tujuan, membagi tanggung jawab, mengatur jadwal, memantau kemajuan, memanfaatkan umpan balik, melakukan perbaikan, serta merefleksikan proses belajar.
Penelitian menggunakan metode pengembangan atau Research and Development dengan model Borg dan Gall yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan produk pembelajaran. Seluruh 82 mahasiswa semester enam yang mengikuti mata kuliah Manajemen Sumber Belajar dilibatkan dalam analisis kebutuhan dan implementasi produk. Pada tahap analisis kebutuhan, lima mahasiswa juga dipilih untuk mengikuti wawancara berdasarkan variasi capaian akademik dan kesulitan yang mereka alami ketika mengerjakan tugas berbasis proyek.
Pengembangan produk dilakukan melalui tujuh tahap, mulai dari pengumpulan informasi dan analisis kebutuhan, perencanaan, pembuatan produk awal, validasi ahli, revisi, penerapan di lapangan, hingga revisi akhir. Produk kemudian dinilai oleh tiga ahli yang mewakili bidang materi, desain pembelajaran, dan media. Setelah melalui proses validasi dan perbaikan, lembar kerja diterapkan kepada seluruh 82 mahasiswa.
Lembar kerja tersebut dirancang untuk digunakan selama enam kali pertemuan. Mahasiswa memulai kegiatan dengan orientasi masalah dan proyek, kemudian menyusun perencanaan proyek, melakukan investigasi dan analisis kebutuhan, mengembangkan desain, melakukan pemantauan serta revisi, dan akhirnya mempresentasikan serta mengevaluasi produk. Produk akhir berupa rancangan pengelolaan sumber belajar untuk sebuah institusi, yang mencakup profil institusi dan analisis kebutuhan, visi dan misi, rancangan sumber belajar, serta sistem pengelolaannya.
Hasil validasi menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan memperoleh penilaian sangat baik dari ketiga ahli. Ahli materi memberikan nilai 92,85 persen, ahli desain pembelajaran memberikan nilai 90 persen, sedangkan ahli media memberikan nilai 92,50 persen. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa lembar kerja dinilai layak dari sisi kesesuaian materi, struktur pembelajaran, tampilan, dan penggunaannya sebagai pendukung pembelajaran berbasis proyek.
Perubahan paling terlihat terjadi pada kemampuan pemecahan masalah mahasiswa. Sebelum menggunakan lembar kerja, nilai rata-rata mahasiswa berada pada angka 60,51. Setelah mengikuti pembelajaran, nilai tersebut meningkat menjadi 82,18. Perhitungan N-Gain menghasilkan skor 0,55, yang termasuk kategori peningkatan sedang. Kegiatan dalam lembar kerja seperti skenario masalah, observasi, wawancara, matriks analisis kebutuhan, dan evaluasi kelayakan membantu mahasiswa beralih dari sekadar memahami teori menuju penerapan pengetahuan dalam menyelesaikan persoalan nyata.
Peningkatan juga terjadi pada kemampuan mahasiswa dalam mengatur proses belajar mereka sendiri. Nilai rata-rata pembelajaran mandiri meningkat dari 60,45 menjadi 87,20, dengan N-Gain sebesar 0,68 yang juga masuk kategori sedang dan mendekati batas kategori tinggi. Lembar perencanaan membantu mahasiswa menetapkan tujuan, membagi tugas, dan membuat jadwal. Lembar pemantauan membantu mereka mengidentifikasi perkembangan dan hambatan, sementara lembar refleksi mendorong mahasiswa mengevaluasi strategi belajar dan memperbaiki pekerjaan berdasarkan umpan balik.
Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai sebelum dan sesudah penerapan lembar kerja pada kedua kemampuan tersebut. Nilai signifikansi berada di bawah 0,001, dengan ukuran efek sebesar 0,87 untuk kemampuan pemecahan masalah maupun pembelajaran mandiri. Dalam batasan desain penelitian satu kelompok, hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang bermakna setelah mahasiswa menggunakan lembar kerja berbasis proyek terbimbing.
Menurut hasil penelitian, struktur pembelajaran menjadi salah satu bagian penting dalam keberhasilan kegiatan berbasis proyek. Sebelum menggunakan lembar kerja, mahasiswa cenderung mengalami kesulitan dalam menentukan langkah awal, membagi tanggung jawab, mengatur waktu, memantau kemajuan, dan mengevaluasi hasil proyek. Setelah diberikan target yang lebih jelas pada setiap pertemuan, mahasiswa memiliki panduan mengenai apa yang harus diselesaikan, bagaimana memantau kemajuan, dan kapan melakukan perbaikan.
Bagi perguruan tinggi, temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat dibuat lebih efektif ketika mahasiswa mendapatkan panduan yang sistematis tanpa menghilangkan kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Dosen dapat menggunakan lembar kerja tersebut untuk mengorganisasi proyek jangka panjang secara lebih terarah sekaligus mengurangi kebingungan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas yang kompleks. Produk ini juga berpotensi disesuaikan untuk mata kuliah lain yang membutuhkan analisis kebutuhan, perancangan sistem pembelajaran, atau pengembangan produk pendidikan.
Meski menunjukkan hasil positif, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Penerapan hanya dilakukan pada satu program studi dan satu mata kuliah, sementara desain penelitian tidak menggunakan kelompok pembanding. Karena itu, peningkatan yang ditemukan tidak dapat sepenuhnya dipastikan hanya disebabkan oleh penggunaan lembar kerja. Pengukuran pembelajaran mandiri juga menggunakan laporan diri mahasiswa. Penelitian berikutnya disarankan melibatkan lebih banyak institusi, kelompok pembanding, sampel yang lebih besar, format lembar kerja digital atau interaktif, serta pengukuran jangka panjang untuk melihat keberlanjutan hasil belajar.
Ima Pinensi Br Tarigan, Mustaji, Utari Dewi, Beta Centauri, dan Winda Lestiani menyimpulkan bahwa lembar kerja mahasiswa berbasis Guided Project-Based Learning dinilai sangat layak digunakan dan menunjukkan efektivitas awal dalam mendukung kemampuan pemecahan masalah serta pembelajaran mandiri mahasiswa. Model pembelajaran tersebut memberikan struktur yang membantu mahasiswa menghadapi proyek secara bertahap, mulai dari memahami masalah hingga menghasilkan, mengevaluasi, dan memperbaiki produk akhir.
Profil Penulis
Ima Pinensi Br Tarigan — Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.
Mustaji — Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.
Utari Dewi — Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.
Beta Centauri — Teknologi Pendidikan, Universitas Palangka Raya.
Winda Lestiani — Teknologi Pendidikan, Universitas Palangka Raya.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Enhancing Problem-Solving Skills and Self-Regulated Learning Through Guided Project-Based Learning Student Worksheets in Learning Resources Management
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3441–3456.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.272
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar