Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Bali - Kulkul dan WhatsApp Berpadu Harmonis Menjaga Komunikasi Tradisi Petani Bali di Era Digital. Penelitian yang dilakukan oleh I Wayan Suartawan dan Bernadus Bernando Bria dari Universitas Bali Dwipa Denpasar dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 7 Tahun 2026 menyoroti bahwa teknologi digital tidak harus menggusur kearifan lokal, melainkan dapat saling melengkapi untuk memperkuat solidaritas masyarakat adat .
Latar Belakang: Modernisasi di Tengah Tekanan Alih Fungsi Lahan
Subak Sebatu yang berlokasi di Banjar Kebon, Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan wilayah pertanian irigasi tradisional berbasis filosofi Tri Hita Karana yang juga menjadi destinasi wisata terasering internasional . Kawasan ini menghadapi tantangan kompleks, mulai dari alih fungsi lahan pertanian hingga ancaman hama tanaman . Data Kajian Pengendalian Alih Fungsi Lahan Kabupaten Gianyar mencatat penurunan luas lahan sawah beririgasi di Kecamatan Tegallalang sebesar 3,76 hektar dalam kurun waktu 2022 hingga 2024 . Di tengah perubahan sosial dan tingginya mobilitas anggota, organisasi Subak membutuhkan sistem komunikasi yang cepat dan adaptif untuk mengoordinasikan pembagian air irigasi, jadwal sangkep (rapat), aksi gotong royong (ayahan), hingga penanggulangan hama . Pengurus Subak mulai memanfaatkan grup WhatsApp untuk mempercepat penyebaran informasi, yang kemudian memunculkan fenomena menarik terkait bagaimana posisi alat komunikasi tradisional Kulkul dipertahankan .
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi yang dikembangkan oleh Dell Hymes . Data dikumpulkan melalui pengamatan berperan serta, studi dokumentasi, serta wawancara mendalam (in-depth interview) bersama berbagai pihak di Subak Sebatu . Peneliti mewawancarai pengurus pekaseh (ketua Subak), prajuru (pengurus adat), krama Subak (anggota petani), tokoh masyarakat, perbekel, hingga pelaku pariwisata .
Temuan Utama: Pola Komunikasi Hibrida (Hybrid Communication)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kulkul dan grup WhatsApp tidak saling meniadakan atau menggantikan, melainkan membentuk pola komunikasi yang saling melengkapi (complementary) .
Temuan ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi digital dalam organisasi berbasis budaya tidak selalu merusak tatanan tradisi . Konsep komunikasi hibrida ini dapat menjadi model percontohan bagi organisasi adat, pemerintah daerah, dan komunitas lokal lainnya dalam melestarikan warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) di era modernisasi . Bagi dunia kebijakan publik dan pelestarian budaya, penggabungan ini memastikan efektivitas koordinasi tata kelola air dan lingkungan tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi fondasi ketahanan pangan serta daya tarik pariwisata daerah .
Profil Penulis
I Wayan Suartawan, S.Si., M.Si.: Peneliti dan akademisi di Universitas Bali Dwipa Denpasar . Memiliki keahlian di bidang komunikasi tradisional, etnografi komunikasi, dan komunikasi organisasi berbasis budaya lokal .
Bernadus Bernando Bria, S.Sos., M.Si.: Peneliti dan dosen di Universitas Bali Dwipa Denpasar yang berfokus pada studi media, sosiologi komunikasi, dan dinamika sosial masyarakat .
Sumber Penelitian
I Wayan Suartawan, Bernadus Bernando Bria. Kulkul Traditional Communication Media in the Midst of the Use of WhatsApp Groups in the Subak Sebatu Organization. Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR). Vol. 5, No. 8 2026, Halaman 621–632.
DOI :https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i8.58
URL:https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Latar Belakang: Modernisasi di Tengah Tekanan Alih Fungsi Lahan
Subak Sebatu yang berlokasi di Banjar Kebon, Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan wilayah pertanian irigasi tradisional berbasis filosofi Tri Hita Karana yang juga menjadi destinasi wisata terasering internasional
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi yang dikembangkan oleh Dell Hymes
Temuan Utama: Pola Komunikasi Hibrida (Hybrid Communication)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kulkul dan grup WhatsApp tidak saling meniadakan atau menggantikan, melainkan membentuk pola komunikasi yang saling melengkapi (complementary)
- Legitimasi Adat dan Fungsi Ritual Kulkul: Suara kayu Kulkul tetap memegang peranan krusial yang tidak dapat digantikan oleh media digital
. Kulkul berfungsi sebagai media komunikasi yang memiliki legitimasi adat mutlak, simbol identitas budaya, serta alat pemersatu yang menggerakkan partisipasi fisik masyarakat dalam ritual keagamaan di Pura Subak dan kegiatan gotong royong . - Efisiensi Administratif via WhatsApp Group: Grup WhatsApp dimanfaatkan secara optimal untuk menjalankan fungsi informatif, regulatif, persuasif, dan integratif secara cepat
. Media digital ini digunakan untuk membagikan jadwal rapat, koordinasi pembagian air irigasi, pengumuman administratif, serta media dokumentasi . - Jembatan bagi Anggota Bermobilitas Tinggi: WhatsApp menjadi sarana komunikasi real-time yang sangat membantu anggota Subak yang tinggal di luar Banjar Kebon atau bekerja di luar desa agar tetap terhubung dan terlibat dalam pengambilan keputusan
. - Ruang Pembelajaran Digital (Digital Social Learning): WhatsApp juga berkembang menjadi wadah diskusi antarpetani untuk saling berbagi pengalaman, mengatasi kendala pertanian di lapangan, dan menyebarkan inovasi teknologi pertanian
.
Temuan ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi digital dalam organisasi berbasis budaya tidak selalu merusak tatanan tradisi
Profil Penulis
I Wayan Suartawan, S.Si., M.Si.: Peneliti dan akademisi di Universitas Bali Dwipa Denpasar
Bernadus Bernando Bria, S.Sos., M.Si.: Peneliti dan dosen di Universitas Bali Dwipa Denpasar yang berfokus pada studi media, sosiologi komunikasi, dan dinamika sosial masyarakat
Sumber Penelitian
I Wayan Suartawan, Bernadus Bernando Bria. Kulkul Traditional Communication Media in the Midst of the Use of WhatsApp Groups in the Subak Sebatu Organization. Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR). Vol. 5, No. 8 2026, Halaman 621–632.
DOI :
URL:

0 Komentar