Kulit Jeruk Santang Berpotensi sebagai Sumber Antioksidan Alami

Ilustrasi by AI

Surakarta — Kulit jeruk santang (Citrus reticulata) yang selama ini banyak dibuang sebagai limbah ternyata memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. Temuan tersebut diperoleh melalui penelitian Ratna Sari Dewi dan Tatiana Siska Wardani dari Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Duta Bangsa, Surakarta. Penelitian ini membandingkan aktivitas antioksidan tiga fraksi kulit jeruk santang, yaitu fraksi n-heksana, etil asetat, dan air, menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga fraksi kulit jeruk santang memiliki aktivitas dalam menangkal radikal bebas. Fraksi air menunjukkan aktivitas antioksidan paling tinggi dengan nilai IC50 sebesar 73,464 ppm, disusul fraksi etil asetat sebesar 75,705 ppm dan fraksi n-heksana sebesar 81,639 ppm. Dalam pengujian DPPH, semakin rendah nilai IC50, semakin kuat aktivitas antioksidan suatu sampel.

Jeruk santang merupakan salah satu varietas jeruk lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Daging buahnya biasa dikonsumsi secara langsung maupun diolah menjadi berbagai makanan dan minuman. Sementara itu, kulitnya umumnya menjadi limbah. Artikel tersebut menyebutkan bahwa kulit dapat mencapai sekitar 40–50 persen dari berat buah jeruk santang. Padahal, bagian tersebut mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk flavonoid dan senyawa fenolik yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan.

Antioksidan menjadi penting karena tubuh terus menghadapi radikal bebas. Molekul tersebut bersifat sangat reaktif dan dapat berinteraksi dengan berbagai molekul biologis. Ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan pertahanan antioksidan tubuh, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kerusakan oksidatif. Senyawa antioksidan bekerja dengan membantu menstabilkan radikal bebas sehingga reaksi oksidatif dapat ditekan.

Kulit Citrus reticulata memiliki sejumlah senyawa yang mendukung potensi tersebut. Penelitian sebelumnya yang dibahas dalam artikel menunjukkan adanya senyawa seperti hesperidin, naringin, narirutin, flavonoid, dan polifenol. Kandungan tersebut menjadi dasar bagi Dewi dan Wardani untuk menguji kemampuan antioksidan kulit jeruk santang melalui pemisahan berdasarkan jenis pelarut.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel jeruk santang yang dikumpulkan dari wilayah Sleman dan Kulon Progo, Yogyakarta. Sebanyak 20 kilogram buah digunakan sebagai bahan awal. Kulit buah dipisahkan dari dagingnya, dibersihkan, dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi serbuk. Dari 20 kilogram bahan basah tersebut diperoleh sekitar 8 kilogram bahan kering dengan rendemen 45 persen.

Serbuk kulit kemudian diekstraksi menggunakan etanol 96 persen melalui metode maserasi. Proses tersebut dilakukan selama 3 × 24 jam dan diulang hingga filtrat yang diperoleh menjadi jernih. Ekstrak kemudian dipekatkan sebelum dipisahkan menjadi beberapa fraksi menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran berbeda, yaitu n-heksana, etil asetat, dan air. Pemisahan tersebut dilakukan untuk mengetahui perbedaan aktivitas antioksidan pada setiap fraksi.

Aktivitas antioksidan kemudian diuji menggunakan metode DPPH. Metode ini melihat kemampuan suatu senyawa dalam menangkal radikal bebas DPPH melalui perubahan warna larutan. Dalam pengujian, perubahan tersebut diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum 516 nanometer dengan waktu pengamatan 30 menit.

Vitamin C digunakan sebagai pembanding dalam pengujian. Hasilnya menunjukkan bahwa vitamin C memiliki nilai IC50 sebesar 3,9986 ppm, jauh lebih rendah dibandingkan ketiga fraksi kulit jeruk santang. Artinya, dalam kondisi pengujian tersebut, vitamin C menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih kuat.

Perbandingan ketiga fraksi memperlihatkan bahwa fraksi air memiliki nilai IC50 paling rendah. Fraksi n-heksana memiliki nilai IC50 sebesar 81,639 ppm, fraksi etil asetat sebesar 75,705 ppm, sedangkan fraksi air mencapai 73,464 ppm. Dengan demikian, fraksi air menjadi fraksi dengan aktivitas antioksidan tertinggi dalam penelitian ini.

Pemeriksaan kandungan kimia juga menemukan keberadaan alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin pada sampel kulit jeruk. Sementara itu, pengujian steroid atau triterpenoid menunjukkan hasil negatif. Keberadaan berbagai senyawa tersebut menjadi salah satu dasar untuk menjelaskan potensi aktivitas antioksidan yang ditemukan pada kulit jeruk santang.

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan kulit jeruk santang yang selama ini berpotensi menjadi limbah. Kulit jeruk dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan alam untuk berbagai aplikasi, termasuk produk pangan fungsional, nutraseutikal, maupun bidang farmasi. Namun, hasil penelitian ini masih merupakan hasil pengujian laboratorium dan belum dapat digunakan sebagai bukti bahwa kulit jeruk santang secara langsung memberikan manfaat kesehatan pada manusia.

Ratna Sari Dewi dan Tatiana Siska Wardani merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi senyawa bioaktif yang secara spesifik bertanggung jawab terhadap aktivitas antioksidan pada setiap fraksi. Penelitian berikutnya juga dapat menggunakan teknik analisis seperti LC-MS atau GC-MS serta metode pengujian in vitro dan in vivo lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai potensi kulit jeruk santang sebagai sumber antioksidan alami.

Profil Penulis

Ratna Sari Dewi — Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Duta Bangsa, Surakarta, Indonesia.

Tatiana Siska Wardani — Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Duta Bangsa, Surakarta, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Antioxidant Activity Test of N-Hexane, Ethyl Acetate, and Aqueous Fractions of Santang Mandarin Orange Peel (Citrus reticulata) Using the DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl) Method

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1693–1712.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.145

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar