Konseling Literasi Komunikasi Kesehatan melalui Pendidikan Efek Halo Kesehatan dalam Pembentukan Citra Produk Pangan pada Siswa Sekolah Menengah Atas

Gambar Ilustrasi

FORMOSA NEWS - Jakarta - Edukasi Bias Psikologis 'Health Halo Effect' Melatih Remaja SMA Kritis Menilai Klaim Kesehatan Produk Makanan Kemasan. Pengabdian ini diungkapkan dalam riset Surianto bersama Ahya Radiatul Kamila, Very Budiyanto, Alaniah Nisrina, dan Agung Stefanus Kembau dari Universitas Bunda Mulia (UBM) dalam artikel pengabdian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana strategi komunikasi pemasaran dapat membentuk persepsi "sehat" buatan pada produk makanan dan minuman kemasan melalui fenomena bias kognitif yang dikenal sebagai Health Halo Effect.

Latar Belakang dan Fenomena Health Halo Effect

Dalam persaingan industri FMCG yang kian ketat, strategi komunikasi pemasaran terpadu (Integrated Marketing Communication/IMC) tidak lagi sekadar mengandalkan fungsi utama produk. Produsen secara intensif memanfaatkan simbol visual seperti gambar atlet, kegiatan olahraga, pilihan warna kemasan bernuansa segar, hingga istilah persuasif seperti "tinggi kalsium", "sumber vitamin", dan "gaya hidup aktif"Penggunaan elemen simbolis tersebut menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai Health Halo Effect sebuah bias kognitif di mana satu atribut positif yang ditonjolkan membuat konsumen secara tidak sadar menyimpulkan bahwa keseluruhan produk tersebut pasti baik dan sehat. Remaja merupakan kelompok yang paling rentan terhadap bias kognitif ini karena mereka memiliki tingkat paparan media sosial yang sangat tinggi dan sedang mulai mandiri dalam menentukan keputusan belanja, namun kemampuan mereka dalam mengevaluasi strategi persuasi pemasaran masih terus berkembang.

Metodologi Penyuluhan Interaktif dan Berbasis Studi Kasus
Untuk mengikis ketergantungan remaja pada persepsi visual semata, tim Universitas Bunda Mulia menerapkan pendekatan edukasi partisipatif dan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) melalui platform konferensi video. Pelaksanaan penyuluhan terbagi ke dalam empat sesi utama:

  • Pengenalan Konsep Bias Kognitif: Mengedukasi peserta mengenai mekanisme psikologis Halo Effect dalam kehidupan sehari-hari, di mana penilaian manusia sering dipengaruhi oleh kesan pertama ketimbang evaluasi obyektif.
  • Analisis Kasus Pemasaran FMCG: Mengajak siswa membedah kasus merek minuman bersusu XYZ. Dalam sesi ini, pemateri tidak bertujuan merendahkan atau menilai kualitas produk tertentu, melainkan memaparkan bagaimana kombinasi warna, ilustrasi atlet, dan pesan aktivitas fisik pada kemasan mampu membangun citra sehat secara alami tanpa perlu membuat klaim eksplisit.
  • Pembongkaran Pesan Visual vs Faktual: Mengajarkan siswa untuk memisahkan antara pencitraan simbolis merek (brand image) dengan data nutrisi aktual.
  • Literasi Komunikasi Kesehatan dan Verifikasi: Melatih siswa membaca dan mengevaluasi secara kritis tabel informasi nilai gizi, daftar komposisi bahan baku (ingredients list), serta klaim kesehatan sebelum membeli produk.
Temuan Utama Penelitian
Setelah mengikuti seluruh rangkaian penyuluhan dan diskusi interaktif, tim peneliti melakukan evaluasi akhir (post-test) melalui analisis konten untuk mengukur perubahan pemikiran para siswa. Temuan utama yang diperoleh mencakup:
  • Pergeseran Pola Pikir Konsumen Muda: Sebagian besar siswa mengalami pergeseran sikap mental secara signifikan. Mereka tidak lagi menerima begitu saja klaim "sehat" hanya berdasarkan tampilan visual kemasan atau reputasi merek.
  • Kesadaran Verifikasi Informasi Gizi: Para peserta menyatakan komitmen untuk selalu membaca informasi nilai gizi dan memeriksa kandungan komposisi bahan baku (seperti kadar gula dan lemak) sebelum mengonsumsi produk makanan atau minuman kemasan.
  • Kemampuan Evaluasi Kritis: Siswa berhasil memahami bahwa citra positif yang dibangun melalui kampanye komunikasi pemasaran tidak selalu mencerminkan karakteristik nutrisi produk secara keseluruhan.
Implikasi dan Manfaat bagi Masyarakat dan Kebijakan Publik
Hasil edukasi ini menunjukkan betapa krusialnya penguatan literasi komunikasi kesehatan bagi kalangan pelajar di era digital. Pemahaman atas fenomena bias kognitif seperti Health Halo Effect memberikan manfaat praktis yang luas:
  • Bagi Remaja dan Masyarakat: Membentuk perilaku konsumsi yang lebih rasional dan berbasis bukti (evidence-based), sehingga masyarakat terhindar dari konsumsi gula atau bahan aditif berlebih yang terselubung di balik kemasan berlabel "sehat".
  • Bagi Dunia Pendidikan: Menjadi basis pertimbangan untuk mengintegrasikan kurikulum literasi media dan komunikasi kesehatan kritis di jenjang SMA guna memperkuat daya pikir kritis siswa terhadap terpaan iklan.
  • Bagi Kebijakan Publik dan Regulator: Mendorong instansi terkait untuk memperketat regulasi penyampaian klaim nutrisi pada produk FMCG serta mewajibkan label peringatan yang lebih jelas agar tidak menyesatkan persepsi konsumen.
Sebagaimana diungkapkan oleh Surianto dan tim peneliti dari Universitas Bunda Mulia, edukasi mengenai mekanisme pembentukan persepsi sangat penting agar remaja dapat membedakan secara tegas antara citra yang dibangun lewat aktivitas pemasaran dan informasi kesehatan yang faktual serta dapat diverifikasi.

Profil Penulis dan Tim Peneliti
Surianto, S.E., M.M. — Dosen dan peneliti di Universitas Bunda Mulia dengan kepakaran di bidang Komunikasi Pemasaran, Perilaku Konsumen, dan Literasi Komunikasi Kesehatan.
Ahya Radiatul Kamila — Peneliti dan akademisi Universitas Bunda Mulia di bidang ilmu komunikasi dan media.
Very Budiyanto — Akademisi Universitas Bunda Mulia yang berfokus pada strategi komunikasi terpadu dan perilaku konsumen.
Alaniah Nisrina — Peneliti di Universitas Bunda Mulia yang mengkaji literasi komunikasi dan media sosial.
Agung Stefanus Kembau — Dosen dan peneliti Universitas Bunda Mulia dengan spesialisasi media digital dan pengaruh pemasaran terhadap generasi muda.

Sumber Penelitian
Surianto, Ahya Radiatul Kamila, Very Budiyanto, Alaniah Nisrina, Agung Stefanus Kembau. Health Communication Literacy Counseling through Health Halo Effect Education in the Formation of Food Product Image in Senior High School Students. Asian Journal of Community Services (AJCS), Vol. 5, No. 8, Tahun 2026, Halaman 531–540
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i8.57
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

Posting Komentar

0 Komentar