Ketika Layar Geser Senyuman: Dominasi Teknologi di Rumah Sakit Berisiko Kikis Komunikasi Terapeutik dan Kepercayaan Pasien

Ilustrasi by AI

Perkembangan teknologi digital di layanan keperawatan seperti rekam medis elektronik dan perangkat pemantau otomatis memang meningkatkan efisiensi kerja rumah sakit, tetapi penggunaan yang berlebihan berisiko mengikis komunikasi terapeutik dan memicu kerentanan kepercayaan pasien. Temuan ini diungkap dalam penelitian fenomenologi terbaru yang dilakukan oleh Hetti Marlina Pakpahan, peneliti sekaligus akademisi dari Universitas AUDI Indonesia, yang dipublikasikan pada Juli 2026. Penelitian ini menyoroti bagaimana dominasi perangkat digital di ruang rawat inap sering kali mengalihkan perhatian perawat dari kebutuhan emosional pasien, sehingga menciptakan jarak psikologis di tengah modernisasi fasilitas kesehatan.

Digitalisasi pelayanan kesehatan di Indonesia dan tingkat global berkembang sangat pesat untuk mempercepat dokumentasi clinical data dan meminimalkan kesalahan administrasi. Namun, pergeseran ini memunculkan tantangan baru terhadap praktik keperawatan humanistik berbasis teori Interpersonal Relations dari Hildegard Peplau, yang menempatkan hubungan tatap muka perawat-pasien sebagai fondasi utama kesembuhan. Ketika interaksi tatap muka berkurang akibat tuntutan pengisian data digital, kualitas kehadiran emosional dan empati perawat berpotensi mengalami penurunan mendasar.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis deskriptif untuk menggali pengalaman subjektif dari 20 pasien rawat inap dan 12 perawat di rumah sakit yang telah menerapkan sistem pelayanan berbasis digital. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam serta observasi non-partisipatif terhadap dinamika interaksi perawat dan pasien di ruang perawatan, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan bantuan perangkat lunak NVivo 14.

Hasil analisis tematik mengungkapkan empat temuan utama terkait dampak dominasi teknologi dalam perawatan pasien:

  • Pergeseran Fokus ke Dokumentasi Digital: Sebanyak 16 dari 20 pasien mengungkapkan bahwa perawat lebih sering menatap layar komputer atau komputer tablet dibandingkan melakukan interaksi tatap muka yang mendalam. Interaksi yang terjadi cenderung bersifat teknis dan administratif.
  • Penurunan Dimensi Empati dan Kehadiran Terapeutik: Sebanyak 15 pasien merasakan bahwa komunikasi perawat hanya terfokus pada prosedur klinis rutin, seperti pengecekan alat atau pemberian obat, tanpa mengeksplorasi kondisi emosional atau kecemasan yang dirasakan pasien.
  • Munculnya Kerentanan Kepercayaan Pasien (Trust Vulnerability): Sebanyak 13 pasien mengaku enggan atau menunda menyampaikan keluhan tambahan karena melihat perawat sangat sibuk mengetik pada perangkat digital. Hal ini menciptakan jarak emosional, meskipun pasien tetap mengakui kompetensi teknis klinis perawat.
  • Kebutuhan Keseimbangan (Human-Centered Care): Baik pasien maupun perawat sepakat bahwa teknologi sangat berguna untuk efisiensi operasional, tetapi tidak boleh menggantikan komunikasi emosional dan tatap muka langsung.

Dampak dari penelitian ini sangat signifikan bagi arah kebijakan manajemen rumah sakit, lembaga pendidikan keperawatan, dan pengembang teknologi kesehatan. Peneliti menekankan pentingnya merancang ulang alur kerja digital agar perawat tidak terbebankan oleh dokumentasi yang rumit, sehingga memiliki waktu luang yang cukup untuk memberikan perhatian langsung kepada pasien. Selain itu, temuan ini menjadi landasan penting untuk menerapkan pelatihan digital therapeutic communication bagi tenaga medis.

"Teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pelayanan, bukan menggantikan hubungan antarmusia yang menjadi inti dari praktik keperawatan. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memanfaatkan teknologi secara optimal tanpa kehilangan sisi kemanusiaan dalam merawat pasien," ujar Hetti Marlina Pakpahan dalam laporan penelitiannya.

Profil Penulis: Hetti Marlina Pakpahan, S.Kep., Ns., M.Kep., adalah dosen dan peneliti di Universitas AUDI Indonesia. Ia memiliki keahlian dan fokus penelitian di bidang keperawatan dasar, komunikasi terapeutik, dan manajemen pelayanan kesehatan digital.

Sumber Penelitian: Pakpahan, H. M. (2026). Therapeutic Communication Erosion and Patient Trust Vulnerability in Technology Dominated Nursing Care. International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS), 4(3), 249-262.

DOI:https://doi.org/10.59890/ijnhs.v4i3.246 

URL: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijnhs/article/view/246


Posting Komentar

0 Komentar