Temuan tersebut berasal dari penelitian terhadap karyawan sebuah perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) yang bergerak di bidang men’s grooming di Surabaya. Penelitian ini penting karena industri perawatan pria berkembang semakin kompetitif dan perusahaan tidak hanya membutuhkan karyawan yang mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mampu menghasilkan serta menerapkan gagasan baru.
Ketika merasa nyaman tidak otomatis berarti bekerja lebih baik
Dalam dunia kerja, kesejahteraan psikologis biasanya dipandang sebagai kondisi positif. Karyawan yang mampu menerima dirinya, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, merasa memiliki kendali atas pekerjaannya, mempunyai tujuan hidup, dan terus berkembang secara personal dianggap memiliki modal psikologis yang baik.
Secara teori, kondisi tersebut seharusnya membantu seseorang menghadapi tekanan pekerjaan dan mempertahankan fokus. Namun, hasil penelitian Rahiba dan rekan-rekannya menunjukkan hubungan yang lebih kompleks.
Namun, bukan berarti kesejahteraan psikologis tidak bermanfaat. Justru penelitian ini menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis memiliki hubungan positif dan signifikan dengan innovative work behavior atau perilaku kerja inovatif. Nilai koefisiennya mencapai 0,559, dengan t-statistic 4,000 dan p-value kurang dari 0,001.
Perilaku inovatif menjadi kunci
Perilaku kerja inovatif mencakup kemampuan karyawan menemukan masalah atau peluang, menghasilkan ide baru, mendorong ide tersebut agar diterima, kemudian menerapkannya dalam pekerjaan.
Dengan kata lain, kesejahteraan psikologis tidak cukup hanya membuat karyawan merasa baik. Kondisi psikologis tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, seperti mencari cara kerja yang lebih baik, mengembangkan solusi baru, dan menerapkan inovasi.
Kepemimpinan yang melayani juga meningkatkan kinerja
Selain faktor psikologis dari dalam diri karyawan, penelitian ini melihat pengaruh lingkungan kepemimpinan. Konsep yang digunakan adalah servant leadership, yaitu gaya kepemimpinan yang menempatkan kebutuhan, pertumbuhan, pemberdayaan, dan perkembangan karyawan sebagai perhatian utama pemimpin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa servant leadership memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Koefisiennya sebesar 0,340 dengan p-value 0,048. Gaya kepemimpinan tersebut juga berpengaruh positif terhadap perilaku inovatif, dengan koefisien 0,359 dan p-value 0,006.
Rahiba, Jacobis, Wahjudi, dan Indawati menjelaskan bahwa pemimpin yang memberikan perhatian, kepercayaan, dukungan, serta ruang bagi karyawan untuk berkembang dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung munculnya gagasan baru. Ketika karyawan merasa aman untuk menyampaikan ide dan mencoba pendekatan berbeda, inovasi lebih mungkin terjadi.
Pengaruh servant leadership terhadap kinerja juga berjalan melalui perilaku inovatif. Pengaruh tidak langsungnya tercatat positif dengan koefisien 0,195 dan p-value 0,047.
Studi melibatkan seluruh karyawan perusahaan
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 46 karyawan perusahaan FMCG men’s grooming yang disebut sebagai PT XYZ di Surabaya. Seluruh karyawan perusahaan dilibatkan sebagai responden melalui teknik saturated sampling, sehingga tidak dilakukan pemilihan sebagian responden dari populasi tersebut.
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring dengan skala Likert lima poin. Analisis dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.1.1.8.
Sebagian besar responden merupakan perempuan sebanyak 69,6 persen, berusia 20–29 tahun sebanyak 80,4 persen, berpendidikan sarjana sebanyak 65,2 persen, dan bekerja sebagai staf sebanyak 82,6 persen. Sebanyak 63 persen responden memiliki masa kerja tiga tahun atau kurang.
Model penelitian menjelaskan 64,6 persen variasi perilaku kerja inovatif dan 38,8 persen variasi kinerja karyawan. Sisanya dipengaruhi faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Implikasi bagi perusahaan
Temuan ini memberikan pesan penting bagi perusahaan: meningkatkan kesejahteraan karyawan sebaiknya tidak berhenti pada program yang membuat karyawan merasa nyaman. Perusahaan perlu menciptakan mekanisme agar kondisi psikologis yang positif dapat diarahkan menjadi kreativitas, eksperimen, pemecahan masalah, dan penerapan ide baru.
Para peneliti merekomendasikan pelatihan servant leadership bagi manajer lini, forum khusus untuk menghasilkan dan mengembangkan ide, serta program kesejahteraan yang dipadukan dengan target menantang dan umpan balik.
Namun, hasil ini perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasannya. Penelitian hanya dilakukan pada satu perusahaan dengan 46 responden dan menggunakan data potong lintang yang dikumpulkan melalui laporan diri karyawan. Karena itu, hasilnya belum dapat digeneralisasi ke seluruh perusahaan atau industri. Peneliti menyarankan penelitian berikutnya melibatkan lebih banyak perusahaan dan responden serta menggunakan desain longitudinal.
Profil Penulis
- Kevin Kantata Rahiba — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
- Riedel Paulus Jacobis — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya.
- Eko Wahjudi — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya.
- Nurul Indawati — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya.
Catatan: gelar akademik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam artikel sumber, sehingga tidak ditambahkan untuk menghindari informasi yang tidak terverifikasi. Afiliasi keempat penulis tercantum sebagai Department of Management, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.
0 Komentar