Kesejahteraan Psikologis Tak Selalu Meningkatkan Kinerja Karyawan, Studi di Surabaya Menemukan Peran Penting Perilaku Inovatif

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - SURABAYA — Kesejahteraan psikologis karyawan ternyata tidak selalu berujung pada peningkatan kinerja. Studi yang dilakukan Kevin Kantata Rahiba, Riedel Paulus Jacobis, Eko Wahjudi, dan Nurul Indawati dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), pada awal 2026 menemukan bahwa kesejahteraan psikologis justru memiliki pengaruh langsung negatif terhadap kinerja karyawan. Namun, pengaruh tersebut dapat berubah menjadi positif ketika kesejahteraan psikologis diterjemahkan ke dalam perilaku kerja yang inovatif.

Temuan tersebut berasal dari penelitian terhadap karyawan sebuah perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) yang bergerak di bidang men’s grooming di Surabaya. Penelitian ini penting karena industri perawatan pria berkembang semakin kompetitif dan perusahaan tidak hanya membutuhkan karyawan yang mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mampu menghasilkan serta menerapkan gagasan baru.

Ketika merasa nyaman tidak otomatis berarti bekerja lebih baik

Dalam dunia kerja, kesejahteraan psikologis biasanya dipandang sebagai kondisi positif. Karyawan yang mampu menerima dirinya, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, merasa memiliki kendali atas pekerjaannya, mempunyai tujuan hidup, dan terus berkembang secara personal dianggap memiliki modal psikologis yang baik.

Secara teori, kondisi tersebut seharusnya membantu seseorang menghadapi tekanan pekerjaan dan mempertahankan fokus. Namun, hasil penelitian Rahiba dan rekan-rekannya menunjukkan hubungan yang lebih kompleks.

Kesejahteraan psikologis memiliki koefisien pengaruh -0,307 terhadap kinerja karyawan dengan nilai p 0,063. Karena hasil tersebut tidak memenuhi batas signifikansi yang digunakan dalam penelitian, hipotesis bahwa kesejahteraan psikologis secara langsung meningkatkan kinerja ditolak.
Penulis mengaitkan temuan tersebut dengan konsep inverted-U atau overdose happiness. Dalam kondisi tertentu, tingkat kenyamanan psikologis yang terlalu tinggi tidak selalu membuat seseorang semakin terdorong untuk berprestasi. Rasa nyaman dapat mengurangi kewaspadaan atau dorongan untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.

Namun, bukan berarti kesejahteraan psikologis tidak bermanfaat. Justru penelitian ini menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis memiliki hubungan positif dan signifikan dengan innovative work behavior atau perilaku kerja inovatif. Nilai koefisiennya mencapai 0,559, dengan t-statistic 4,000 dan p-value kurang dari 0,001.

Perilaku inovatif menjadi kunci

Perilaku kerja inovatif mencakup kemampuan karyawan menemukan masalah atau peluang, menghasilkan ide baru, mendorong ide tersebut agar diterima, kemudian menerapkannya dalam pekerjaan.

Dalam penelitian ini, perilaku inovatif menjadi faktor yang paling kuat dalam memprediksi kinerja secara langsung. Pengaruhnya terhadap kinerja memiliki koefisien 0,542, dengan t-statistic 2,676 dan p-value 0,004. Artinya, karyawan yang lebih aktif menghasilkan dan menerapkan gagasan baru cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Menariknya, perilaku inovatif juga menjadi penghubung antara kesejahteraan psikologis dan kinerja. Pengaruh tidak langsung kesejahteraan psikologis terhadap kinerja melalui perilaku inovatif tercatat positif dan signifikan, dengan koefisien 0,303 dan p-value 0,013.

Dengan kata lain, kesejahteraan psikologis tidak cukup hanya membuat karyawan merasa baik. Kondisi psikologis tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, seperti mencari cara kerja yang lebih baik, mengembangkan solusi baru, dan menerapkan inovasi.

Kepemimpinan yang melayani juga meningkatkan kinerja

Selain faktor psikologis dari dalam diri karyawan, penelitian ini melihat pengaruh lingkungan kepemimpinan. Konsep yang digunakan adalah servant leadership, yaitu gaya kepemimpinan yang menempatkan kebutuhan, pertumbuhan, pemberdayaan, dan perkembangan karyawan sebagai perhatian utama pemimpin.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa servant leadership memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Koefisiennya sebesar 0,340 dengan p-value 0,048. Gaya kepemimpinan tersebut juga berpengaruh positif terhadap perilaku inovatif, dengan koefisien 0,359 dan p-value 0,006.

Rahiba, Jacobis, Wahjudi, dan Indawati menjelaskan bahwa pemimpin yang memberikan perhatian, kepercayaan, dukungan, serta ruang bagi karyawan untuk berkembang dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung munculnya gagasan baru. Ketika karyawan merasa aman untuk menyampaikan ide dan mencoba pendekatan berbeda, inovasi lebih mungkin terjadi.

Pengaruh servant leadership terhadap kinerja juga berjalan melalui perilaku inovatif. Pengaruh tidak langsungnya tercatat positif dengan koefisien 0,195 dan p-value 0,047.

Studi melibatkan seluruh karyawan perusahaan

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 46 karyawan perusahaan FMCG men’s grooming yang disebut sebagai PT XYZ di Surabaya. Seluruh karyawan perusahaan dilibatkan sebagai responden melalui teknik saturated sampling, sehingga tidak dilakukan pemilihan sebagian responden dari populasi tersebut.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring dengan skala Likert lima poin. Analisis dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.1.1.8.

Sebagian besar responden merupakan perempuan sebanyak 69,6 persen, berusia 20–29 tahun sebanyak 80,4 persen, berpendidikan sarjana sebanyak 65,2 persen, dan bekerja sebagai staf sebanyak 82,6 persen. Sebanyak 63 persen responden memiliki masa kerja tiga tahun atau kurang.

Model penelitian menjelaskan 64,6 persen variasi perilaku kerja inovatif dan 38,8 persen variasi kinerja karyawan. Sisanya dipengaruhi faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.

Implikasi bagi perusahaan

Temuan ini memberikan pesan penting bagi perusahaan: meningkatkan kesejahteraan karyawan sebaiknya tidak berhenti pada program yang membuat karyawan merasa nyaman. Perusahaan perlu menciptakan mekanisme agar kondisi psikologis yang positif dapat diarahkan menjadi kreativitas, eksperimen, pemecahan masalah, dan penerapan ide baru.

Para peneliti merekomendasikan pelatihan servant leadership bagi manajer lini, forum khusus untuk menghasilkan dan mengembangkan ide, serta program kesejahteraan yang dipadukan dengan target menantang dan umpan balik.

Namun, hasil ini perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasannya. Penelitian hanya dilakukan pada satu perusahaan dengan 46 responden dan menggunakan data potong lintang yang dikumpulkan melalui laporan diri karyawan. Karena itu, hasilnya belum dapat digeneralisasi ke seluruh perusahaan atau industri. Peneliti menyarankan penelitian berikutnya melibatkan lebih banyak perusahaan dan responden serta menggunakan desain longitudinal.

Profil Penulis

  • Kevin Kantata Rahiba — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
  • Riedel Paulus Jacobis — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya.
  • Eko Wahjudi — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya.
  • Nurul Indawati — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya.

Catatan: gelar akademik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam artikel sumber, sehingga tidak ditambahkan untuk menghindari informasi yang tidak terverifikasi. Afiliasi keempat penulis tercantum sebagai Department of Management, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Effect of Psychological Well-Being and Servant Leadership on Employee Performance with Innovative Work Behavior as a Mediating Variable: A Study on Employees of a Men’s Grooming FMCG Company
Penulis: Kevin Kantata Rahiba, Riedel Paulus Jacobis, Eko Wahjudi, Nurul Indawati
Jurnal: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL)
Volume: 5, Nomor 3, 2026, halaman 177–190
Tahun publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar