Guru Menghadapi Dua Tuntutan Sekaligus
Bagi guru perempuan yang telah menikah, pekerjaan tidak berhenti ketika jam sekolah selesai. Selain mengajar, mereka perlu menyiapkan administrasi pembelajaran, menghadiri rapat, mengikuti kegiatan sekolah, serta berinteraksi dengan siswa dan orang tua. Di sisi lain, mereka juga memiliki tanggung jawab dalam kehidupan keluarga.
Di SDN Cipageran Mandiri 1, jam kerja guru berlangsung mulai pukul 06.30 hingga 14.00 WIB. Sekolah tersebut memiliki 58 guru, dengan 35 di antaranya merupakan guru perempuan yang sudah menikah. Kondisi tersebut membuat kemampuan mengatur waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi persoalan yang relevan untuk diperhatikan.
Data keterlambatan guru pada Mei hingga Oktober 2025 juga memperlihatkan adanya persoalan kedisiplinan waktu. Dalam periode tersebut tercatat 89 kejadian keterlambatan, dengan angka tertinggi 23 kali pada Agustus dan terendah enam kali pada Juli. Rata-rata keterlambatan mencapai 15 kali per bulan. Peneliti menilai kondisi tersebut dapat menjadi gambaran adanya tantangan dalam mengatur waktu antara tanggung jawab pekerjaan dan rumah tangga.
Peneliti juga melakukan wawancara awal terhadap lima guru perempuan menikah. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian guru masih mengalami kesulitan membagi waktu dengan keluarga. Beberapa pekerjaan sekolah bahkan harus diselesaikan di luar jam kerja, sehingga waktu bersama keluarga menjadi terbatas.
Mengukur Keseimbangan Kerja dan Kepuasan
Ananda dan Mulyana menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh 35 guru perempuan menikah di SDN Cipageran Mandiri 1 sebagai responden. Karena jumlah populasinya relatif kecil, seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Data diperoleh melalui wawancara awal, kuesioner, studi kepustakaan, serta dokumentasi berupa data keterlambatan guru. Kuesioner menggunakan skala 1 sampai 5 untuk mengukur persepsi responden mengenai keseimbangan kehidupan kerja dan kepuasan kerja. Data kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 27 dengan analisis deskriptif dan regresi linear sederhana.
Dalam penelitian ini, keseimbangan kehidupan kerja dilihat melalui tiga aspek utama, yakni keseimbangan waktu, keseimbangan keterlibatan, dan keseimbangan kepuasan. Sementara itu, kepuasan kerja diukur melalui sejumlah indikator yang berkaitan dengan pergantian pegawai, tingkat ketidakhadiran, kondisi pekerjaan, dan aspek organisasi.
Work-Life Balance Guru Tergolong Seimbang
Hasil penelitian menunjukkan skor rata-rata work-life balance sebesar 3,94, yang masuk kategori seimbang.
Dari tiga aspek yang diukur, satisfaction balance atau keseimbangan kepuasan memperoleh skor tertinggi, yaitu 4,02. Berikutnya adalah involvement balance dengan skor 4,00, sedangkan time balance menjadi aspek dengan skor terendah, yakni 3,80.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa secara umum para guru mampu menjalankan tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara cukup seimbang. Namun, pengaturan waktu masih menjadi bagian yang paling perlu diperbaiki.
Kondisi ini sejalan dengan rekomendasi peneliti agar sekolah memperhatikan pembagian beban kerja, mengatur jadwal kegiatan secara lebih efektif, serta mendistribusikan tugas secara proporsional. Langkah tersebut dinilai dapat membantu guru menjalankan peran sebagai pendidik tanpa mengabaikan tanggung jawab personal dan keluarga.
Kepuasan Kerja Guru Sangat Tinggi
Di sisi lain, tingkat kepuasan kerja responden memperoleh skor rata-rata 4,30, yang termasuk kategori sangat puas.
Aspek dengan skor tertinggi adalah tingkat ketidakhadiran atau absenteeism rate, sebesar 4,46. Berikutnya adalah employment level dan organization size, yang masing-masing memperoleh skor 4,28. Sementara itu, employee turnover mendapatkan skor terendah, yaitu 4,17, meskipun masih berada dalam kategori sangat puas.
Temuan utama penelitian terlihat dari analisis regresi. Persamaan yang diperoleh adalah Y = 23,406 + 0,319X. Koefisien positif 0,319 menunjukkan bahwa peningkatan keseimbangan kehidupan kerja diikuti peningkatan kepuasan kerja.
Uji statistik juga menunjukkan hubungan tersebut signifikan. Nilai t hitung mencapai 2,369, lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 1,692, dengan nilai signifikansi 0,024, lebih kecil dari batas 0,05. Dengan demikian, hipotesis bahwa work-life balance memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan kerja dapat diterima.
Meski demikian, pengaruh work-life balance bukan satu-satunya penentu kepuasan kerja. Nilai R Square sebesar 0,145 menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja menjelaskan sekitar 14,5 persen variasi kepuasan kerja. Sebanyak 85,5 persen lainnya berkaitan dengan faktor-faktor lain di luar cakupan penelitian.
Implikasi bagi Sekolah dan Guru
Bagi pengelola sekolah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan yang membantu guru mengelola waktu dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kepuasan kerja. Sekolah dapat memperbaiki pembagian tugas, menyusun jadwal kegiatan secara lebih efektif, serta menjaga komunikasi antara pimpinan dan guru.
Peneliti juga merekomendasikan pemberian apresiasi atas kinerja, penciptaan lingkungan kerja yang kondusif, dan kesempatan pengembangan kompetensi. Untuk persoalan keterlambatan, penelitian merekomendasikan adanya toleransi tertentu dengan mempertimbangkan kondisi khusus guru, terutama mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga, tanpa mengabaikan kedisiplinan.
Ananda dan Mulyana menekankan bahwa keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal dapat membantu guru menjalankan kedua peran tersebut secara lebih harmonis. Namun, karena pengaruh work-life balance hanya mencapai 14,5 persen, penelitian lanjutan perlu melihat faktor lain seperti beban kerja, lingkungan kerja, gaya kepemimpinan, kompensasi, dan stres kerja.
Profil Penulis
Rastia Dewi Ananda — penulis pertama dan corresponding author, berafiliasi dengan Universitas Jenderal Achmad Yani. Penelitian ini berfokus pada work-life balance dan kepuasan kerja guru perempuan menikah di sekolah dasar. Gelar akademik Ananda tidak dicantumkan dalam artikel sumber.
Aam Rachmat Mulyana — penulis kedua, berafiliasi dengan Universitas Jenderal Achmad Yani. Bidang penelitian yang tercermin dalam artikel berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia, khususnya keseimbangan kehidupan kerja dan kepuasan kerja. Gelar akademik Mulyana tidak dicantumkan dalam artikel sumber.
Sumber Penelitian
Artikel: “The Effect of Work Life Balance on Job Satisfaction of Married Female Teachers at Elementary School Cipageran Mandiri 1, Cimahi City”
Penulis: Rastia Dewi Ananda dan Aam Rachmat Mulyana
Jurnal: Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM)
Volume 5, Nomor 3, 2026, halaman 821–830.
DOI: 10.55927/ajabm.v5i3.69.
0 Komentar