Keramahan Alkitabiah dan Pembentukan Komunitas Gereja yang Kontekstual di Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Mengembalikan Esensi Gereja: Teologi Hospitalitas Alkitabiah Menjadi Kunci Membangun Komunitas Inklusif di Indonesia. Temuan ini diungkapkan dalam riset Yoas Tanugraha dari Sekolah Tinggi Theologi IKAT Jakarta bekerjasama dengan Benny Sinaga dari Sekolah Tinggi Theologi HKBP Pematangsiantar dalam artikel agama yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa Fenomena ini menyebabkan hilangnya esensi keterbukaan serta kehangatan relasi antarmanusia yang sejati.

Mengapa Hospitalitas Bergeser di Gereja Modern?
Kehidupan bermasyarakat modern dan ketergantungan pada komunikasi digital berdampak signifikan terhadap dinamika komunitas keagamaan. Banyak gereja di Indonesia kini mengarahkan pelayanannya pada struktur organisasi, target program, dan seremoni formal. Akibatnya, keramahtamahan sering kali menyempit menjadi sebatas rutinitas formalitas—seperti sapaan singkat di pintu masuk atau basa-basi usai ibadah. Kondisi tersebut berdampak pada munculnya eksklusivitas yang tidak disadari. Jemaat baru, pendatang, atau individu dari latar belakang berbeda kerap kali mengalami kesulitan untuk diterima secara utuh. Padahal, Alkitab menempatkan keramahtamahan dan keterbukaan terhadap orang asing bukan sekadar norma etika kesopanan, melainkan perintah iman mendasar yang menghubungkan pengalaman hidup manusia dengan Allah.

Metodologi Penelitian Teologis dan Komparatif
Penelitian yang dilakukan oleh Yoas Tanugraha dan Benny Sinaga menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis yang mengintegrasikan teologi Alkitab, hermeneutika kontekstual, serta pendekatan sosio-historis. Peneliti menganalisis secara mendalam teks-teks Alkitab kunci, antara lain:
  • Perjanjian Lama: Kejadian 18:1–8 (kisah Abraham menyambut tiga orang asing) dan Imamat 19:33–34 (perintah mengasihi orang asing).
  • Perjanjian Baru: Kisah Para Rasul 16:13–40 (kisah Lydia dan kepala penjara Filipi), Roma 12:13, serta Ibrani 13:2.
Selain itu, peneliti melakukan dialog kontekstual dengan membandingkan nilai hospitalitas Alkitab dengan tradisi budaya lokal, seperti tradisi pernikahan Tionghoa (prosesi Sangjit dan perjamuan makan), budaya Batak, Papua, dan Manado.

Temuan Utama: Perjalanan Teologi Hospitalitas
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep keramahtamahan mengalami perkembangan substansial dari Kitab Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru:
  • Respons Perjanjian terhadap Allah di Perjanjian Lama: Pada tradisi Perjanjian Lama, hospitalitas lahir dari ingatan kolektif bangsa Israel yang pernah menjadi orang asing di Mesir dan diselamatkan oleh Allah. Menyerahkan perlindungan dan makanan kepada orang asing (ger) merupakan bentuk ketaatan pada hukum perjanjian (covenantal order). Rumah dan kemah berfungsi sebagai tempat perjumpaan ilahi (theophany).
  • Sarana Misi dan Pembentukan Komunitas di Perjanjian Baru: Di Perjanjian Baru, keramahtamahan berkembang menjadi alat misi yang aktif (missio Dei). Gereja mula-mula tumbuh tanpa gedung megah, melainkan berakar pada jaringan rumah-rumah terbuka (house churches).
  • Kisah Lydia dan Kepala Penjara Filipi: Menjadi bukti konkret bagaimana rumah yang dibuka bagi rasul dan sesama bertransformasi menjadi basis komunitas iman (koinonia).
  • Kesetaraan Struktural Lintas Tradisi: Penelitian menemukan empat persamaan struktural antara hospitalitas Alkitab dan tradisi lokal seperti pernikahan Tionghoa, yaitu penerimaan terhadap "orang asing/yang lain", pentingnya perjamuan makan bersama, kelimpahan hidangan sebagai penanda penghormatan, dan pelindungan terhadap martabat/kehormatan sosial.
Implikasi dan Model Gereja Kontekstual di Indonesia
Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dengan merumuskan empat dimensi model hospitalitas gereja yang kontekstual bagi Indonesia:
  • Hospitalitas Relasional: Mengembalikan fokus pelayanan pada kedalaman hubungan antarmanusia secara tulus, bukan sekadar memadati agenda organisasi.
  • Hospitalitas Komunal Berbasis Rumah: Menghidupkan kembali persekutuan kelompok kecil di rumah-rumah jemaat yang menciptakan suasana hangat, jujur, dan saling menopang.
  • Hospitalitas Kultural: Memanfaatkan nilai keramahtamahan lokal—seperti budaya keterbukaan rumah dalam tradisi Batak, kehangatan perjamuan Tionghoa, hingga semangat kekeluargaan masyarakat Papua dan Manado—sebagai jembatan kontekstualisasi iman.
  • Hospitalitas Misiologis: Menyampaikan kabar baik melalui tindakan nyata menyambut, melayani, dan hadir bagi sesama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Dampak dari penerapan model ini sangat relevan bagi penguatan toleransi sosial, pencegahan konflik keagamaan, serta pembangunan komunitas yang responsif terhadap kelompok rentan dan marjinal di Indonesia.

Profil Penulis
Yoas Tanugraha, S.Th., M.Th. – Peneliti dan pengajar di Sekolah Tinggi Theologi (STT) IKAT Jakarta. Bidang keahliannya meliputi Teologi Alkitabiah, Hermeneutika Kontekstual, dan Studi Gereja Kontekstual.
Benny Sinaga, S.Th., M.Th. – Akademisi dan peneliti di Sekolah Tinggi Theologi (STT) HKBP Pematangsiantar. Berfokus pada keahlian Teologi Praktika, Eklesiologi, serta Hubungan Agama dan Budaya.

Sumber Penelitian
Yoas Tanugraha, 
Benny Sinaga. Biblical Hospitality and the Formation of Contextual Church Communities in Indonesia. Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET). Vol. 5, No. 2, hlm. 183–196)
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i2.20
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijcet

Posting Komentar

0 Komentar