Kepemimpinan Transformasional Dinilai Perkuat Kualitas Layanan di Wisma DPR RI


Gambar dibuat oleh AI

Bogor, Formosa News — Kepemimpinan transformasional di Wisma DPR RI dinilai berada dalam kategori baik dan turut mendukung terciptanya layanan yang lebih terkoordinasi, komunikatif, dan responsif. Temuan tersebut berasal dari penelitian Naufal Maulana Mumtaz, Otje Subagdja, dan Irma Purnamasari dari Universitas Djuanda Bogor, yang diterbitkan pada 2026. Penelitian melibatkan 93 pegawai dan 65 pengguna layanan Wisma DPR RI untuk melihat penerapan kepemimpinan transformasional melalui motivasi, keteladanan, keterbukaan terhadap gagasan, serta perhatian terhadap kebutuhan pegawai.

Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kepemimpinan transformasional mencapai 4,03 dari pegawai dan 4,11 dari pengguna layanan. Kedua nilai tersebut masuk kategori “baik” berdasarkan skala penilaian yang digunakan peneliti. Hasil ini menunjukkan adanya penilaian positif baik dari pihak internal maupun pengguna layanan terhadap praktik kepemimpinan di Wisma DPR RI.

Kepemimpinan Tidak Hanya Soal Memberikan Instruksi

Dalam organisasi pelayanan publik, kepemimpinan memiliki peran penting dalam mengarahkan pekerjaan sekaligus membangun budaya kerja yang produktif. Pemimpin tidak hanya dituntut memastikan pekerjaan berjalan sesuai prosedur, tetapi juga mendorong pegawai memahami tujuan organisasi dan kebutuhan pengguna layanan.

Penelitian dari Universitas Djuanda Bogor menggunakan konsep kepemimpinan transformasional yang melihat kepemimpinan melalui empat dimensi utama, yaitu pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan perhatian individual.

Pengaruh ideal berkaitan dengan kemampuan pemimpin menjadi teladan melalui integritas, tanggung jawab, dan etika kerja. Motivasi inspirasional berhubungan dengan kemampuan membangun semangat dan komitmen bersama.

Sementara itu, stimulasi intelektual mendorong pegawai untuk berpikir kreatif, mengemukakan gagasan, serta mencari alternatif penyelesaian masalah. Perhatian individual menitikberatkan pada kebutuhan, aspirasi, dan pengembangan setiap pegawai.

Penelitian Melibatkan 158 Responden

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data diperoleh melalui kuesioner dengan skala Likert, kemudian dilengkapi observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan.

Penelitian dilakukan di Wisma DPR RI yang berada di Jalan Raya Puncak–Cianjur No. 477, Kopo, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Populasi penelitian terdiri atas 121 pegawai atau staf pengelola Wisma DPR RI serta 77 pengguna layanan.

Dari populasi tersebut, peneliti mengambil 93 pegawai dan 65 pengguna layanan sebagai responden. Instrumen penelitian terdiri atas 15 pernyataan untuk mengukur kepemimpinan transformasional.

Hasil pengujian menunjukkan seluruh 15 pernyataan dinyatakan valid. Tingkat keandalan instrumen juga tergolong baik, dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,807 untuk responden pegawai dan 0,873 untuk pengguna layanan.

Empat Dimensi Kepemimpinan Mendapat Penilaian Baik

Penilaian pegawai terhadap empat dimensi kepemimpinan transformasional menunjukkan hasil positif:

  • Pengaruh ideal: 3,92
  • Motivasi inspirasional: 4,09
  • Stimulasi intelektual: 4,09
  • Perhatian individual: 4,03

Sementara dari pengguna layanan, hasilnya adalah:

  • Pengaruh ideal: 4,09
  • Motivasi inspirasional: 4,13
  • Stimulasi intelektual: 4,19
  • Perhatian individual: 4,05

Seluruh dimensi tersebut berada dalam kategori baik.

Nilai tertinggi dari pengguna layanan terdapat pada dimensi stimulasi intelektual, yakni 4,19. Hasil ini menunjukkan adanya penilaian positif terhadap keterbukaan dalam berdiskusi dan mencari alternatif penyelesaian pekerjaan.

Salah satu indikator bahkan memperoleh nilai 4,38, yaitu keterbukaan pemimpin dalam mendiskusikan cara alternatif untuk menyelesaikan tugas pelayanan. Menurut peneliti, hasil tersebut menggambarkan pentingnya komunikasi terbuka dan partisipasi dalam menyelesaikan persoalan pelayanan.

Motivasi Pemimpin Dinilai Mampu Menghubungkan Pekerjaan dengan Tujuan Organisasi

Dimensi motivasi inspirasional juga memperoleh penilaian tinggi. Pegawai memberikan nilai rata-rata 4,09, sedangkan pengguna layanan memberikan 4,13.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dinilai mampu memberikan arahan, membangun semangat kerja, serta menjelaskan pentingnya kualitas pelayanan bagi keberhasilan organisasi.

Dari sisi pengguna layanan, kemampuan pemimpin menghubungkan pekerjaan sehari-hari pegawai dengan tujuan organisasi memperoleh nilai 4,26, yang masuk kategori sangat baik.

Sementara itu, pegawai memberikan nilai 4,18 terhadap kemampuan pemimpin menjelaskan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan rutin dapat menjadi lebih bermakna ketika pegawai memahami hubungan antara tugas sehari-hari dengan tujuan organisasi yang lebih luas.

Kepercayaan dan Tanggung Jawab Menjadi Salah Satu Kekuatan

Pada dimensi pengaruh ideal, pegawai memberikan nilai 3,92, sedangkan pengguna layanan memberikan 4,09.

Indikator dengan nilai tinggi adalah persepsi bahwa pemimpin merupakan sosok yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Pegawai memberikan nilai 4,27 untuk indikator tersebut, yang masuk kategori sangat baik.

Hasil ini menunjukkan bahwa pegawai melihat pemimpin sebagai sosok yang dapat menjadi teladan dalam menjalankan tanggung jawab organisasi.

Namun, terdapat satu aspek yang masih dapat diperkuat, yaitu konsistensi dalam kedisiplinan, ketepatan waktu, dan kualitas pekerjaan. Indikator tersebut memperoleh nilai 3,40 dari pegawai, menjadi nilai terendah dalam rangkuman indikator penelitian.

Peneliti menempatkan temuan tersebut sebagai ruang penguatan agar keteladanan kepemimpinan semakin konsisten dalam praktik kerja sehari-hari.

Perhatian terhadap Pegawai Masih Bisa Diperkuat

Dimensi perhatian individual memperoleh nilai 4,03 dari pegawai dan 4,05 dari pengguna layanan.

Dimensi ini berkaitan dengan perhatian pemimpin terhadap kebutuhan, aspirasi, potensi, dan perkembangan pegawai.

Mumtaz, Subagdja, dan Purnamasari menyebut penguatan dapat dilakukan melalui mekanisme pembinaan yang lebih terstruktur, seperti evaluasi rutin, pengarahan sebelum pelayanan, pendampingan bagi pegawai baru, serta pemberian umpan balik terhadap kontribusi pegawai.

Langkah tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang memberikan ruang bagi pegawai untuk berkembang sekaligus memahami kontribusi mereka terhadap organisasi.

Implikasi bagi Pengelolaan Pelayanan Publik

Temuan dari Universitas Djuanda Bogor memberikan sejumlah masukan bagi pengelolaan organisasi pelayanan.

Keterbukaan terhadap gagasan dapat dipertahankan sebagai bagian dari proses penyelesaian masalah. Forum evaluasi dan inovasi juga dapat menjadi ruang bagi pegawai untuk menyampaikan ide terkait peningkatan pelayanan.

Peneliti juga merekomendasikan penguatan keteladanan dalam hal kedisiplinan, ketepatan waktu, dan kualitas pekerjaan. Selain itu, pengarahan pelayanan secara rutin, pemberian umpan balik, pembinaan individual, serta bentuk apresiasi terhadap kontribusi positif pegawai dapat mendukung penerapan kepemimpinan transformasional.

Menurut Naufal Maulana Mumtaz, Otje Subagdja, dan Irma Purnamasari dari Universitas Djuanda Bogor, kepemimpinan transformasional tidak hanya berkaitan dengan pemberian arahan, tetapi juga kemampuan membangun motivasi, membuka ruang gagasan, mendorong kreativitas, serta memperhatikan perkembangan pegawai. Temuan mereka menunjukkan bahwa keempat unsur tersebut telah terlihat dalam pengelolaan layanan di Wisma DPR RI dan masih dapat terus dikembangkan.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Data berasal dari pegawai dan pengguna layanan Wisma DPR RI sehingga hasilnya tidak secara otomatis dapat digeneralisasi ke seluruh unit kerja lembaga legislatif atau organisasi pelayanan publik lainnya. Peneliti merekomendasikan penelitian berikutnya menggunakan objek yang lebih luas serta pendekatan kualitatif atau metode gabungan untuk menggali pengalaman pegawai dan dinamika kepemimpinan secara lebih mendalam.

Profil Penulis

Naufal Maulana Mumtaz, Otje Subagdja, dan Irma Purnamasari berasal dari Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda Bogor. Bidang kajian artikel ini mencakup kepemimpinan transformasional, administrasi publik, pengelolaan organisasi, pengembangan pegawai, dan pelayanan publik.


Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of Transformational Leadership in The Wisma DPR Republik Indonesia
Penulis: Naufal Maulana Mumtaz, Otje Subagdja, Irma Purnamasari
Afiliasi: Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda Bogor
Jurnal: International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS)
Tahun Publikasi: 2026
Volume: 4, Nomor 7
Halaman: 683–696
DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i7.34
Website Jurnal: https://ijarss.my.id/index.php/ijarss/index

Posting Komentar

0 Komentar