Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi Tingkatkan Komitmen Karyawan BPR

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandung — Gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi terbukti berpengaruh positif terhadap komitmen karyawan di bidang operasional PT BPR XYZ. Temuan tersebut diperoleh Dian Adzani dan Khaerul Rizal Abdurahman dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), melalui penelitian kuantitatif terhadap 30 karyawan operasional yang memiliki masa kerja minimal dua tahun. Hasil ini penting bagi perusahaan karena komitmen karyawan berkaitan dengan keterikatan terhadap organisasi, kesediaan berkontribusi, dan keinginan untuk tetap menjadi bagian dari perusahaan.

Penelitian yang dimuat pada Formosa Journal of Multidisciplinary Research Volume 5 Nomor 8 Tahun 2026 berangkat dari persoalan keterlibatan karyawan dalam kegiatan pelatihan perusahaan. Data internal PT BPR XYZ selama 2025 menunjukkan tingkat kehadiran karyawan operasional dalam pelatihan masih berfluktuasi. Kehadiran tercatat 77 persen pada kuartal I, turun menjadi 70 persen pada kuartal II, naik sedikit menjadi 73 persen pada kuartal III, kemudian kembali turun menjadi 67 persen pada kuartal IV. Pada periode terakhir, 10 dari 30 karyawan tercatat tidak hadir dalam kegiatan pelatihan.

Bagi peneliti, kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa komitmen sebagian karyawan masih perlu diperkuat. Komitmen organisasi tidak hanya berkaitan dengan keinginan seseorang untuk bertahan di perusahaan, tetapi juga mencakup keterikatan psikologis, rasa tanggung jawab, serta kemauan memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan organisasi.

Kepemimpinan masih perlu memberi ruang lebih besar bagi karyawan

Dian Adzani dan Khaerul Rizal Abdurahman menemukan bahwa penerapan gaya kepemimpinan transformasional di PT BPR XYZ secara umum sudah tergolong kuat. Dari empat aspek yang dinilai, idealized influence atau kemampuan pemimpin menjadi teladan memperoleh nilai rata-rata tertinggi, yakni 4,21.

Aspek inspirational motivation memperoleh skor 4,18, intellectual stimulation 4,20, sedangkan individualized consideration atau perhatian terhadap kebutuhan dan perkembangan masing-masing karyawan mendapat skor 4,13. Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan transformasional memperoleh nilai rata-rata 4,18 dan masuk kategori kuat.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemimpin dinilai mampu memberikan motivasi, menjadi contoh, mendorong inovasi, dan membangun hubungan positif dengan karyawan. Namun, skor terendah pada aspek perhatian individual menunjukkan masih ada ruang untuk memperkuat perhatian terhadap kebutuhan dan pengembangan setiap pekerja.

Peneliti merekomendasikan perusahaan meningkatkan motivasi, memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan karyawan, serta lebih terbuka dalam menerima gagasan dan masukan dari pekerja.

Budaya organisasi juga tergolong kuat

Selain kepemimpinan, budaya organisasi di PT BPR XYZ dinilai berada dalam kategori kuat dengan skor rata-rata 3,93.

Aspek orientasi individu memperoleh skor tertinggi, yaitu 4,03. Ini menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan, kesejahteraan, dan kontribusi masing-masing karyawan. Sementara itu, aspek perhatian terhadap detail menjadi yang terendah dengan skor 3,86, meski tetap berada dalam kategori kuat.

Budaya organisasi yang kuat dinilai dapat membantu membentuk perilaku kerja positif, memperkuat kerja sama, serta menjadi pedoman bagi karyawan dalam menjalankan pekerjaan dan mengejar tujuan perusahaan.

Peneliti menyarankan PT BPR XYZ memperkuat budaya organisasi melalui komunikasi, koordinasi, dan internalisasi nilai-nilai perusahaan secara lebih merata kepada seluruh karyawan. Kesempatan pengembangan juga perlu diberikan secara adil agar keterikatan karyawan terhadap organisasi semakin kuat.

Komitmen karyawan berada dalam kategori kuat

Menariknya, meski terdapat persoalan kehadiran dalam kegiatan pelatihan, tingkat komitmen organisasi karyawan secara keseluruhan tetap berada dalam kategori kuat. Skor rata-ratanya mencapai 4,02.

Dari tiga dimensi yang diukur, normative commitment atau rasa tanggung jawab dan kewajiban moral untuk tetap menjadi bagian organisasi memperoleh skor tertinggi, yaitu 4,06. Affective commitment memperoleh skor 4,01, sedangkan ongoing commitment mencapai 4,00.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa karyawan operasional PT BPR XYZ secara umum memiliki keterikatan yang baik terhadap perusahaan, bersedia memberikan kontribusi, dan memiliki keinginan untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi.

Dua faktor menjelaskan 53,8 persen variasi komitmen

Analisis statistik memberikan bukti lebih lanjut mengenai hubungan ketiga variabel tersebut. Model regresi menghasilkan koefisien positif sebesar 0,309 untuk gaya kepemimpinan transformasional dan 0,219 untuk budaya organisasi. Artinya, peningkatan kualitas kedua faktor tersebut berkaitan dengan peningkatan komitmen organisasi.

Secara bersama-sama, gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi menjelaskan 53,8 persen variasi komitmen organisasi karyawan. Sementara 46,2 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak diteliti dalam studi ini.

Uji parsial menunjukkan pengaruh gaya kepemimpinan transformasional signifikan dengan nilai t 2,852 dan signifikansi 0,008. Budaya organisasi juga berpengaruh signifikan dengan nilai t 2,057 dan signifikansi 0,049. Ketika diuji secara bersamaan, kedua variabel menghasilkan nilai F sebesar 15,722 dengan signifikansi 0,001, yang menunjukkan pengaruh simultan terhadap komitmen organisasi.
Dengan kata lain, semakin baik kepemimpinan transformasional dan semakin kuat budaya organisasi yang diterapkan, semakin tinggi pula komitmen karyawan yang terukur dalam penelitian tersebut.

Implikasi bagi dunia perbankan

Dian Adzani dan Khaerul Rizal Abdurahman menilai perusahaan perlu melihat komitmen karyawan bukan sekadar persoalan bertahan atau tidak bertahan di tempat kerja. Cara pemimpin berkomunikasi, memberi motivasi, mendengarkan gagasan, serta menyediakan kesempatan pengembangan dapat menjadi bagian penting dalam membangun keterikatan karyawan.

Bagi perusahaan perbankan, temuan ini relevan karena kualitas operasional sangat bergantung pada konsistensi perilaku dan tanggung jawab karyawan. Kepemimpinan yang mampu menginspirasi sekaligus memperhatikan kebutuhan individu, ditambah budaya organisasi yang diterapkan secara konsisten, berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang lebih kondusif.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini belum dapat digeneralisasi secara luas karena responden hanya berasal dari bagian operasional satu perusahaan. Penelitian berikutnya disarankan melibatkan lebih banyak perusahaan dan sektor serta mempertimbangkan faktor lain seperti kepuasan kerja, motivasi, beban kerja, lingkungan kerja, kompensasi, work-life balance, dan perilaku kewargaan organisasi.

Profil Penulis

Dian Adzani — penulis utama dan corresponding author, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Bidang penelitian dalam artikel ini berfokus pada manajemen sumber daya manusia, khususnya kepemimpinan transformasional, budaya organisasi, dan komitmen organisasi. Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik Dian Adzani.

Khaerul Rizal Abdurahman — penulis kedua dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun profil keahlian yang lebih rinci.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Transformational Leadership Style and Organizational Culture on Employee Organizational Commitment in the Operational Field at PT BPR XYZ
Penulis: Dian Adzani dan Khaerul Rizal Abdurahman
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 2549–2564
DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.153

Posting Komentar

0 Komentar