Kepemimpinan Hijau dan Inovasi Pegawai Tingkatkan Kinerja Berkelanjutan di Bakamla RI

Ilustrasi by AI

Jakarta — Kepemimpinan yang mendorong kepedulian lingkungan, keterlibatan pegawai, dan budaya organisasi hijau terbukti meningkatkan kinerja pegawai secara berkelanjutan di Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI). Temuan tersebut diungkap Winda Lisnawati dan Agus Arijanto dari Universitas Mercu Buana melalui penelitian terhadap 165 pegawai di Kantor Pusat Bakamla RI, Jakarta, pada 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku inovasi hijau menjadi penghubung penting yang membantu menerjemahkan kepemimpinan, keterlibatan pegawai, dan budaya organisasi menjadi kinerja berkelanjutan.

Tuntutan terhadap organisasi publik kini tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target kerja, tetapi juga kemampuan menjaga kinerja dalam jangka panjang sekaligus merespons persoalan sosial dan lingkungan. Dalam konteks tersebut, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan organisasi, tetapi juga oleh bagaimana pegawai menggunakan sumber daya, beradaptasi dengan perubahan, dan menemukan cara kerja yang lebih efektif serta ramah lingkungan.

Persoalan tersebut menjadi relevan bagi Bakamla RI sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tanggung jawab dalam keamanan dan keselamatan maritim Indonesia. Lingkungan kerja yang berkaitan dengan aktivitas maritim membutuhkan pegawai yang mampu menjalankan tugas secara konsisten, beradaptasi dengan tuntutan operasional, dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab.

Data awal dalam penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk memperkuat praktik keberlanjutan di lingkungan Bakamla RI. Indeks BerAKHLAK meningkat dari 53,8 pada 2023 menjadi 74,47 pada 2024, tetapi masih berada di bawah ambang sehat 80. Sementara itu, skor SAKIP meningkat dari 55,24 pada 2020 menjadi 63,56 pada 2024. Survei awal terhadap 30 pegawai juga menemukan bahwa baru 46,7 persen responden merasa pemimpin memberikan contoh perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Hanya 40 persen yang menyatakan menggunakan metode kerja hemat lingkungan, sedangkan 20 persen melaporkan secara aktif mencari solusi kreatif untuk mengurangi risiko lingkungan.

Di sisi lain, keterlibatan pegawai menunjukkan kondisi yang lebih kuat. Sebanyak 83,3 persen responden dalam survei awal menganggap pekerjaan mereka bermakna. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa energi dan keterlibatan pegawai sudah menjadi modal penting, tetapi masih perlu diarahkan lebih jauh agar menghasilkan inovasi yang mendukung keberlanjutan.

Winda Lisnawati dan Agus Arijanto kemudian menguji hubungan antara Green Transformational Leadership, Employee Engagement, Green Organizational Culture, Green Innovation Behavior, dan Sustainable Employee Performance. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi 282 pegawai Bakamla RI di Kantor Pusat Jakarta. Sebanyak 165 responden dipilih menggunakan simple random sampling berdasarkan perhitungan Slovin dengan tingkat kesalahan 5 persen. Data dikumpulkan melalui kuesioner lima tingkat dan dianalisis menggunakan PLS-SEM dengan SmartPLS 4.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh 10 hipotesis yang diuji mendapatkan dukungan. Kepemimpinan transformasional hijau memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja berkelanjutan dengan koefisien 0,326 dan nilai signifikansi di bawah 0,001. Artinya, semakin kuat pemimpin memberikan teladan, arahan, dan dorongan terhadap perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, semakin baik pula kinerja berkelanjutan pegawai.

Keterlibatan pegawai juga berpengaruh positif terhadap kinerja berkelanjutan. Koefisiennya mencapai 0,213 dengan signifikansi 0,016. Pegawai yang memiliki energi, dedikasi, dan keterlibatan psikologis yang lebih tinggi dalam pekerjaan cenderung menunjukkan kinerja yang lebih konsisten dan mampu beradaptasi terhadap tuntutan pekerjaan.

Budaya organisasi hijau turut memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja berkelanjutan dengan koefisien 0,179 dan signifikansi 0,016. Ketika kepedulian lingkungan menjadi nilai bersama dan diterapkan dalam rutinitas organisasi, pegawai memperoleh panduan yang lebih jelas mengenai penggunaan sumber daya secara efisien, pengurangan limbah, dan penerapan praktik kerja yang bertanggung jawab.

Ketiga faktor tersebut juga terbukti mendorong perilaku inovasi hijau. Kepemimpinan transformasional hijau memiliki koefisien 0,215, keterlibatan pegawai 0,324, dan budaya organisasi hijau 0,288, semuanya signifikan secara statistik. Di antara ketiganya, keterlibatan pegawai memberikan pengaruh paling kuat terhadap perilaku inovasi hijau.

Temuan paling kuat terlihat pada hubungan antara Green Innovation Behavior dan Sustainable Employee Performance. Koefisien pengaruhnya mencapai 0,336, dengan nilai t 4,272 dan signifikansi di bawah 0,001. Perilaku inovasi hijau menjadi faktor langsung dengan pengaruh terbesar terhadap kinerja berkelanjutan dalam model penelitian.

Dalam praktiknya, perilaku inovasi hijau dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan kertas melalui digitalisasi, memperbaiki alur informasi, menyederhanakan prosedur administrasi, mengoptimalkan penggunaan teknologi, dan mengurangi konsumsi sumber daya yang tidak diperlukan. Dengan demikian, inovasi hijau tidak hanya dipandang sebagai program organisasi, tetapi sebagai perilaku pegawai dalam memperbaiki cara kerja sehari-hari.

Perilaku inovasi hijau juga terbukti menjadi mediator antara ketiga faktor organisasi dan kinerja berkelanjutan. Pengaruh tidak langsung kepemimpinan transformasional hijau terhadap kinerja melalui inovasi hijau mencapai 0,072, keterlibatan pegawai sebesar 0,109, dan budaya organisasi hijau sebesar 0,097. Seluruh hubungan tersebut signifikan. Artinya, kepemimpinan, keterlibatan, dan budaya organisasi tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga meningkatkan kinerja dengan mendorong pegawai menghasilkan, menyebarkan, dan menerapkan ide-ide ramah lingkungan.

Model penelitian mampu menjelaskan 73,1 persen variasi kinerja pegawai berkelanjutan. Sementara itu, kepemimpinan transformasional hijau, keterlibatan pegawai, dan budaya organisasi hijau menjelaskan 46,1 persen variasi perilaku inovasi hijau. Nilai tersebut menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan penjelasan yang kuat terhadap kinerja berkelanjutan pegawai Bakamla RI.

Bagi Bakamla RI, hasil penelitian memberikan arah praktis untuk mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam rutinitas kerja. Pemimpin dapat memperkuat pembinaan dan umpan balik mengenai efisiensi sumber daya, tanggung jawab lingkungan, inovasi, dan perbaikan proses kerja. Keterlibatan pegawai juga dapat diperkuat melalui penghargaan, kesempatan pelatihan, dan ruang untuk menyampaikan gagasan.

Budaya organisasi hijau juga dapat diterjemahkan menjadi target yang dapat dikendalikan langsung oleh setiap unit, misalnya mengurangi penggunaan kertas melalui digitalisasi, menghemat listrik dan air, mengurangi material sekali pakai, memilah sampah, dan menggunakan kembali peralatan yang masih layak. Organisasi juga dapat menyediakan saluran digital untuk menampung ide pegawai dan menguji gagasan yang memiliki manfaat serta dampak keberlanjutan sebelum diterapkan secara lebih luas.

Winda Lisnawati dan Agus Arijanto menyimpulkan bahwa kinerja pegawai yang berkelanjutan terbentuk dari keterkaitan antara kepemimpinan hijau, keterlibatan pegawai, budaya organisasi, dan perilaku inovasi. Kepemimpinan memberikan arah, keterlibatan menyediakan energi untuk bertindak, budaya organisasi membentuk norma bersama, sementara inovasi hijau mengubah seluruh sumber daya tersebut menjadi tindakan nyata yang mendukung kinerja berkelanjutan.

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena responden hanya berasal dari Kantor Pusat Bakamla RI di Jakarta. Karena itu, hasilnya belum dapat secara otomatis digeneralisasikan ke seluruh unit atau wilayah operasional Bakamla RI. Penelitian berikutnya dapat memperluas cakupan responden serta memasukkan faktor seperti Green Human Resource Management, komitmen organisasi, kepuasan kerja, pelatihan hijau, pengetahuan lingkungan, dan dukungan organisasi.

Penulis

Winda Lisnawati — Universitas Mercu Buana, Indonesia

Agus Arijanto — Universitas Mercu Buana, Indonesia

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Green Transformational Leadership, Employee Engagement, and Green Organizational Culture on Sustainable Employee Performance through Green Innovation Behavior: Evidence from the Indonesian Maritime Security Agency

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1677–1692.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.149

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar