Penelitian tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL) Volume 5 Nomor 3, halaman 203–216, dengan judul “Implementation of E-Leadership, Technology Competency, and Corporate Ethical Values to Improve Employee Performance in the Manufacturing Industry”.
Transformasi digital mengubah cara pemimpin bekerja
Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat perusahaan tidak hanya dituntut mengadopsi perangkat digital, tetapi juga mengubah cara pemimpin mengelola karyawan. Dalam konteks tersebut, e-leadership dipahami sebagai perpaduan gaya kepemimpinan transformasional dengan pemanfaatan teknologi digital.
Pemimpin digital tidak sekadar menggunakan teknologi untuk berkomunikasi. Mereka juga dituntut mampu membangun kepercayaan, menyampaikan gagasan melalui berbagai media, mendorong transformasi digital, serta memotivasi karyawan agar bekerja secara efektif.
Kebutuhan tersebut semakin penting di industri manufaktur yang sedang beradaptasi dengan transformasi digital. Penelitian Robbie dan Hilmi dilakukan karena masih terdapat persoalan ketika teknologi yang dikuasai pemimpin belum selalu dapat diterapkan secara optimal oleh karyawan. Penguasaan teknologi bahkan dapat menjadi beban apabila kemampuan karyawan tidak berkembang sejalan dengan perubahan sistem kerja.
Melibatkan 105 karyawan dari empat perusahaan
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kuesioner untuk mengukur empat aspek, yaitu e-leadership, kompetensi teknologi, corporate ethical values atau nilai etika perusahaan, serta kinerja karyawan.
Sebanyak 105 karyawan menjadi responden. Mereka berasal dari empat perusahaan mitra UMM, yakni PT Jaya Etika Beton, PT Loka Fiber Indonesia, PT Indotama Seraya Artha, dan CV Lumos Agro Karya. Responden dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, antara lain telah bekerja minimal dua tahun, menggunakan teknologi Excel VBA, dan merupakan bagian dari perusahaan mitra UMM.
Komposisi responden didominasi laki-laki sebanyak 75 orang atau 71 persen, sementara perempuan berjumlah 30 orang atau 29 persen. Kelompok usia terbesar berada pada rentang 33–42 tahun dengan 44 persen responden. Sebanyak 55 persen responden juga telah bekerja selama 6–10 tahun.
Data kemudian dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan SmartPLS untuk melihat hubungan antara kepemimpinan digital, kompetensi teknologi, nilai etika perusahaan, dan kinerja karyawan.
Kepemimpinan digital mendapat penilaian baik
Sebelum menguji hubungan antarvariabel, penelitian menggambarkan persepsi karyawan terhadap masing-masing aspek. Hasilnya, e-leadership memperoleh skor rata-rata 423 dan masuk kategori “baik”.
Artinya, karyawan menilai pemimpin mereka telah menunjukkan perilaku kerja yang berorientasi pada teknologi dan menjadi contoh bagi karyawan dalam menggunakan teknologi untuk pekerjaan.
Pengaruh terkuat datang dari e-leadership
Hasil pengujian statistik menunjukkan hubungan paling kuat terdapat pada e-leadership dan kinerja karyawan. Koefisien pengaruhnya tercatat sebesar 0,836 dengan nilai t-statistic 10,496 dan p-value 0,000. Angka tersebut memenuhi kriteria signifikansi yang digunakan peneliti, sehingga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan.
Dengan kata lain, semakin efektif kepemimpinan digital diterapkan, semakin tinggi pula kinerja karyawan yang diamati dalam penelitian ini.
Robbie dan Hilmi menjelaskan bahwa karyawan yang merasa terlibat dengan kepemimpinan digital cenderung lebih termotivasi menggunakan teknologi, memiliki rasa tanggung jawab lebih besar, serta lebih memperhatikan kualitas dan penyelesaian pekerjaan. Lingkungan kepemimpinan semacam ini dapat mendorong karyawan untuk memahami komponen digital dalam pekerjaan dan menghasilkan pekerjaan secara lebih cepat dan baik.
Kompetensi teknologi dan etika perusahaan membutuhkan perhatian
Temuan mengenai kompetensi teknologi dan nilai etika perusahaan lebih kompleks. Dalam tabel pengujian hipotesis, kompetensi teknologi memiliki koefisien -0,235 dengan t-statistic 1,931 dan p-value 0,054. Nilai tersebut belum memenuhi batas signifikansi 0,05 yang digunakan penelitian.
Sementara itu, corporate ethical values memiliki koefisien 0,249, t-statistic 1,684, dan p-value 0,093. Artinya, hubungan tersebut juga belum signifikan secara statistik.
Temuan ini perlu dibaca secara hati-hati karena terdapat ketidakkonsistenan di beberapa bagian artikel. Abstrak menyebut kompetensi teknologi dan nilai etika perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan tabel pengujian hipotesis menunjukkan keduanya tidak signifikan. Bagian kesimpulan juga menyatakan kompetensi teknologi berpengaruh positif dan signifikan, sementara nilai etika perusahaan positif tetapi tidak signifikan. Karena itu, hasil tabel pengujian hipotesis menjadi bagian yang paling tepat untuk dijadikan dasar pemberitaan mengenai signifikansi statistik.
Meski demikian, penelitian tetap menunjukkan pentingnya perusahaan memperhatikan pengembangan kompetensi teknologi. Peneliti menekankan bahwa pelatihan, pendidikan, dan program pengembangan kemampuan dapat membantu karyawan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Implikasi bagi perusahaan di era digital
Temuan penelitian memberikan pesan penting bagi perusahaan yang sedang melakukan transformasi digital. Investasi teknologi saja tidak cukup. Perusahaan juga membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi pengarah, komunikator, dan contoh dalam penggunaan teknologi.
Bagi dunia usaha, hasil ini dapat menjadi pertimbangan dalam mengembangkan program kepemimpinan digital. Pelatihan pemimpin tidak hanya perlu berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan memotivasi karyawan, mengomunikasikan perubahan, dan membangun tanggung jawab terhadap penggunaan teknologi.
Di sisi karyawan, peningkatan kompetensi digital tetap penting agar transformasi teknologi tidak menciptakan kesenjangan antara sistem yang digunakan perusahaan dan kemampuan orang yang menjalankannya.
Profil Penulis
R. Iqbal Robbie merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Malang dengan bidang keahlian yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia. Profil SINTA mencatat bidang risetnya pada Manajemen Sumber Daya Manusia.
Luqman Dzul Hilmi merupakan dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang. Profil resmi UMM juga mencantumkannya sebagai dosen pada Program Studi Manajemen.
0 Komentar