Bandung — Dukungan perusahaan terhadap inovasi dapat mendorong karyawan untuk lebih aktif mengubah dan mengembangkan cara mereka bekerja, yang kemudian memperkuat kebiasaan berbagi pengetahuan. Temuan tersebut diungkap Rania Apriella Putri Kurniawan, Anita Silvianita, dan Alex Winarno dari Telkom University, Bandung, melalui penelitian terhadap karyawan PT XZY di industri kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Job Crafting menjadi jalur penting yang menghubungkan dukungan terhadap inovasi dengan perilaku berbagi pengetahuan di lingkungan kerja.
Persaingan bisnis yang semakin dinamis membuat perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mampu mendorong inovasi sekaligus kolaborasi. Kemampuan menghasilkan ide baru tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada bagaimana karyawan berinteraksi, bekerja sama, dan berbagi pengalaman dengan rekan kerja. Berbagi pengetahuan menjadi penting karena memungkinkan pengalaman, informasi, dan keahlian yang dimiliki individu digunakan untuk mendukung pembelajaran bersama dan perkembangan organisasi.
Dalam konteks tersebut, dukungan terhadap inovasi mencakup dorongan dari atasan, ketersediaan sumber daya, fasilitas, penghargaan terhadap ide baru, serta lingkungan kerja yang memberikan ruang bagi karyawan untuk bereksperimen. Namun, dukungan perusahaan tidak selalu secara langsung membuat karyawan berbagi pengetahuan. Karyawan dapat terlebih dahulu merespons dukungan tersebut dengan mengubah cara mereka menjalankan pekerjaan.
Perubahan yang dilakukan karyawan secara proaktif inilah yang disebut Job Crafting. Konsep tersebut menggambarkan upaya karyawan untuk menyesuaikan pekerjaannya dengan kemampuan, kebutuhan, dan tujuan pribadi. Bentuknya dapat berupa mencari pelatihan, membangun hubungan kerja yang lebih kuat, meminta masukan, mencari sumber daya tambahan, atau mengambil tanggung jawab dan tantangan baru.
Penelitian Kurniawan, Silvianita, dan Winarno menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 100 karyawan PT XZY. Perusahaan tersebut bergerak di industri kreatif dengan populasi 388 karyawan. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sementara kebutuhan minimum sampel dihitung menggunakan G*Power dan menghasilkan angka 89 responden. Dengan 100 jawaban yang dapat dianalisis, jumlah sampel dinilai telah memenuhi kebutuhan penelitian.
Data diperoleh melalui kuesioner dengan skala lima tingkat, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Para peneliti mengukur tiga aspek utama, yaitu dukungan terhadap inovasi, Job Crafting, dan Knowledge Sharing atau berbagi pengetahuan. Analisis dilakukan menggunakan SmartPLS 4 untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Komposisi responden menunjukkan bahwa 61 persen merupakan perempuan dan 39 persen laki-laki. Kelompok usia terbesar berada pada rentang 31–35 tahun sebesar 31 persen, disusul kelompok usia 26–30 tahun sebesar 24 persen. Dari sisi pendidikan, 47 persen responden memiliki gelar sarjana, sedangkan 28 persen merupakan lulusan sekolah menengah atas. Responden berasal dari beberapa divisi, yaitu Supply Chain, Commercial Business, dan Business Support.
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan terhadap inovasi dan Job Crafting. Koefisien hubungan mencapai 0,577 dengan nilai signifikansi di bawah 0,001. Artinya, semakin kuat dukungan perusahaan terhadap inovasi, semakin besar kecenderungan karyawan untuk secara aktif menyesuaikan, mengembangkan, dan memperbaiki cara mereka bekerja.
Job Crafting juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan perilaku berbagi pengetahuan. Koefisiennya mencapai 0,685 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,001. Temuan ini menunjukkan bahwa karyawan yang lebih aktif mengembangkan pekerjaannya memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan rekan kerja, mencari informasi, bertukar pengalaman, dan membagikan pengetahuan.
Temuan yang paling menarik muncul pada peran Job Crafting sebagai penghubung. Pengaruh tidak langsung dukungan terhadap inovasi terhadap Knowledge Sharing melalui Job Crafting mencapai 0,421 dengan nilai signifikansi 0,002. Dengan demikian, Job Crafting terbukti menjadi mekanisme yang membantu mengubah dukungan perusahaan terhadap inovasi menjadi perilaku berbagi pengetahuan di antara karyawan.
Namun, penelitian juga menemukan hubungan langsung yang berbeda arah. Dukungan terhadap inovasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Knowledge Sharing dengan koefisien -0,247 dan nilai signifikansi 0,028. Para peneliti menjelaskan bahwa dalam konteks PT XZY, karyawan kemungkinan lebih banyak menggunakan dukungan inovasi untuk mengembangkan ide baru, memperbaiki pekerjaan pribadi, atau menyelesaikan tanggung jawab masing-masing sebelum secara langsung membagikan pengetahuan kepada rekan kerja.
Kondisi tersebut membuat pola hubungan antarvariabel menjadi menarik. Dukungan inovasi secara langsung justru berkaitan negatif dengan berbagi pengetahuan, tetapi ketika karyawan melakukan Job Crafting, hubungan tidak langsungnya berubah menjadi positif. Pola ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menyediakan fasilitas, dukungan manajerial, atau penghargaan terhadap inovasi. Perusahaan juga perlu menciptakan kondisi yang membuat karyawan terdorong mengambil inisiatif untuk mengembangkan pekerjaannya.
Model penelitian menjelaskan 33,3 persen variasi Job Crafting melalui dukungan terhadap inovasi. Sementara itu, dukungan terhadap inovasi dan Job Crafting secara bersama-sama menjelaskan 38,4 persen variasi perilaku berbagi pengetahuan. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Bagi perusahaan, temuan tersebut memberikan pesan bahwa budaya inovasi perlu dibangun bersama dengan ruang bagi karyawan untuk mengambil inisiatif. Karyawan yang diberi kesempatan mencari cara kerja baru, mengembangkan kemampuan, meminta masukan, membangun kolaborasi, dan mengambil tantangan dapat memiliki peluang lebih besar untuk bertukar pengetahuan dengan rekan kerja.
Dalam industri kreatif yang memiliki perubahan pekerjaan dan kebutuhan kolaborasi yang cepat, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya berkaitan dengan lahirnya ide baru, tetapi juga dengan perilaku karyawan dalam membentuk kembali pekerjaannya dan berinteraksi dengan lingkungan kerja.
Rania Apriella Putri Kurniawan, Anita Silvianita, dan Alex Winarno menyimpulkan bahwa Job Crafting memiliki peran signifikan dalam hubungan antara dukungan terhadap inovasi dan Knowledge Sharing. Mereka menilai bahwa perusahaan perlu mendorong dukungan terhadap inovasi sekaligus memberikan ruang bagi karyawan untuk secara proaktif membentuk dan mengembangkan pekerjaannya.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada satu organisasi di sektor industri kreatif dan menggunakan data satu periode, sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan secara langsung pada perusahaan atau industri lain. Penelitian lanjutan dengan organisasi dan sektor berbeda serta pengamatan dalam jangka waktu lebih panjang diperlukan untuk melihat bagaimana hubungan ketiga faktor tersebut berkembang.
Penulis
Rania Apriella Putri Kurniawan — Telkom University, Bandung
Anita Silvianita — Telkom University, Bandung
Alex Winarno — Telkom University, Bandung
Sumber Penelitian
Judul: The Role of Job Crafting in the Relationship between Support for Innovation and Knowledge Sharing at PT XZY
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3215–3230.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.252
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar