Jalan Baru, Mata Pencaharian Baru: Riset Ungkap Perubahan Besar di Desa Karang Anyer

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Medan - Pembangunan jalan di Desa Karang Anyer, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tidak hanya memperlancar akses transportasi, tetapi juga mengubah wajah ekonomi desa. Penelitian yang dilakukan Fahmi Anshori, bersama Badaruddin dan Lina Sudarwati dari Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2025 menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan memicu alih fungsi lahan sawah dan mengubah mata pencaharian sebagian petani menjadi pelaku usaha nonpertanian. Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur memiliki dampak ekonomi sekaligus konsekuensi sosial bagi masyarakat pedesaan.

Perubahan tersebut terjadi setelah jalan kabupaten yang selesai dibangun pada 2023 meningkatkan konektivitas desa dengan pusat-pusat ekonomi di sekitarnya. Akses yang lebih mudah membuat mobilitas masyarakat meningkat, nilai tanah melonjak, dan kawasan yang sebelumnya didominasi sawah mulai diminati untuk kegiatan usaha maupun permukiman.

Infrastruktur Mendorong Perubahan Fungsi Lahan

Sebelum pembangunan jalan, sebagian besar masyarakat Karang Anyer menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Sawah menjadi sumber utama pendapatan sekaligus penyedia kebutuhan pangan keluarga. Namun setelah akses jalan membaik, lahan di sepanjang koridor jalan mengalami perubahan fungsi secara bertahap.

Data penelitian menunjukkan luas sawah di Desa Karang Anyer berkurang dari 220 hektare pada 2022 menjadi 205 hektare pada 2025. Sebaliknya, lahan permukiman bertambah dari 85 hektare menjadi 95 hektare, sementara berbagai fungsi lahan lain juga meningkat. Sawah yang sebelumnya digunakan untuk produksi pangan berubah menjadi rumah tinggal, warung kopi, toko kelontong, peternakan ayam, pabrik arang, kebun kelapa sawit, hingga kawasan komersial.

Menurut para peneliti, perubahan tersebut menunjukkan bahwa jalan bukan sekadar sarana transportasi, melainkan pemicu transformasi sosial dan ekonomi di tingkat desa.

Penelitian Dilakukan Melalui Wawancara dan Observasi Lapangan

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dalam perspektif sosiologi pembangunan. Tim peneliti melakukan observasi langsung, wawancara mendalam, serta mengumpulkan dokumentasi dari berbagai kelompok masyarakat.

Informan penelitian meliputi kepala desa, penyuluh pertanian, petani yang mengalihfungsikan lahannya, petani yang tetap bertahan di sektor pertanian, pelaku usaha baru, buruh tani, anggota keluarga petani, hingga warga sekitar. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami alasan, pengalaman, dan dampak perubahan dari berbagai sudut pandang.

Petani Beralih Menjadi Pedagang dan Pelaku Usaha

Salah satu temuan utama penelitian adalah terjadinya perubahan struktur pekerjaan masyarakat desa.

Jumlah petani menurun dari 476 orang pada 2022 menjadi 447 orang pada 2025, sedangkan jumlah pedagang meningkat dari 148 menjadi 168 orang, dan jumlah wirausaha bertambah dari 101 menjadi 110 orang.

Beberapa petani memilih meninggalkan sektor pertanian karena menganggap bertani membutuhkan tenaga besar, biaya produksi tinggi, dan keuntungan yang tidak menentu. Sebaliknya, usaha seperti warung kopi, toko kelontong, peternakan ayam, maupun usaha makanan dinilai memberikan pendapatan yang lebih stabil setelah lalu lintas kendaraan meningkat akibat pembangunan jalan.

Selain itu, harga tanah di sekitar jalan meningkat tajam, dari sekitar Rp25–30 juta per rante sebelum pembangunan jalan menjadi sekitar Rp100 juta per rante setelah akses membaik. Kenaikan nilai ekonomi tanah ini membuat banyak pemilik lahan memilih menjual atau mengubah fungsi sawah menjadi usaha komersial.

Tidak Semua Petani Meninggalkan Sawah

Meski demikian, penelitian menemukan bahwa tidak semua petani memilih beralih profesi.

Sebagian tetap mempertahankan sawah karena faktor usia, keterampilan bertani, keterikatan emosional terhadap lahan warisan keluarga, serta keyakinan bahwa pertanian tetap menjadi identitas penting masyarakat desa. Bagi kelompok ini, sawah tidak hanya dipandang sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai warisan budaya dan kehidupan yang perlu dipertahankan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa transformasi desa berlangsung secara bertahap dan menghasilkan beragam strategi bertahan hidup di tengah perubahan ekonomi.

Peluang Ekonomi Bertambah, Basis Agraris Melemah

Penelitian menyimpulkan bahwa pembangunan jalan menghasilkan dua dampak yang berlangsung bersamaan.

Di satu sisi, akses yang lebih baik membuka peluang usaha baru, meningkatkan mobilitas masyarakat, memperluas hubungan dengan pasar, serta menciptakan sumber pendapatan alternatif di luar sektor pertanian. Di sisi lain, alih fungsi lahan sawah yang semakin cepat berpotensi mengurangi kapasitas produksi pangan, melemahkan regenerasi petani, dan mengubah struktur sosial masyarakat agraris.

Para peneliti menilai pembangunan infrastruktur perlu diiringi dengan kebijakan perlindungan lahan pertanian agar pertumbuhan ekonomi desa tidak mengorbankan keberlanjutan sektor pertanian.

Mereka juga merekomendasikan pemerintah daerah untuk memperkuat tata ruang, mengendalikan alih fungsi lahan produktif, memberikan dukungan bagi petani yang tetap bertani, serta menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses pembiayaan bagi masyarakat yang beralih ke sektor usaha baru.

Sebagaimana disimpulkan Fahmi Anshori dan tim dari Universitas Sumatera Utara, pembangunan jalan di Karang Anyer memperlihatkan bahwa infrastruktur desa dapat menjadi pendorong utama restrukturisasi pedesaan. Jalan membuka peluang ekonomi yang lebih luas, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang tanah, pekerjaan, dan masa depan pertanian.

Profil Singkat Penulis

Fahmi Anshori merupakan peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, dengan fokus kajian pada sosiologi pembangunan, perubahan sosial pedesaan, alih fungsi lahan, dan transformasi mata pencaharian masyarakat agraris. Penelitian ini ditulis bersama  Badaruddin dan Lina Sudarwati, yang juga berasal dari Universitas Sumatera Utara.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Dynamics of Structural Change in Land Conversion and the Transformation of Farmers' Occupations Following Road Development in Karang Anyer Village, Gunung Maligas District, Simalungun Regency
Penulis: Fahmi Anshori, Badaruddin, Lina Sudarwati
Jurnal: Journal of Social Interactions and Humanities (JSIH), Vol. 5 No. 2, 2026

Posting Komentar

0 Komentar