Inflasi dan Pelemahan Rupiah Tekan Harga Saham Batu Bara Syariah di Indonesia

Ilustrasi by AI

Jakarta — Harga saham perusahaan batu bara yang masuk dalam Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) dipengaruhi kuat oleh kondisi makroekonomi dan harga komoditas global. Temuan tersebut berasal dari penelitian Mulyani Lestari dan Renny Oktafia dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, yang menganalisis 11 perusahaan batu bara berbasis syariah selama periode 2018–2024. Hasil penelitian yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa kenaikan inflasi dan pelemahan rupiah cenderung menekan harga saham, sementara kenaikan harga batu bara global justru mendorong penguatan harga saham perusahaan terkait.

Harga Batu Bara Jadi Penggerak Utama

Pasar saham syariah Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas investasi berbasis prinsip syariah. Salah satu indikatornya adalah ISSI, yang menghimpun saham-saham perusahaan yang memenuhi ketentuan syariah.

Sektor energi, khususnya batu bara, memiliki posisi penting dalam pasar saham Indonesia. Pergerakan saham perusahaan batu bara tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan, tetapi juga sangat terkait dengan perkembangan ekonomi global.

Perubahan tersebut semakin terlihat setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina yang memicu krisis energi global. Ketika pasokan energi mengalami tekanan, permintaan terhadap batu bara meningkat di sejumlah pasar internasional. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia sebagai salah satu negara pemasok batu bara dunia.

Kenaikan permintaan tersebut dapat meningkatkan pendapatan perusahaan batu bara dan kemudian memengaruhi persepsi investor terhadap prospek perusahaan. Namun, kondisi makroekonomi domestik seperti inflasi dan nilai tukar rupiah dapat memberikan tekanan yang berlawanan terhadap harga saham.

Menganalisis 11 Perusahaan Batu Bara

Lestari dan Oktafia menggunakan data perusahaan batu bara yang secara konsisten masuk dalam Daftar Efek Syariah dan ISSI selama 2018–2024. Dari populasi perusahaan yang tersedia, 11 perusahaan dipilih berdasarkan kriteria tertentu, termasuk konsistensi pencatatan dalam daftar saham syariah dan ketersediaan laporan keuangan.

Data kemudian dianalisis menggunakan metode Generalized Method of Moments (GMM) dalam model panel dinamis. Sederhananya, metode ini memungkinkan peneliti melihat pengaruh kondisi ekonomi saat ini sekaligus mempertimbangkan pengaruh harga saham pada periode sebelumnya.

Variabel yang dianalisis meliputi harga saham periode sebelumnya, inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan harga batu bara global.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa model yang digunakan memenuhi sejumlah pengujian statistik. Uji Arellano-Bond menghasilkan nilai probabilitas 0,6483 untuk korelasi serial orde kedua, sedangkan uji Sargan menghasilkan probabilitas 0,585121. Hasil tersebut mendukung validitas instrumen yang digunakan dalam estimasi GMM.

Inflasi Memberikan Tekanan Terbesar

Salah satu temuan paling kuat adalah hubungan negatif antara inflasi dan harga saham perusahaan batu bara syariah.

Koefisien inflasi tercatat sebesar -1.404,946 dengan p-value 0,0000. Artinya, peningkatan inflasi berkaitan dengan penurunan harga saham dalam model penelitian.

Tekanan tersebut dapat terjadi karena inflasi meningkatkan berbagai biaya operasional perusahaan, seperti tenaga kerja, transportasi, logistik, dan kebutuhan produksi. Jika kenaikan biaya tidak dapat sepenuhnya dialihkan kepada konsumen atau pasar, margin keuntungan perusahaan dapat tertekan.

Bagi investor, kondisi tersebut dapat menurunkan ekspektasi terhadap laba perusahaan dan pada akhirnya memengaruhi valuasi saham.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan batu bara memperoleh keuntungan dari tingginya harga komoditas, tekanan inflasi tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

Pelemahan Rupiah Juga Menekan Saham

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menunjukkan hubungan negatif dengan harga saham.

Penelitian mencatat koefisien -1,51 dengan p-value 0,0023. Dalam konteks variabel nilai tukar IDR/USD, kenaikan nilai tukar menunjukkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Menurut Mulyani Lestari dan Renny Oktafia, pelemahan rupiah dapat meningkatkan risiko keuangan perusahaan, terutama bagi perusahaan yang memiliki kewajiban atau kebutuhan pembelian dalam mata uang asing.

Perubahan nilai tukar juga dapat meningkatkan ketidakpastian bagi investor. Ketika volatilitas meningkat, investor dapat mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi, termasuk saham perusahaan yang sensitif terhadap kondisi makroekonomi.

Harga Batu Bara Mendorong Harga Saham

Berbeda dengan inflasi dan nilai tukar, harga batu bara memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

Koefisien harga batu bara mencapai 55,95555 dengan p-value 0,0000. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga batu bara global berkaitan dengan peningkatan harga saham perusahaan batu bara yang menjadi sampel.

Kenaikan harga komoditas dapat meningkatkan harga jual rata-rata batu bara perusahaan. Dampaknya dapat terlihat pada pendapatan, margin keuntungan, dan proyeksi arus kas perusahaan.

Bagi investor, kenaikan harga batu bara juga dapat menjadi sinyal positif mengenai prospek kinerja perusahaan pertambangan. Karena itu, perkembangan harga batu bara global menjadi salah satu indikator penting dalam mempertimbangkan investasi pada saham sektor tersebut.

Harga Saham Masa Lalu Ikut Memengaruhi Harga Saat Ini

Penelitian juga menemukan adanya efek dari harga saham periode sebelumnya. Koefisien harga saham tertinggal mencapai 0,344009 dengan p-value 0,0000.

Temuan ini menunjukkan bahwa harga saham sebelumnya memiliki hubungan positif dengan harga saham pada periode berjalan. Dengan kata lain, perkembangan harga saham pada periode sebelumnya dapat menjadi salah satu pertimbangan investor dalam membentuk ekspektasi terhadap harga berikutnya.

Pola tersebut menunjukkan adanya unsur momentum dalam pergerakan saham perusahaan batu bara yang masuk ISSI.

Implikasi bagi Investor dan Perusahaan

Temuan Lestari dan Oktafia memberikan beberapa pertimbangan praktis bagi pelaku pasar modal syariah.

Bagi investor, pergerakan harga batu bara global perlu dipantau bersama dengan perkembangan inflasi dan nilai tukar. Mengandalkan tren harga komoditas saja tidak cukup karena perubahan kondisi makroekonomi dapat memberikan tekanan terhadap harga saham.

Bagi manajemen perusahaan batu bara, penelitian ini menunjukkan pentingnya mengelola risiko nilai tukar dan inflasi. Strategi lindung nilai atau hedging, pengelolaan struktur pembiayaan, serta pengurangan eksposur terhadap kewajiban dalam mata uang asing dapat menjadi bagian dari pengelolaan risiko.

Sementara bagi regulator dan pembuat kebijakan, stabilitas nilai tukar dan kondisi inflasi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar modal, termasuk saham-saham perusahaan berbasis syariah.

Masih Ada Faktor Lain yang Perlu Diteliti

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya memasukkan inflasi, nilai tukar, dan harga batu bara sebagai faktor eksternal. Nilai R² tidak dilaporkan dalam bagian hasil yang diberikan, sehingga besarnya proporsi variasi harga saham yang dapat dijelaskan oleh model tidak dapat disimpulkan dari artikel ini.

Peneliti merekomendasikan penelitian berikutnya memasukkan faktor internal perusahaan seperti Debt-to-Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), dan skor Environmental, Social, and Governance (ESG).

Penelitian mendatang juga dapat membandingkan perusahaan batu bara dengan perusahaan energi terbarukan. Perbandingan tersebut penting untuk melihat apakah perubahan kebijakan energi global, pajak karbon, dan tuntutan keberlanjutan memberikan dampak yang berbeda terhadap valuasi saham syariah.

Profil Penulis

Mulyani Lestari merupakan penulis pertama penelitian dan berafiliasi dengan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Renny Oktafia merupakan penulis kedua sekaligus corresponding author dan berafiliasi dengan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Penelitian mereka berfokus pada hubungan kondisi makroekonomi, harga komoditas, dan dinamika pasar modal, khususnya saham perusahaan yang memenuhi prinsip syariah.

Sumber Penelitian

Judul: Determinants of Stock Prices in ISSI-Indexed Coal Companies: Inflation, Exchange Rate, and Coal Commodity Prices
Penulis: Mulyani Lestari dan Renny Oktafia
Afiliasi: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS)
Volume: 4, Nomor 4, 2026, halaman 411–422
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i4.19
URL: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs

Posting Komentar

0 Komentar