Siswa SMA yang memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik serta berada di lingkungan sekolah yang aman dan kondusif terbukti jauh lebih terhindar dari perilaku agresif secara verbal
Kekerasan di kalangan remaja Indonesia masih menjadi isu sosial dan pendidikan yang amat krusial. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ribuan kasus kekerasan fisik maupun psikologis yang melibatkan anak-anak setiap tahunnya. Dalam dinamika sekolah, bentuk kekerasan tidak selalu manifested dalam benturan fisik seperti perkelahian atau tawuran, melainkan sering kali berbentuk agresivitas verbal—seperti umpatan, celaan, ancaman, hingga perundungan kata-kata. Meskipun bekas luka fisik tidak terlihat, dampak agresivitas verbal sangat merusak kesehatan mental mental korban, mulai dari penurunan rasa percaya diri, kecemasan, hilangnya fokus belajar, hingga depresi.
Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional
Hasil analisis statistik mengungkapkan tiga temuan utama
- Pengaruh Simultan: Terdapat hubungan linier yang sangat signifikan secara bersama-sama antara iklim sekolah dan regulasi emosi terhadap agresivitas verbal siswa ($F = 29,418$; $p = 0,001$)
. - Peran Iklim Sekolah: Iklim sekolah memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan agresivitas verbal ($t = -6,488$; $p = 0,001$)
. Artinya, semakin positif, aman, dan kondusif suasana sekolah, maka semakin rendah tingkat agresivitas verbal para siswanya. - Peran Regulasi Emosi: Regulasi emosi juga memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan agresivitas verbal ($t = -0,308$; $p = 0,001$)
. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang mampu mengontrol dan merevaluasi dorongan emosi negatifnya cenderung tidak meluapkan amarah melalui kata-kata kasar atau celaan.
Temuan ini memberikan implikasi praktis yang signifikan bagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan sekolah. Pihak sekolah tidak bisa hanya berfokus pada capaian akademik semata, melainkan wajib membangun iklim sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan mental. Selain itu, program pelatihan regulasi emosi—seperti bimbingan konseling berbasis pengelolaan amarah dan literasi emosional—sangat penting diintegrasikan ke dalam kurikulum pengembangan karakter. Dengan mengajarkan remaja cara mengendalikan respons emosional dalam situasi konflik, tindak perundungan dan tindak kekerasan verbal dapat diminimalisasi.
Profil Penulis
- Subak Idah, S.Psi.: Peneliti dan akademisi Program Studi Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Keahliannya berfokus pada psikologi perkembangan remaja dan dinamika perilaku di lingkungan pendidikan
. - Dr. Suroso, M.Si.: Dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Menguasai bidang psikologi sosial, perilaku interpersonal, dan metodologi penelitian kuantitatif
. - Suhadianto, S.Psi., M.Psi., Psikolog: Dosen dan praktisi psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, berfokus pada psikometri, pengukuran psikologis, dan psikologi klinis anak dan remaja
.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Relationship Between School Climate and Emotional Regulation with Verbal Aggressiveness in High School StudentsNama Jurnal: Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 6, No. 7, hlm. 1079–1087)
DOI :
0 Komentar