Identifikasi Penyebab Cacat Produk dalam Proses Produksi Sablon Menggunakan Analisis Pohon Kesalahan (FTA) di PT. XYZ

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surakarta - Mengurai Penyebab Utama Cacat Produk Sablon di PT XYZ Melalui Pendekatan Fault Tree Analysis. Penelitian yang dilakukan oleh Sarif Hidayat, Brillian Nur Diansari, dan Ringgo Ismoyo Buwono dari Universitas Duta Bangsa Surakarta, dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 7 Tahun 2026 menyoroti bahwa Fenomena angka cacat produk yang tinggi dalam industri sablon kerap menjadi tantangan besar yang menguras efisiensi produksi.

Latar Belakang dan Masalah Production Gap
Dalam lanskap manufaktur, menjaga kualitas produk sesuai standar merupakan syarat mutlak agar perusahaan dapat bersaing dan mencegah kerugian finansial akibat pengerjaan ulang maupun pemborosan bahan baku. Namun, data internal PT XYZ menunjukkan tingkat kecacatan produk yang cukup tinggiSelama periode Januari hingga Mei 2026, dari total produksi sebanyak 26.940 unit, tercatat ada 2.532 unit produk yang mengalami cacat, atau setara dengan tingkat kegagalan sebesar 9,4%. Tingginya angka ini mendorong dibutuhkannya analisis ilmiah yang mampu membongkar keterkaitan logis antara kegagalan utama dengan faktor-faktor pemicunya.

Metodologi Penelitian yang Digunakan
Para peneliti menerapkan dua tahapan analisis utama yang dikombinasikan secara sistematis:
  • Diagram Pareto ($80/20$): Digunakan untuk mengelompokkan jenis cacat dari yang paling dominan hingga yang berakumulasi sekitar 80% dari total masalah.
  • Fault Tree Analysis (FTA): Sebuah pendekatan logika deduktif menggunakan gerbang logika OR dan AND untuk membedah masalah utama (top event) menjadi faktor perantara (intermediate events) hingga ke akar masalah paling mendasar (basic events).
Data penelitian dihimpun langsung melalui observasi lapangan, wawancara dengan operator serta tim quality control, dan dokumentasi laporan produksi perusahaan di pabrik PT XYZ yang berlokasi di Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Temuan Utama: Faktor Manusia Jadi Pemicu Dominan
Hasil analisis Diagram Pareto mengungkapkan bahwa terdapat tiga jenis cacat yang menyumbang 78% dari keseluruhan produk rusak di PT XYZ:
  • Tinta Tidak Rata (35%): Menyumbang 886 unit produk cacat.
  • Tinta Luntur (25%): Menyumbang 633 unit produk cacat.
  • Kesalahan Posisi Cetak (18%): Menyumbang 456 unit produk cacat.
Melalui analisis pohon kegagalan (FTA), tim peneliti menghitung probabilitas kejadian untuk masing-masing cacat utama tersebut:
  • Cacat Tinta Tidak Rata ($P = 0,81$ atau 81%): Disebabkan oleh kecerobohan operator ($P = 0,18$), kelayakan kassa sablon yang tersumbat ($P = 0,15$), kurangnya pemahaman proses sablon ($P = 0,12$), serta faktor lingkungan seperti permukaan meja yang tidak rata dan debu.
  • Cacat Tinta Luntur ($P = 0,63$ atau 63%): Dipicu oleh komposisi campuran tinta yang tidak pas ($P = 0,12$), suhu curing yang terlalu rendah ($P = 0,10$), hingga kurangnya ketelitian pemeriksaan oleh operator ($P = 0,15$).
  • Cacat Kesalahan Posisi Cetak ($P = 0,79$ atau 79%): Dominan dipengaruhi oleh faktor kesalahan operator ($P = 0,38$), seperti pergeseran kain saat proses pencetakan ($P = 0,12$) dan penempatan bahan yang tidak presisi dengan tanda batas ($P = 0,10$).
Secara keseluruhan, penelitian ini mengonfirmasi bahwa faktor manusia (human factor), khususnya ketelitian dan kecermatan operator, menjadi pemicu utama di seluruh kategori kerusakan.

Implikasi dan Rekomendasi Perbaikan
Penelitian ini memberikan kontribusi praktis yang nyata bagi industri kecil dan menengah (IKM) di bidang sablon dan percetakan. Berdasarkan temuan akar masalah, tim peneliti menyusun beberapa usulan perbaikan konkret berbasis prinsip 5M (Man, Machine, Material, Method, Environment):
  • Penguatan Kompetensi SDM: Mengadakan pelatihan berkala, taklimat sebelum produksi (pre-production briefing), serta pengawasan kerja yang lebih ketat.
  • Standar Operasional Prosedur (SOP): Menyusun SOP baku untuk pencampuran tinta menggunakan alat ukur terkalibrasi serta pemasangan penanda posisi bahan di meja cetak.
  • Perawatan Mesin Preventif: Melakukan pembersihan kassa sablon secara rutin dan kalibrasi alat penjepit (vise).
  • Penerapan Budaya 5R & Lembar Cek: Mengontrol kebersihan area kerja dari debu serta menerapkan check sheet pemeriksaan di setiap tahapan produksi (pra-produksi, proses, dan hasil akhir).
Profil Penulis
Sarif Hidayat, S.T.: Peneliti utama dan akademisi dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Duta Bangsa Surakarta. Berfokus pada bidang pengendalian kualitas (quality control) dan manajemen sistem manufaktur.
Brillian Nur Diansari, S.T., M.T.: Dosen dan peneliti di Universitas Duta Bangsa Surakarta dengan kepakaran di bidang teknik industri, pengawasan mutu, dan efisiensi proses produksi.
Ringgo Ismoyo Buwono, S.T., M.T.: Dosen dan peneliti di Universitas Duta Bangsa Surakarta yang memiliki keahlian dalam rekayasa sistem kerja, analisis keandalan industri, dan perancangan kualitas.

Sumber Penelitian
Sarif Hidayat, Brillian Nur Diansari, Ringgo Ismoyo Buwono. Identification of the Causes of Product Defects in the Screen-Printing Production Process Using Fault Tree Analysis (FTA) at PT. XYZ. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5, No. 7, Tahun 2026, Hal. 1555–1566
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i7.84
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar