Drama Klasik yang Menggambarkan Gaya Hidup Mewah
Fashion merupakan drama
komedi sosial yang ditulis Anna Cora Mowatt pada 1845. Cerita ini menggambarkan
keluarga Tiffany yang berusaha mendapatkan penerimaan dan pengakuan di
lingkungan masyarakat kelas atas.
Dalam dunia yang digambarkan Mowatt, penampilan menjadi bagian penting
dari status sosial. Pakaian mewah, perabot mahal, pesta, hiburan, dan kemampuan
menunjukkan kekayaan digunakan sebagai tanda keberhasilan seseorang.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi para peneliti dari Universitas
Negeri Medan untuk melihat bagaimana perilaku hedonistik muncul melalui
tindakan dan dialog para tokoh. Hedonisme dalam kajian ini tidak hanya dimaknai
sebagai kebiasaan menghabiskan uang, tetapi sebagai kecenderungan menempatkan
kesenangan dan kepuasan sebagai bagian penting dalam mengambil keputusan.
Tokoh Mrs. Tiffany menjadi salah satu pusat perhatian karena
perilakunya paling kuat menunjukkan kecenderungan tersebut. Ia berusaha
menciptakan citra sebagai perempuan kaya dan berkelas dengan mengutamakan
berbagai bentuk kemewahan serta pengakuan dari lingkungan sosialnya.
Peneliti Menganalisis 30 Bentuk Perilaku Hedonistik
Para peneliti menganalisis dialog, percakapan, dan tindakan tokoh dalam
drama Fashion. Data yang ditemukan kemudian dikelompokkan menggunakan
enam kategori hedonisme yang dikembangkan oleh Dan Weijers.
Sebanyak 30 bentuk perilaku hedonistik ditemukan dalam drama
tersebut. Hasil pengelompokan menunjukkan:
- Folk
Hedonism: 27 persen atau 8 temuan. Bentuk ini paling dominan dan berkaitan dengan pencarian
kesenangan langsung, kemewahan, kekaguman, serta pengakuan sosial.
- Egoist
Hedonism: 20 persen atau 6 temuan. Perilaku lebih berorientasi pada kepuasan pribadi dibandingkan
kepentingan orang lain.
- Value atau
Prudential Hedonism: 17 persen atau 5 temuan. Kesenangan, kenyamanan, hiburan, dan
kemewahan dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang memuaskan.
- Motivational
Hedonism: 13 persen atau 4 temuan. Kesenangan digunakan untuk mengurangi tekanan, kesedihan,
kekecewaan, atau masalah emosional.
- Utilitarian
Hedonism: 13 persen atau 4 temuan. Kesenangan dipandang bernilai ketika dapat memberikan kebahagiaan
kepada kelompok atau orang lain.
- Normative
Hedonism: 10 persen atau 3 temuan. Kesenangan dan kemewahan dianggap dapat diterima apabila tetap
disertai tanggung jawab, moralitas, martabat, dan norma sosial.
Dominannya kategori Folk Hedonism memperlihatkan bahwa pencarian
kesenangan dalam Fashion banyak berkaitan dengan keinginan mendapatkan
pengakuan dan mempertahankan citra sosial.
Kemewahan Menjadi Simbol Status
Dalam analisis para peneliti, perilaku Mrs. Tiffany menunjukkan bahwa
kemewahan tidak semata-mata digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Barang mahal,
pakaian, dekorasi rumah, pesta, dan berbagai aktivitas sosial juga menjadi
sarana untuk menunjukkan posisi seseorang di tengah masyarakat.
Kondisi tersebut memperlihatkan hubungan antara konsumsi dan status
sosial. Semakin mewah penampilan yang ditampilkan, semakin besar pula
harapan untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar.
Astri Rahayu dan rekan-rekannya dari Universitas Negeri Medan melihat
bahwa pola tersebut menjadi salah satu kritik sosial yang disampaikan melalui
drama Mowatt. Keinginan untuk terlihat kaya dapat mendorong seseorang
mengabaikan kondisi keuangan dan konsekuensi jangka panjang.
Dengan demikian, hedonisme dalam Fashion tidak hanya berkaitan
dengan kesenangan pribadi. Perilaku tersebut juga memengaruhi hubungan sosial,
keputusan ekonomi, dan cara seseorang membangun identitas di tengah masyarakat.
Tidak Semua Kesenangan Berdampak Negatif
Menariknya, kajian tersebut tidak menggambarkan hedonisme sebagai
sesuatu yang selalu negatif.
Para peneliti menemukan bahwa aktivitas sosial seperti pesta, musik,
makanan, dan hiburan juga dapat menghasilkan kebahagiaan bersama. Dalam
kategori Utilitarian Hedonism, kesenangan memiliki nilai ketika
dinikmati dan memberikan manfaat kepada banyak orang.
Bentuk lain terlihat dalam Motivational Hedonism. Hiburan dapat
digunakan seseorang sebagai cara untuk memperoleh kelegaan sementara ketika
menghadapi tekanan atau kekecewaan. Meskipun tidak menyelesaikan masalah utama,
aktivitas yang menyenangkan dapat memberikan kenyamanan emosional.
Sementara itu, Normative Hedonism menunjukkan adanya batas antara
menikmati kesenangan dan mengejar kemewahan secara berlebihan. Kekayaan dan
kesenangan masih dapat diterima apabila disertai pengendalian diri, tanggung
jawab, dan perilaku yang sesuai dengan norma sosial.
Temuan ini membuat gambaran hedonisme dalam drama menjadi lebih
kompleks. Kesenangan dapat memberikan manfaat bagi individu maupun kelompok,
tetapi pencarian kesenangan yang tidak terkendali dapat menimbulkan persoalan.
Ketika Kepuasan Pribadi Mengorbankan Orang Lain
Aspek yang paling kritis terlihat pada kategori Egoist Hedonism.
Perilaku Mrs. Tiffany menunjukkan bagaimana keinginan mempertahankan gaya hidup
dan reputasi dapat berdampak pada orang-orang di sekitarnya.
Pengeluaran keluarga yang meningkat akibat gaya hidup mewah serta beban
yang harus ditanggung para pelayan dalam berbagai kegiatan sosial menjadi
contoh konsekuensi tersebut.
Para peneliti menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar memiliki
barang mahal atau menikmati hiburan. Masalah muncul ketika kepuasan pribadi
mengesampingkan tanggung jawab terhadap orang lain.
Perspektif ini membuat Fashion tetap relevan untuk dibaca dalam
konteks masyarakat modern. Perubahan zaman tidak menghilangkan keinginan
manusia untuk mendapatkan pengakuan melalui penampilan, konsumsi, dan status
sosial.
Relevansi bagi Pendidikan dan Kajian Sosial
Kajian Astri Rahayu dan rekan-rekannya memperlihatkan bahwa karya sastra
klasik dapat menjadi sumber untuk memahami perilaku manusia dan dinamika
sosial.
Bagi dunia pendidikan, analisis semacam ini dapat membantu mahasiswa dan
pelajar melihat karya sastra tidak hanya sebagai cerita, tetapi juga sebagai
cermin nilai sosial, gaya hidup, hubungan antarmanusia, dan persoalan moral.
Bagi kajian sosial, temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya konsumsi
dan pencarian status memiliki akar historis yang panjang. Keinginan untuk
terlihat sukses melalui kepemilikan dan gaya hidup bukan fenomena baru.
Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa Fashion
menggambarkan berbagai bentuk pencarian kesenangan dengan konsekuensi yang
berbeda. Hedonisme dapat memberikan kebahagiaan dan kenyamanan, tetapi juga
dapat mendorong konsumsi berlebihan, sikap egois, tekanan sosial, dan
ketidakbertanggungjawaban apabila tidak dikendalikan.
Profil Penulis
Artikel ini ditulis oleh Astri Rahayu, Geovani Mustika Salsabillah,
Anggina Febrianti Pohan, Dion Samurai Dachi, dan Syamsul Bahri, yang
berafiliasi dengan Universitas Negeri Medan. Dion Samurai Dachi
tercatat sebagai penulis korespondensi.
Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik dan bidang
keahlian spesifik masing-masing penulis. Karena itu, informasi tersebut tidak
ditambahkan untuk menjaga akurasi pemberitaan.
Sumber Penelitian
Judul: Hedonism in
Anna Cora Mowatt’s Drama Fashion
Penulis: Astri Rahayu, Geovani Mustika Salsabillah, Anggina Febrianti
Pohan, Dion Samurai Dachi, Syamsul Bahri
Afiliasi: Universitas Negeri Medan
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social
Sciences (IJATSS)
Tahun: 2026
Volume: 4, Nomor 7
Halaman: 827–848
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.242
https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

0 Komentar