Temuan tersebut penting bagi bisnis kopi lokal yang menghadapi persaingan semakin ketat. Bagi konsumen muda, terutama Generasi Z, keputusan untuk kembali membeli kopi tidak selalu ditentukan oleh keramahan staf atau pengalaman pelayanan. Persepsi bahwa harga sepadan dengan kualitas produk justru menjadi pertimbangan yang lebih kuat.
Industri Kopi Indonesia Semakin Kompetitif
Budaya minum kopi di Indonesia telah berkembang dari sekadar konsumsi minuman menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Kedai kopi kini menjadi tempat untuk berkumpul, bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga menikmati waktu luang.
Data yang dikutip dalam artikel menunjukkan industri kedai kopi Indonesia menghasilkan sekitar US$947 juta pada 2023, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar kedai kopi terbesar di Asia Tenggara. Pada periode 2024/2025, konsumsi kopi domestik juga diperkirakan mencapai sekitar 4,8 juta kantong atau 288.000 ton.
Pertumbuhan tersebut membuat persaingan antarmerek lokal semakin ketat. Kopi Tuku menjadi salah satu merek yang berkembang dalam segmen kopi dengan harga terjangkau.
Didirikan Andanu Prasetyo pada 2015 di Cipete, Jakarta Selatan, Kopi Tuku dikenal melalui konsep “neighborhood coffee” dan produk Es Kopi Susu Tetangga. Strategi tersebut menggabungkan kedekatan dengan konsumen, harga yang relatif terjangkau, serta konsistensi kualitas produk.
Penelitian Melibatkan 190 Konsumen
Faiz Ahmad Ashshiddiq dan Firman Fauzi menggunakan pendekatan kuantitatif untuk melihat hubungan antara tiga faktor dengan minat beli ulang, yaitu kualitas pelayanan, kualitas produk, dan harga.
Penelitian berlangsung selama satu tahun, mulai dari penyusunan proposal pada Juni 2025 hingga Juli 2026. Lokasi penelitian berfokus pada kawasan Cipete, Jakarta Selatan, yang dipilih karena menjadi salah satu lokasi penting bagi Kopi Tuku.
Sebanyak 190 konsumen Kopi Tuku menjadi responden. Mereka berusia 19–29 tahun, berdomisili di Jakarta Selatan, merupakan konsumen aktif Kopi Tuku, dan telah melakukan pembelian ulang sedikitnya dua kali.
Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Forms. Jawaban responden kemudian dianalisis menggunakan metode statistik PLS-SEM dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0.
Komposisi responden didominasi laki-laki, yakni 63,16 persen, sementara perempuan mencapai 36,84 persen. Sebanyak 63,2 persen responden berada pada kelompok usia 22–24 tahun. Dari sisi pendapatan, 60,53 persen responden memiliki pendapatan bulanan Rp1 juta–Rp2,5 juta.
Harga Menjadi Faktor Terkuat
Analisis menunjukkan bahwa harga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang. Koefisien pengaruh harga tercatat sebesar 0,285, dengan nilai T-statistic 3,427 dan p-value 0,001.
Kualitas produk juga memberikan pengaruh positif dan signifikan. Koefisiennya mencapai 0,256, dengan T-statistic 3,179 dan p-value 0,001.
Sementara itu, kualitas pelayanan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Koefisiennya hanya 0,124, dengan T-statistic 1,541 dan p-value 0,123.
Dengan kata lain, konsumen yang diteliti lebih mungkin kembali membeli Kopi Tuku ketika mereka merasa harga yang dibayar sepadan dengan manfaat dan kualitas produk yang diperoleh.
Peneliti juga menemukan bahwa harga memiliki ukuran pengaruh terbesar dibandingkan dua variabel lainnya. Nilai effect size harga mencapai 0,084, diikuti kualitas produk sebesar 0,062 dan kualitas pelayanan sebesar 0,016.
Mengapa Pelayanan Tidak Menjadi Penentu Utama?
Hasil penelitian ini berbeda dari anggapan umum bahwa pelayanan yang baik selalu menjadi faktor utama yang membuat pelanggan kembali.
Faiz Ahmad Ashshiddiq dan Firman Fauzi dari Universitas Mercu Buana menjelaskan bahwa karakter bisnis Kopi Tuku yang banyak mengandalkan transaksi coffee-to-go dapat membatasi interaksi antara pelanggan dan staf. Konsumen biasanya tidak menghabiskan banyak waktu berinteraksi dengan pegawai sehingga aspek pelayanan interpersonal menjadi kurang menentukan keputusan pembelian berikutnya.
Karakteristik responden juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Mayoritas responden berada pada rentang usia 22–24 tahun dan termasuk kelompok Generasi Z. Menurut pembahasan peneliti, konsumen dalam kelompok ini cenderung memberikan perhatian pada efisiensi, kecepatan, dan kenyamanan digital dibandingkan bentuk pelayanan tradisional seperti perhatian personal atau interaksi yang panjang.
Namun, bukan berarti pelayanan dapat diabaikan. Peneliti menilai kualitas pelayanan tetap perlu dipertahankan sebagai standar dasar agar konsumen tidak mengalami pengalaman negatif.
Konsistensi Rasa dan Kualitas Produk Tetap Penting
Kualitas produk terbukti menjadi faktor penting kedua setelah harga. Dalam konteks kedai kopi, kualitas produk mencakup rasa, kesegaran, tampilan, konsistensi, serta nilai tambah yang dirasakan konsumen.
Data deskriptif penelitian menunjukkan persepsi responden terhadap kualitas Kopi Tuku tergolong tinggi. Indikator mengenai program Kopi Tuku yang memberikan nilai tambah dibandingkan produk lain memperoleh nilai rata-rata tertinggi untuk kualitas produk, yaitu 4,553.
Temuan ini menunjukkan bahwa mempertahankan rasa dan kualitas secara konsisten dapat menjadi strategi penting untuk mempertahankan pelanggan.
Dalam persaingan industri kopi lokal, kualitas juga menjadi pembeda ketika konsumen memiliki banyak pilihan. Produk yang memenuhi atau melampaui ekspektasi konsumen dapat meningkatkan kemungkinan mereka melakukan pembelian kembali.
Strategi Harga dan Produk Menjadi Kunci Bisnis Kopi Lokal
Hasil penelitian memberikan pesan praktis bagi pengusaha kedai kopi lokal. Harga tidak sekadar angka yang dibayarkan konsumen, tetapi juga menjadi sinyal mengenai nilai sebuah produk.
Kopi Tuku, misalnya, menawarkan minuman dalam kisaran harga Rp18.000–Rp25.000 menurut artikel tersebut. Posisi harga tersebut dinilai sesuai dengan konsumen yang menginginkan pengalaman menikmati kopi berkualitas tanpa membayar harga premium seperti pada sejumlah jaringan kopi internasional.
Karena itu, strategi mempertahankan harga yang transparan, kompetitif, dan sebanding dengan manfaat produk menjadi salah satu rekomendasi utama penelitian.
Pada saat yang sama, pelaku usaha perlu terus meningkatkan kualitas produk melalui inovasi, konsistensi rasa, serta program yang memberikan nilai tambah kepada konsumen.
Model penelitian menjelaskan sekitar 29,2 persen variasi minat beli ulang. Artinya, sekitar 70,8 persen dipengaruhi faktor lain yang tidak masuk dalam model penelitian. Faktor tersebut dapat mencakup citra merek, kepercayaan terhadap merek, pengalaman pelanggan, keterlibatan media sosial, serta keterikatan emosional.
Temuan ini menunjukkan bahwa harga dan kualitas produk memang penting, tetapi belum menjadi satu-satunya alasan konsumen memutuskan untuk kembali membeli.
Pelajaran bagi Industri Kopi Indonesia
Bagi merek kopi lokal, hasil penelitian Faiz Ahmad Ashshiddiq dan Firman Fauzi memberikan gambaran bahwa strategi mempertahankan pelanggan tidak harus selalu berfokus pada peningkatan layanan secara berlebihan.
Dalam segmen kopi terjangkau, konsumen muda dapat lebih responsif terhadap kombinasi harga yang dianggap adil dan produk yang konsisten.
Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan konsumen Kopi Tuku di Jakarta Selatan dan menggunakan desain penelitian pada satu periode waktu. Karena itu, hasilnya belum tentu menggambarkan perilaku konsumen Kopi Tuku di seluruh Indonesia. Peneliti menyarankan penelitian berikutnya melibatkan beberapa kota dan menambahkan variabel seperti citra merek, kepercayaan, pengalaman pelanggan, media sosial, keterikatan emosional, dan pemasaran hijau.
Profil Penulis
Faiz Ahmad Ashshiddiq — Penulis utama sekaligus corresponding author, berafiliasi dengan Universitas Mercu Buana.
Firman Fauzi — Penulis, berafiliasi dengan Universitas Mercu Buana.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis. Informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi.
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of Service Quality, Product Quality, And Price on Repurchase Intention Among Kopi Tuku Consumers in South Jakarta
Penulis: Faiz Ahmad Ashshiddiq dan Firman Fauzi
Afiliasi: Universitas Mercu Buana
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 911–928
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i8.46
URL Jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar