Genetika Rambut Slick Berpotensi Menjaga Produksi Susu Sapi di Tengah Ancaman Panas

Created by AI

FORMOSA NEWS - Perubahan iklim semakin menekan peternakan sapi perah di wilayah tropis. Namun, sapi dengan genetika rambut slick berpotensi membantu peternak mempertahankan produksi susu ketika suhu dan kelembapan meningkat. Temuan tersebut berasal dari kajian kuantitatif berbasis simulasi yang dikembangkan Budwi Brontosantoso dari Universitas Trisakti Jakarta, Indonesia pada 2026. Model tersebut menunjukkan bahwa produksi susu sapi dengan genetika slick diperkirakan mengalami penurunan lebih kecil dibandingkan sapi non-slick ketika menghadapi tekanan panas di wilayah dataran rendah Pulau Jawa.

Temuan ini penting bagi peternakan rakyat di Indonesia yang umumnya memiliki keterbatasan modal untuk memasang teknologi pendingin seperti kipas, sprinkler, ventilasi mekanis, maupun kandang dengan pengaturan suhu. Adaptasi melalui genetika dapat menjadi salah satu strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan sapi perah terhadap perubahan iklim.

Panas dan Kelembapan Mengancam Produktivitas Sapi Perah

Suhu udara yang tinggi disertai kelembapan tinggi dapat menyebabkan heat stress atau stres panas pada sapi perah. Kondisi tersebut membuat sapi kesulitan melepaskan panas tubuh sehingga lebih banyak energi digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan hewan. Stres panas dapat menurunkan konsumsi pakan, mengganggu kondisi fisiologis, menurunkan efisiensi reproduksi, dan pada akhirnya mengurangi produksi susu.

Salah satu indikator yang banyak digunakan untuk mengukur beban panas pada sapi adalah Temperature–Humidity Index (THI). Indeks ini menggabungkan suhu udara dan kelembapan relatif untuk menggambarkan tingkat tekanan panas yang dialami ternak.

Masalah tersebut menjadi semakin relevan bagi peternak sapi perah di Indonesia. Peternakan rakyat banyak menggunakan sapi Friesian Holstein dan persilangannya yang memiliki potensi produksi susu tinggi, tetapi relatif sensitif terhadap kondisi panas dan lembap.

Di wilayah dataran rendah Jawa, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan karena peternak tidak selalu memiliki kemampuan finansial untuk menerapkan sistem pendinginan berbiaya tinggi.

Apa Itu Genetika Rambut Slick?

Genetika rambut slick merupakan karakteristik yang berkaitan dengan variasi genetik pada gen reseptor prolaktin, khususnya alel SLICK1. Sapi yang membawa karakteristik tersebut umumnya memiliki rambut yang lebih pendek dan halus.

Karakteristik tersebut berhubungan dengan kemampuan sapi dalam melepaskan panas tubuh. Rambut yang lebih pendek dan halus dapat membantu proses pelepasan panas ketika sapi berada dalam lingkungan bersuhu tinggi.

Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa sapi dengan karakteristik slick dapat memiliki respons fisiologis yang lebih baik ketika menghadapi tekanan panas.

Namun, genetika slick bukan berarti sapi menjadi kebal terhadap panas. Sebaliknya, karakteristik tersebut diperkirakan dapat mengurangi tingkat penurunan produktivitas akibat stres panas.

Konsep tersebut kemudian dimasukkan Brontosantoso ke dalam model prediktif untuk melihat bagaimana produksi susu berubah ketika beban panas lingkungan meningkat.

Empat Skenario Kondisi Panas Disimulasikan

Penelitian tersebut tidak mengambil data primer langsung dari peternakan sapi perah di Indonesia. Brontosantoso menggunakan model kuantitatif berbasis simulasi dengan mengintegrasikan data sekunder mengenai iklim, genetika, respons fisiologis, dan produksi susu dari berbagai penelitian yang dipublikasikan pada 2020–2025.

Model menggunakan empat skenario kondisi lingkungan:

  • THI 71,28: suhu 23°C dan kelembapan 75%, dikategorikan nyaman.

  • THI 75,37: suhu 26°C dan kelembapan 70%, menunjukkan stres panas ringan.

  • THI 82,15: suhu 30°C dan kelembapan 75%, menunjukkan stres panas sedang.

  • THI 90,30: suhu 34°C dan kelembapan 85%, menunjukkan stres panas berat.

Produksi susu sapi dengan genetika slick dan non-slick kemudian dibandingkan pada setiap tingkat THI.

Model juga memasukkan interaksi antara genetika slick dan THI untuk melihat apakah karakteristik genetik tersebut dapat mengurangi dampak negatif peningkatan suhu dan kelembapan terhadap produksi susu.

Penurunan Produksi Susu Lebih Kecil pada Sapi Slick

Hasil simulasi menunjukkan pola yang konsisten: produksi susu menurun pada kedua kelompok sapi ketika THI meningkat, tetapi penurunannya lebih kecil pada sapi dengan genetika slick.

Pada sapi non-slick, produksi susu yang menjadi dasar simulasi berada pada 7,07 liter per ekor per hari pada kondisi THI 71,28. Ketika THI meningkat menjadi 90,30, produksi diprediksi turun menjadi 6,36 liter per ekor per hari.

Penurunan tersebut mencapai sekitar 10,11 persen.

Sementara itu, produksi sapi dengan genetika slick diprediksi turun dari 7,91 liter menjadi 7,28 liter per ekor per hari. Penurunannya sekitar 8,04 persen.

Dengan demikian, sapi slick tetap mengalami penurunan produksi akibat panas, tetapi tingkat penurunannya lebih rendah dibandingkan sapi non-slick.

Perbedaan produksi antara kedua kelompok juga meningkat ketika tekanan panas semakin tinggi. Pada THI 71,28, perbedaan produksi diperkirakan mencapai 0,84 liter per ekor per hari. Pada THI 90,30, perbedaannya meningkat menjadi 0,92 liter per ekor per hari.

Hasil tersebut memberikan dukungan sementara terhadap dugaan bahwa genetika slick dapat membantu menjaga kestabilan produksi susu ketika sapi menghadapi tekanan panas.

Jika Diterapkan pada 10 Ekor Sapi, Selisihnya Mencapai 276 Liter per Bulan

Untuk menggambarkan kemungkinan dampaknya bagi peternak rakyat, Brontosantoso memperluas hasil simulasi ke skala kawanan yang terdiri dari 10 ekor sapi laktasi.

Pada kondisi stres panas berat, model memprediksi:

63,6 liter susu per hari untuk 10 sapi non-slick, sedangkan 72,8 liter per hari untuk 10 sapi slick.

Selisihnya mencapai sekitar 9,2 liter per hari.

Jika pola tersebut berlangsung selama 30 hari, perbedaannya menjadi sekitar 276 liter susu tambahan pada kawanan sapi dengan genetika slick.

Namun, angka tersebut merupakan hasil simulasi, bukan data penjualan susu yang diamati langsung di peternakan. Nilai ekonomi sebenarnya tetap bergantung pada harga susu di tingkat peternak, biaya pakan, biaya pembibitan, dan berbagai biaya operasional lainnya.

Model menunjukkan bahwa tambahan produksi tersebut dapat menjadi dasar untuk menghitung potensi nilai ekonomi genetika slick. Nilai tambahan susu dapat dihitung dengan mengalikan 276 liter dengan harga susu yang berlaku di tingkat peternak.

Genetika Slick Berpotensi Mengurangi Dampak Panas, Bukan Menghilangkannya

Salah satu bagian penting dari penelitian Brontosantoso adalah penempatan THI sebagai variabel moderator.

Hasil model menunjukkan bahwa peningkatan THI memberikan dampak negatif terhadap produksi susu. Namun, sapi dengan genetika slick diprediksi mengalami kemiringan penurunan produksi yang lebih rendah dibandingkan sapi non-slick.

Koefisien THI pada sapi non-slick dalam simulasi adalah −0,0376 liter per ekor per hari untuk setiap kenaikan satu unit THI.

Setelah memperhitungkan efek penyangga genetika slick, kemiringan penurunan produksi sapi slick diperkirakan menjadi sekitar −0,0335 liter per ekor per hari per unit THI.

Artinya, kedua kelompok tetap terdampak oleh panas, tetapi sapi slick diprediksi lebih mampu mempertahankan produksi ketika tekanan panas meningkat.

Brontosantoso menyebut pola tersebut sebagai efek buffering, yakni kemampuan genetika slick untuk mengurangi sebagian kerugian produksi akibat peningkatan beban panas.

Peternakan Tetap Membutuhkan Air, Naungan dan Ventilasi

Meski memberikan hasil yang menjanjikan, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa genetika slick dapat menggantikan seluruh strategi manajemen peternakan.

Ketersediaan air minum, naungan, ventilasi, kualitas pakan, kondisi kandang, kesehatan ternak, dan sistem pendinginan tetap penting untuk menjaga produktivitas sapi.

Model juga menunjukkan bahwa THI bukan satu-satunya faktor yang menentukan produksi susu.

Nilai R² yang digunakan dalam kalibrasi sumber menunjukkan bahwa THI hanya menjelaskan sekitar 12,4 persen variasi produksi susu pagi dan 7,7 persen variasi produksi susu sore. Dengan kata lain, faktor lain seperti tahap laktasi, kualitas pakan, kesehatan, kondisi kandang, dan manajemen peternakan juga memiliki pengaruh besar.

Karena itu, keunggulan genetika slick dalam model harus dipahami sebagai kondisi yang berlaku ketika faktor manajemen lainnya relatif sebanding.

Bukti Lapangan Masih Diperlukan

Keterbatasan utama penelitian ini adalah hasilnya berasal dari simulasi yang dikalibrasi menggunakan data penelitian sebelumnya, bukan pengamatan langsung terhadap sapi slick dan non-slick yang telah terverifikasi secara genetik di Indonesia.

Karena belum tersedia data lapangan longitudinal yang memadai, penelitian ini belum dapat menghitung indikator akurasi prediksi seperti RMSE dan MAE.

Karena itu, hasil penelitian sebaiknya dipahami sebagai prediksi kuantitatif awal, bukan bukti statistik yang telah terkonfirmasi pada peternakan sapi perah Indonesia.

Penelitian lanjutan perlu menguji model tersebut melalui pengamatan langsung terhadap sapi dengan status genetika yang terverifikasi. Data yang perlu dikumpulkan antara lain suhu, kelembapan, THI, produksi susu harian, suhu rektal, frekuensi pernapasan, konsumsi pakan, tahap laktasi, kondisi kandang, dan manajemen peternakan.

Potensi Strategi Adaptasi Perubahan Iklim

Secara keseluruhan, penelitian Budwi Brontosantoso menunjukkan bahwa genetika rambut slick berpotensi menjadi salah satu strategi adaptasi jangka panjang bagi peternakan sapi perah di wilayah dataran rendah Indonesia.

Keunggulannya terletak pada sifat toleransi panas yang melekat pada ternak dan dapat diwariskan melalui program pembiakan. Hal ini berbeda dengan sistem pendinginan mekanis yang membutuhkan investasi, listrik, dan biaya pemeliharaan secara berkelanjutan.

Namun, keputusan untuk menerapkan genetika slick tetap perlu mempertimbangkan biaya pengadaan bibit, program pembiakan, penggantian ternak, produktivitas, harga susu, biaya pakan, serta perbandingannya dengan investasi seperti kipas, sprinkler, dan peningkatan ventilasi.

Penelitian ini juga membuka peluang untuk mengkaji efisiensi karbon. Produksi susu yang lebih stabil berpotensi menurunkan intensitas emisi per satuan susu apabila emisi total relatif sama. Meski demikian, penelitian ini belum mengukur emisi metana, emisi dari kotoran, konsumsi pakan, maupun penggunaan energi secara langsung sehingga belum dapat menyimpulkan adanya penurunan emisi total.

Bagi Indonesia, genetika slick pada akhirnya dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pembiakan sapi perah yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, terutama di wilayah dataran rendah dan pesisir. Namun, manfaat tersebut masih harus dibuktikan melalui penelitian lapangan sebelum digunakan sebagai dasar keputusan pembiakan atau kebijakan peternakan.

Profil Penulis

Budwi Brontosantoso merupakan peneliti dari Universitas Trisakti Jakarta, Indonesia. Dalam artikel ini, bidang kajiannya berkaitan dengan ketahanan iklim pada produksi sapi perah, genetika toleransi panas, pemodelan prediktif, produktivitas ternak, serta strategi adaptasi peternakan rakyat terhadap perubahan iklim.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Enhancing Climate Resilience in Tropical Dairy Production: The Potential of Quality Slick Genetics for Smallholder Dairy Systems in Indonesia
Penulis: Budwi Brontosantoso
Afiliasi: Universitas Trisakti Jakarta, Indonesia
Jurnal: International Journal of Management Business and Innovation (IJMBI)
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar