Davao City — Generasi Z di Davao City, Filipina, lebih memilih kampanye pencegahan HIV yang disampaikan oleh tenaga kesehatan profesional melalui media sosial dengan pendekatan berbasis cerita dan nada yang memberdayakan. Temuan ini berasal dari penelitian Chrisna L. Balbuena, Abby Gayle Y. Cua, Leonardo Alfonso L. Ganade, Ma. Althea M. Salva, Kate Andrea Y. Sy, dan Emmanuel Joseph B. Sumatra dari Ateneo de Davao University. Penelitian yang menggunakan data lapangan pada Juni hingga September 2025 tersebut melibatkan 383 responden berusia 18–28 tahun di sekitar empat pusat layanan HIV di Davao City. Hasilnya menunjukkan bahwa siapa yang menyampaikan pesan menjadi faktor paling penting dalam menentukan pilihan Gen Z terhadap kampanye pencegahan HIV.
HIV masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian global. Di kawasan Asia-Pasifik, kelompok usia muda menyumbang bagian penting dari kasus infeksi baru. Filipina menjadi salah satu negara yang menghadapi peningkatan kasus HIV paling cepat di kawasan tersebut. Davao Region juga termasuk wilayah dengan jumlah kasus HIV yang tinggi di Filipina, dengan Davao City sebagai salah satu pusat perkotaan utama yang menghadapi persoalan tersebut.
Pemerintah daerah Davao City telah menyediakan layanan pencegahan dan pemeriksaan secara gratis, termasuk pre-exposure prophylaxis atau PrEP serta layanan tes sukarela melalui fasilitas kesehatan yang ramah bagi kaum muda dan pusat layanan khusus. Namun, ketersediaan layanan belum otomatis membuat masyarakat muda memanfaatkannya secara optimal. Stigma sosial dan hambatan dalam membicarakan kesehatan seksual masih menjadi salah satu tantangan dalam penyampaian informasi HIV.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan karakter Generasi Z. Kelompok yang lahir antara 1997 dan 2012 ini tumbuh bersama teknologi digital dan memiliki pola konsumsi informasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Media sosial menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, tetapi penggunaan platform digital saja tidak menjamin sebuah pesan kesehatan dapat diterima dengan baik. Cara pesan disampaikan, siapa yang menyampaikannya, serta gaya komunikasi yang digunakan juga menentukan daya tariknya.
Para peneliti kemudian menganalisis empat elemen utama dalam desain kampanye pencegahan HIV, yaitu pembicara, saluran komunikasi, isi pesan, dan nada pesan. Penelitian menggunakan analisis conjoint melalui perangkat lunak 1000minds dengan metode PAPRIKA. Responden diminta membandingkan berbagai kombinasi kampanye sehingga peneliti dapat mengetahui elemen mana yang paling mereka prioritaskan ketika memilih pesan pencegahan HIV.
Sebelum pengumpulan data utama, instrumen penelitian dikembangkan melalui wawancara terstruktur dan wawancara mendalam dengan pihak yang berkaitan dengan layanan kesehatan. Pengujian awal juga dilakukan untuk mengurangi jumlah pilihan yang harus dibandingkan responden dan mencegah kelelahan selama pengisian. Dari 434 respons yang dikumpulkan di lapangan, 383 dinyatakan valid setelah proses pemeriksaan data.
Mayoritas responden berada pada kelompok usia 18–24 tahun, yaitu 67,89 persen, sedangkan kelompok usia 25–28 tahun mencapai 32,11 persen. Komposisi gender relatif seimbang, dengan 51,70 persen perempuan, 47,50 persen laki-laki, dan 0,80 persen interseks. Sebagian besar responden merupakan mahasiswa sarjana, yaitu 61,90 persen, sementara 27,40 persen merupakan lulusan perguruan tinggi. Responden berasal dari wilayah sekitar Davao Doctors Hospital, RHWC, Jefferyi By Love Yourself, dan SPMC.
Temuan lain menunjukkan kuatnya peran media sosial dalam kehidupan responden. Sebanyak 50,10 persen menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di media sosial, sementara 32,90 persen menghabiskan empat hingga enam jam sehari. Sebaliknya, konsumsi televisi dan radio relatif lebih rendah. Meskipun sebagian besar responden telah mengetahui informasi dasar tentang HIV, hanya 21,10 persen yang memiliki pemahaman aktif mengenai sistem kampanye HIV yang tersedia di tingkat lokal.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pembicara menjadi faktor paling penting dengan bobot 40,70 persen. Saluran komunikasi berada di urutan kedua dengan 26,60 persen, diikuti isi pesan sebesar 20,40 persen dan nada pesan sebesar 12,40 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kredibilitas sumber informasi menjadi pertimbangan utama Gen Z ketika menerima informasi kesehatan yang sensitif.
Pada aspek pembicara, tenaga kesehatan profesional menjadi pilihan paling kuat dengan nilai utilitas 40,70 persen. Pendidik berada di urutan berikutnya dengan 24,10 persen, sedangkan orang yang hidup dengan HIV memperoleh 12,80 persen. Teman memperoleh nilai 0 persen dalam model pilihan yang digunakan. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam konteks informasi mengenai penyakit menular dan kesehatan seksual, Gen Z dalam penelitian tersebut lebih mengutamakan kredibilitas profesional dibandingkan kedekatan sosial.
Dari sisi saluran komunikasi, media sosial menjadi pilihan utama dengan bobot 26,60 persen. Media penyiaran seperti televisi dan radio berada di bawahnya, sementara kampanye terintegrasi atau hibrida memperoleh nilai dasar dalam model. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi pencegahan HIV yang menyasar Gen Z perlu hadir di ruang digital yang memang sering digunakan oleh kelompok tersebut.
Untuk isi pesan, konten berbasis cerita atau story-driven content menjadi pilihan tertinggi dengan bobot 20,40 persen. Konten yang menonjolkan gambar dan grafis memperoleh 10,70 persen, sedangkan konten autentik atau buatan pengguna mendapatkan nilai dasar. Hasil ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya membutuhkan informasi kesehatan, tetapi juga cara penyampaian yang mampu membuat informasi tersebut lebih mudah dipahami dan diingat.
Sementara itu, pada aspek nada komunikasi, gaya yang memberdayakan dan memotivasi menjadi pilihan utama dengan bobot 12,40 persen. Gaya komunikasi yang langsung dan faktual memperoleh nilai dasar. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kampanye yang menggunakan bahasa suportif dan mendorong kesadaran diri lebih sesuai dengan preferensi responden dibandingkan pendekatan komunikasi yang terlalu kaku atau menakutkan.
Ketika seluruh atribut digabungkan, kombinasi kampanye yang paling disukai adalah tenaga kesehatan profesional sebagai pembicara, media sosial sebagai saluran, konten berbasis cerita, serta nada yang memberdayakan atau memotivasi. Kombinasi tersebut memperoleh utilitas kumulatif 100 persen dan menjadi konfigurasi dengan preferensi tertinggi dalam simulasi penelitian. Sebaliknya, kombinasi yang melibatkan teman sebagai pembicara, kampanye terintegrasi, konten buatan pengguna, dan nada langsung-faktual menjadi konfigurasi dengan preferensi paling rendah.
Simulasi pilihan pasar juga memperlihatkan dominasi konfigurasi tersebut. Kampanye pertama yang menggunakan tenaga kesehatan profesional, media sosial, konten berbasis cerita, dan nada memberdayakan memperoleh first choice share sebesar 100 persen dalam model. Konfigurasi lain yang mengganti elemen cerita dengan gambar atau mengganti tenaga kesehatan dengan pendidik memiliki skor utilitas lebih rendah.
Tingkat kesepakatan responden terhadap hasil tersebut juga tergolong sangat kuat. Nilai Kendall’s Coefficient of Concordance mencapai 0,807, sementara Spearman’s Rank Correlation Coefficient mencapai 0,804. Peneliti menilai angka tersebut menunjukkan konsistensi yang tinggi dalam preferensi responden terhadap desain kampanye pencegahan HIV.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bagi komunikasi kesehatan publik. Gen Z mungkin sangat aktif menggunakan media sosial, tetapi hal itu tidak berarti mereka menerima semua informasi yang muncul di platform digital. Untuk informasi kesehatan yang memiliki konsekuensi serius, responden justru menunjukkan kepercayaan yang lebih besar kepada tenaga profesional. Dengan demikian, lembaga kesehatan dapat memanfaatkan media sosial tanpa mengorbankan kredibilitas sumber informasi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial perlu disertai pendekatan naratif. Konten dapat dikemas dalam bentuk cerita yang menjelaskan pengalaman pemeriksaan kesehatan, proses memperoleh layanan pencegahan, atau perjalanan menggunakan PrEP secara informatif dan tetap menjaga privasi. Pendekatan tersebut dapat membantu membuat informasi kesehatan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari tanpa menghilangkan dasar ilmiahnya.
Nada komunikasi juga menjadi bagian penting. Peneliti menemukan bahwa Gen Z lebih memilih pendekatan yang memberdayakan daripada pesan yang hanya berfokus pada fakta secara langsung. Bahasa yang suportif dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong individu untuk mengambil langkah pencegahan secara proaktif.
Berdasarkan temuan tersebut, lembaga kesehatan publik seperti Department of Health, Davao City Health Office, dan organisasi terkait disarankan memperkuat strategi komunikasi digital dengan melibatkan dokter, perawat, konselor klinis, atau tenaga kesehatan lain yang mampu berkomunikasi dengan kelompok muda. Konten dapat disebarkan melalui TikTok, Instagram, Facebook, dan platform digital lainnya dengan format cerita yang menarik serta menggunakan bahasa yang mendorong kesadaran tanpa memperkuat stigma.
Secara keseluruhan, penelitian Chrisna L. Balbuena dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa keberhasilan kampanye pencegahan HIV untuk Gen Z tidak hanya ditentukan oleh informasi yang disampaikan, tetapi juga oleh kredibilitas pembicara, pilihan platform, gaya penyampaian, dan nada komunikasi. Kombinasi tenaga kesehatan profesional, media sosial, cerita yang terstruktur, serta pendekatan yang memberdayakan menjadi konfigurasi paling sesuai dengan preferensi responden di Davao City.
Penulis
Chrisna L. Balbuena — Ateneo de Davao University.
Abby Gayle Y. Cua — Ateneo de Davao University.
Leonardo Alfonso L. Ganade — Ateneo de Davao University.
Ma. Althea M. Salva — Ateneo de Davao University.
Kate Andrea Y. Sy — Ateneo de Davao University.
Emmanuel Joseph B. Sumatra — Ateneo de Davao University.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: A Conjoint Analysis of Gen Z Preferences for HIV Prevention Campaigns in Davao City
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1827–1840.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.71
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar