Davao City — Mahasiswa Generasi Z di Davao City, Filipina, menunjukkan preferensi yang kuat terhadap produk cokelat susu berbentuk batang, bertekstur renyah, dan menggunakan kemasan berbasis kertas. Temuan tersebut berasal dari penelitian Jan Rochelle M. Francisquete, Jann Krystel P. Jumao-As, Charmaine Joyce F. Nicor, Pauline Zoi B. Rabago, Kate Dianne C. Serafica, dan Emmanuel Joseph B. Sumatra dari Ateneo de Davao University. Penelitian ini menganalisis pilihan mahasiswa Gen Z terhadap berbagai karakteristik produk cokelat untuk memberikan gambaran yang dapat digunakan oleh produsen cokelat lokal dalam mengembangkan produk yang lebih sesuai dengan selera konsumen muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis cokelat dan bentuk produk menjadi dua faktor yang sama-sama paling menentukan pilihan konsumen, masing-masing dengan bobot 27,1 persen. Tekstur berada di posisi berikutnya dengan 23,3 persen, sedangkan bahan kemasan memiliki bobot 22,5 persen. Dari kombinasi berbagai karakteristik yang diuji, produk yang paling disukai adalah cokelat susu berbentuk batang dengan tekstur renyah dan kemasan berbahan kertas.
Temuan tersebut menjadi penting bagi industri cokelat Davao karena wilayah tersebut memiliki posisi strategis dalam produksi kakao di Filipina. Davao dikenal sebagai salah satu wilayah utama penghasil kakao, sementara Davao City telah ditetapkan sebagai Chocolate Capital of the Philippines berdasarkan Republic Act No. 11547 pada 2021. Di tengah peluang tersebut, produk lokal masih menghadapi persaingan kuat dari merek internasional yang memiliki posisi lebih besar di pasar.
Pasar cokelat global juga terus berkembang. Penelitian tersebut mencatat nilai pasar cokelat dunia mencapai sekitar 130,72 miliar dolar AS pada 2024. Pada saat yang sama, konsumen semakin mencari pengalaman produk yang dianggap berkualitas dan premium. Bagi produsen cokelat lokal, kondisi ini membuka peluang untuk mengembangkan produk yang tidak hanya mengandalkan bahan baku lokal, tetapi juga mampu memenuhi karakteristik yang diinginkan konsumen modern.
Generasi Z menjadi kelompok konsumen yang penting dalam perkembangan pasar tersebut. Kelompok ini cenderung mempertimbangkan pengalaman menikmati makanan, keunikan produk, dan daya tarik sensorik. Dalam konteks cokelat, keputusan membeli tidak hanya dipengaruhi rasa, tetapi juga bentuk, tekstur, tampilan, hingga bahan kemasan. Karena itu, memahami kombinasi karakteristik yang paling disukai konsumen dapat membantu produsen menentukan arah pengembangan produknya.
Penelitian Francisquete dan rekan-rekannya menggunakan analisis conjoint dengan bantuan perangkat lunak 1000minds dan metode PAPRIKA. Metode tersebut memungkinkan responden membandingkan berbagai alternatif produk dan memilih karakteristik yang lebih mereka sukai. Peneliti menguji empat atribut utama, yaitu jenis cokelat, format produk, tekstur, dan bahan kemasan luar. Keempat atribut tersebut menghasilkan 81 kemungkinan kombinasi produk dan 54 perbandingan pilihan yang dapat dievaluasi.
Penelitian melibatkan mahasiswa Gen Z berusia 18–28 tahun yang terdaftar di perguruan tinggi di District 1 Davao City. Setelah proses pemeriksaan data, sebanyak 389 responden dinyatakan memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data berlangsung selama 24 hari kerja, mulai 26 Agustus hingga 26 September 2025. Responden ditemui di lingkungan perguruan tinggi dan diminta memberikan pilihan melalui instrumen digital yang membandingkan berbagai kombinasi karakteristik cokelat.
Kelompok usia yang lebih muda mendominasi responden. Mahasiswa berusia 20 tahun menjadi kelompok terbesar dengan 20,6 persen, disusul responden berusia 18 dan 19 tahun yang masing-masing mencapai 20,1 persen. Perempuan mencakup 56 persen responden, laki-laki 43,4 persen, dan 0,5 persen mengidentifikasi sebagai interseks. Dari sisi konsumsi, cokelat merupakan bagian dari kebiasaan mingguan responden. Sebanyak 30,1 persen mengonsumsi cokelat dua hingga tiga kali seminggu, sedangkan 29,6 persen mengonsumsinya satu kali dalam seminggu.
Menariknya, terdapat perbedaan antara ketertarikan terhadap produk lokal dan perilaku memilih merek. Sebanyak 90,8 persen responden menyatakan bersedia mempertimbangkan produk lokal, tetapi 67,6 persen masih lebih memilih merek internasional. Produk lokal hanya menjadi pilihan utama bagi 32,4 persen responden. Kesadaran terhadap merek lokal juga belum merata. Cacao de Davao memiliki tingkat pengenalan 30,8 persen dan Malagos Chocolates 30,3 persen, sementara 30,6 persen responden menyatakan tidak mengenal merek cokelat lokal sama sekali.
Hasil analisis memperlihatkan bahwa jenis cokelat dan format produk sama-sama memperoleh bobot kepentingan 27,1 persen. Untuk jenis cokelat, cokelat susu menjadi pilihan tertinggi, sementara cokelat putih memperoleh nilai utilitas nol dalam model. Untuk format, cokelat batangan menjadi pilihan utama, mengungguli produk berukuran kecil maupun bentuk-bentuk unik.
Tekstur juga memiliki pengaruh besar dengan bobot 23,3 persen. Responden paling menyukai tekstur renyah, disusul tekstur dengan bagian tengah yang kenyal atau berisi. Tekstur polos menjadi pilihan dengan nilai utilitas terendah. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman sensorik menjadi salah satu pertimbangan penting bagi konsumen muda ketika memilih cokelat.
Pada aspek kemasan, bahan berbasis kertas menjadi pilihan tertinggi dengan bobot 22,5 persen. Kemasan berbasis logam berada di bawahnya, sedangkan plastik memperoleh nilai utilitas nol dalam model. Preferensi tersebut menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan dapat menjadi bagian dari pertimbangan konsumen Gen Z ketika memilih produk makanan.
Ketika seluruh atribut digabungkan, simulasi menggunakan 1000minds menghasilkan satu kombinasi yang sangat dominan. Produk cokelat susu berbentuk batang, bertekstur renyah, dan menggunakan kemasan berbasis kertas memperoleh preferensi pasar sebesar 100 persen sebagai pilihan pertama dalam simulasi. Ini menjadi konfigurasi ideal dari seluruh kombinasi produk yang diuji dalam penelitian.
Penelitian juga menguji apa yang terjadi apabila produk ideal tersebut tidak tersedia. Dalam skenario tersebut, cokelat hitam berbentuk batang dengan tekstur renyah dan kemasan berbasis kertas menjadi pilihan kedua dengan pangsa 39,7 persen. Produk cokelat susu berbentuk batang dengan bagian tengah kenyal dan kemasan kertas berada berikutnya dengan 31,3 persen. Sementara itu, cokelat susu renyah dalam bentuk potongan kecil dengan kemasan kertas memperoleh 17,9 persen.
Para peneliti menemukan tingkat kesepakatan yang tinggi di antara responden. Nilai Kendall’s W mencapai 0,784 dan Spearman’s ρ mencapai 0,781. Angka tersebut menunjukkan adanya tingkat kesesuaian yang kuat dalam pola preferensi konsumen yang dianalisis.
Menurut temuan penelitian, produsen cokelat lokal tidak cukup hanya menawarkan bahan kakao berkualitas. Bentuk produk juga perlu diperhatikan. Cokelat batangan yang familiar ternyata lebih disukai dibandingkan bentuk yang tidak biasa. Peneliti menilai bentuk yang sederhana juga lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen yang menginginkan produk praktis untuk dinikmati sebagai camilan.
Tekstur renyah menjadi keunggulan lain yang dapat dimanfaatkan produsen. Elemen renyah memberikan pengalaman sensorik tambahan ketika cokelat dikonsumsi. Produsen lokal dapat mengembangkan tekstur tersebut melalui bahan seperti kacang lokal yang dihancurkan, beras renyah, atau elemen lokal lain yang memberikan sensasi berbeda.
Temuan mengenai kemasan juga memberikan peluang bagi industri lokal. Meskipun bahan kemasan menjadi atribut dengan bobot kepentingan paling rendah dibandingkan tiga atribut lainnya, responden tetap menunjukkan preferensi kuat terhadap bahan berbasis kertas dan logam dibandingkan plastik. Bagi produsen, kemasan ramah lingkungan tidak hanya dapat mendukung citra produk, tetapi juga menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan kepada konsumen muda.
Persoalan terbesar yang terlihat dari penelitian bukan semata-mata rendahnya minat terhadap produk lokal. Sebanyak 90,8 persen responden bersedia mempertimbangkan produk lokal. Tantangannya adalah kesenjangan kesadaran merek dan persepsi kualitas dibandingkan produk internasional. Tingginya preferensi terhadap merek luar menunjukkan bahwa produsen lokal masih perlu membangun kepercayaan dan meningkatkan visibilitas produknya.
Penelitian tersebut menyarankan agar produsen lokal memprioritaskan cokelat susu dan cokelat hitam dalam format batangan, sekaligus memperkuat tekstur produk. Kemasan berbasis kertas juga dapat dikembangkan dengan elemen yang membantu konsumen mengenal merek, misalnya cerita mengenai asal produk atau informasi melalui kode QR. Strategi pemasaran digital melalui TikTok dan Instagram juga dinilai penting untuk meningkatkan pengenalan merek di kalangan konsumen muda.
Bagi pemerintah dan sektor perdagangan, penelitian ini juga membuka peluang untuk memperkuat identitas produk cokelat lokal melalui standar kualitas atau tanda asal produk yang lebih mudah dikenali konsumen. Dukungan terhadap usaha kecil dan menengah untuk menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan juga dapat membantu meningkatkan daya saing produk lokal.
Secara keseluruhan, penelitian Jan Rochelle M. Francisquete dan rekan-rekannya memperlihatkan bahwa konsumen Gen Z memiliki preferensi yang cukup jelas terhadap karakteristik produk cokelat. Cokelat susu, bentuk batangan, tekstur renyah, dan kemasan berbasis kertas menjadi kombinasi yang paling kuat dalam simulasi. Bagi industri cokelat lokal Davao, hasil tersebut dapat menjadi dasar untuk merancang produk yang lebih dekat dengan selera konsumen muda sekaligus memperkuat posisi merek lokal di tengah persaingan dengan produk internasional.
Penulis
Jan Rochelle M. Francisquete — Ateneo de Davao University.
Jann Krystel P. Jumao-As — Ateneo de Davao University.
Charmaine Joyce F. Nicor — Ateneo de Davao University.
Pauline Zoi B. Rabago — Ateneo de Davao University.
Kate Dianne C. Serafica — Ateneo de Davao University.
Emmanuel Joseph B. Sumatra — Ateneo de Davao University.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: A Conjoint Analysis of Preferred Chocolate Product Attributes for Local Chocolatiers Among Gen Z College Students in the First District of Davao City
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 8, 2026, halaman 1841–1852.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.72
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar