Gedung Sate Ternyata Memadukan Arsitektur Lokal dan Eropa dalam Satu Identitas

Ilustrasi by AI

BANDUNG — Gedung Sate di Bandung bukan sekadar peninggalan arsitektur kolonial. Kajian Dani Dwiyandana, Martinus Bambang Susetyarto, dan Agus Budi Purnomo dari Centre For Nusantara, Universitas Trisakti, menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan hasil perpaduan komponen arsitektur lokal dan non-lokal yang membentuk karakter arsitektur Indisch. Artikel mereka diterbitkan pada 2026 di Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO). Kajian ini penting karena menunjukkan bahwa bentuk bangunan bersejarah dapat menyimpan informasi tentang fungsi, adaptasi terhadap iklim, pertukaran budaya, serta identitas masyarakat pada masanya.

Gedung Sate memiliki posisi penting dalam sejarah arsitektur Indonesia. Bangunan yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda digunakan sebagai kantor Departemen Pekerjaan Umum atau Verkeer en Waterstaat tersebut dibangun dalam konteks perkembangan arsitektur modern pada era 1920–1940. Menurut kajian ini, karakter Gedung Sate tidak sepenuhnya mengikuti arsitektur Eropa. Bentuknya merupakan sintesis antara arsitektur modern kolonial Belanda dan unsur arsitektur tradisional di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan Jawa Barat dan lingkungan tropis.

Ketika arsitektur Eropa bertemu budaya lokal

Masuknya teori arsitektur modern dari Eropa ke Indonesia membawa prinsip desain yang menekankan fungsi, rasionalitas, dan kesederhanaan. Namun, bangunan yang diterapkan di Indonesia tetap harus berhadapan dengan kondisi iklim, material, teknik konstruksi, dan budaya setempat.

Gedung Sate menjadi contoh menarik dari proses tersebut. Para peneliti menjelaskan bahwa arsitektur Indisch terbentuk melalui akulturasi antara arsitektur kolonial modern dan arsitektur tradisional Indonesia. Perpaduan itu menghasilkan bangunan yang tidak hanya memiliki bentuk khas, tetapi juga mampu beradaptasi dengan iklim tropis.

Dalam kajian tersebut, komponen lokal mencakup karakter arsitektur tropis serta arsitektur vernakular dan tradisional. Sementara itu, komponen non-lokal terutama terlihat dari pengaruh arsitektur kolonial Belanda dan gaya arsitektur Eropa.

Dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, para peneliti memandang elemen bangunan sebagai tanda yang memiliki makna. Bentuk, fungsi, dan makna tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan. Karena itu, atap, dinding, jendela, ornamen, hingga pola ruang Gedung Sate dapat dibaca sebagai bagian dari pesan arsitektural.

Empat tahap untuk membaca makna Gedung Sate

Dwiyandana, Susetyarto, dan Purnomo menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan melalui empat tahap, yakni observasi, eksplorasi, analisis, dan interpretasi.

Pada tahap observasi, peneliti mengamati ekspresi bentuk bangunan berdasarkan aspek iklim dan budaya. Tahap eksplorasi digunakan untuk memahami elemen pembentuk ruang dan hubungan bangunan dengan lingkungan. Selanjutnya, analisis dilakukan terhadap bentuk arsitektur lokal dan non-lokal. Tahap terakhir adalah interpretasi untuk memahami makna ruang, atap, dinding, lantai, dan elemen pembentuk bangunan lainnya.

Pendekatan tersebut membuat penelitian tidak hanya bertanya tentang “seperti apa” Gedung Sate, tetapi juga “mengapa” bentuk tertentu digunakan dan “makna apa” yang dapat dibaca dari bentuk tersebut.

Atap Gedung Sate menyimpan banyak pengaruh budaya

Salah satu temuan paling jelas terlihat pada bagian atap. Peneliti menemukan bentuk atap trapesium yang dipengaruhi arsitektur tradisional Jawa. Di bagian tengah terdapat menara bergaya Meru yang dikaitkan dengan bentuk pura Bali.

Kedua bentuk tersebut tidak hanya menjadi ornamen visual. Dalam interpretasi peneliti, bentuk atap tersebut juga berkaitan dengan fungsi adaptasi terhadap iklim tropis. Dengan kata lain, unsur lokal tidak hanya digunakan untuk memperindah bangunan, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan lingkungan dan kenyamanan.

Pada konstruksinya, atap menggunakan struktur rangka baja yang menunjukkan pengaruh komponen arsitektur non-lokal dari Belanda. Sementara itu, penggunaan material sirap menunjukkan pengaruh arsitektur lokal.

Ornamen juga memiliki makna tersendiri. Rangkaian bentuk setengah lingkaran yang menyerupai sisik ikan dikaitkan dengan ornamen tradisional Priangan. Sementara ornamen kayu berbentuk susunan stupa menunjukkan pengaruh gaya arsitektur klasik. Penelitian juga mencatat bahwa enam lingkaran pada bagian tertentu dikaitkan dengan simbol biaya pembangunan sebesar 6 juta gulden, sementara nama “Gedung Sate” berkaitan dengan ornamen yang menyerupai tusuk sate.

Dinding memperlihatkan perpaduan lokal dan Eropa

Dinding Gedung Sate juga memperlihatkan kombinasi berbagai pengaruh. Bentuknya relatif datar dan simetris, dengan lengkungan berulang, jendela, ventilasi, serta detail kolom bergaya klasik Eropa.

Peneliti mengidentifikasi pengaruh arsitektur Romawi dan Renaisans pada sejumlah detail dinding. Pada saat yang sama, bentuk dinding dan bukaan tetap mempertimbangkan kondisi iklim tropis. Struktur dinding menggunakan kombinasi kolom, balok baja, dan susunan bata, sedangkan materialnya mencakup bata, beton, serta campuran pasir dan kapur.

Bukaan berupa pintu, jendela, dan ventilasi juga menjadi bagian penting dari identitas bangunan. Bentuk-bentuk tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan pencahayaan dan sirkulasi udara, tetapi juga membawa pengaruh berbagai gaya arsitektur.

Yang menarik, ornamen pada bukaan bangunan menunjukkan keragaman simbol budaya. Peneliti mengidentifikasi bentuk lengkung bergaya Moorish atau Arab, ornamen bunga lotus, elemen yang dikaitkan dengan tradisi Hindu, serta berbagai simbol yang ditafsirkan merepresentasikan keberadaan Islam, Kristen, Hindu, dan Konghucu di Hindia Belanda.

Pola ruang menunjukkan fungsi sekaligus adaptasi iklim

Makna arsitektur Gedung Sate juga terlihat dari tata ruangnya. Bangunan memiliki pembagian ruang publik, privat, semi-privat, dan pelayanan yang mengikuti konsep pengelompokan ruang Barat.

Hierarki ruang juga berkaitan dengan struktur organisasi, mulai dari ruang pimpinan hingga ruang pegawai dan pelayanan. Namun, orientasi bangunan menunjukkan pertimbangan terhadap iklim tropis. Sisi bangunan yang lebih lebar menghadap utara dan selatan, sedangkan sisi timur dan barat dibuat lebih kecil. Peneliti menilai orientasi tersebut membantu mengurangi paparan panas dan silau matahari.

Pola ruang yang mengikuti sumbu utara-selatan juga dikaitkan dengan pola tata ruang arsitektur Jawa, sementara bentuk simetris menunjukkan pengaruh pola Barat. Hasil ini memperlihatkan bagaimana unsur lokal dan non-lokal dapat hadir secara bersamaan dalam satu sistem bangunan.

Lantai menegaskan hubungan antara fungsi dan material

Pada bagian lantai, penelitian menemukan penggunaan penutup lantai berbentuk persegi yang disesuaikan dengan fungsi ruang. Material yang digunakan mencakup marmer, keramik, ubin teraso, dan batu alam andesit.

Batu andesit dipandang sebagai komponen lokal, sedangkan keramik dan teraso dikategorikan sebagai komponen non-lokal. Pemilihan material tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan estetika, tetapi juga karakter dan fungsi setiap ruang.

Gedung Sate menjadi pelajaran tentang identitas arsitektur Indonesia

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa makna Gedung Sate dapat dibaca melalui tiga dimensi utama: fungsi, bentuk, dan makna. Sejumlah elemen bangunan memiliki makna fungsional karena berkaitan dengan kebutuhan ruang dan adaptasi iklim. Elemen lain memiliki makna ikonik karena mengingatkan pada bentuk tertentu, serta makna simbolik karena membawa kesepakatan atau pesan budaya.

Pada atap, misalnya, bentuk arsitektur Jawa dan menara bergaya Meru memiliki makna fungsional, ikonik, dan simbolik. Struktur baja menunjukkan pengaruh budaya modern, sedangkan ornamen Priangan dan susunan stupa membawa makna simbolik. Pada dinding, perpaduan bentuk tropis dengan gaya Romawi dan Renaisans menghasilkan makna fungsional, ikonik, sekaligus simbolik.

Temuan tersebut memiliki implikasi penting bagi pendidikan arsitektur dan pelestarian bangunan bersejarah. Menurut Dani Dwiyandana, Martinus Bambang Susetyarto, dan Agus Budi Purnomo, membaca arsitektur melalui hubungan fungsi, bentuk, dan makna dapat membantu memahami identitas lokal dalam karya arsitektur. Pendekatan tersebut juga dapat digunakan untuk menganalisis bangunan kolonial maupun bangunan lain di Indonesia yang memiliki perpaduan unsur lokal dan non-lokal.

Bagi pendidikan arsitektur, Gedung Sate dapat menjadi contoh bahwa modernisasi tidak selalu berarti menghilangkan identitas lokal. Sebaliknya, unsur lokal dapat berintegrasi dengan pengaruh luar dan menghasilkan bentuk arsitektur baru yang memiliki karakter tersendiri.

Profil Penulis

Dani Dwiyandana — peneliti dari Centre For Nusantara, Universitas Trisakti, dengan kajian yang berkaitan dengan sintesis bentuk arsitektur dan hubungan komponen lokal serta non-lokal.

Martinus Bambang Susetyarto — peneliti dari Centre For Nusantara, Universitas Trisakti, sekaligus corresponding author artikel ini.

Agus Budi Purnomo — peneliti dari Centre For Nusantara, Universitas Trisakti.

Sumber Penelitian

Judul: The Meaning of Local and Non-Local Architectural Components in the Gedung Sate, Bandung
Penulis: Dani Dwiyandana, Martinus Bambang Susetyarto, Agus Budi Purnomo
Afiliasi: Centre For Nusantara, Universitas Trisakti
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 2, 2026, halaman 71–90
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i2.3
URL: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo

Posting Komentar

0 Komentar