Hipotermia pascaoperasi masih menjadi tantangan dalam pelayanan bedah di berbagai negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 313 juta tindakan operasi dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, jumlah operasi mencapai sekitar 1,2 juta kasus pada tahun 2020, dengan operasi ortopedi menjadi salah satu tindakan yang paling sering dilakukan. Meskipun operasi artroskopi dikenal sebagai prosedur minimal invasif, pasien tetap memiliki risiko tinggi mengalami gangguan pengaturan suhu tubuh selama hingga setelah operasi.
Penurunan suhu tubuh tidak hanya menyebabkan pasien menggigil dan merasa tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan risiko infeksi luka operasi, memperlambat pemulihan anestesi, mengganggu fungsi jantung, hingga memperpanjang masa perawatan di rumah sakit. Karena itu, menjaga suhu tubuh tetap normal selama masa pemulihan menjadi bagian penting dari keselamatan pasien.
Untuk mengetahui metode penghangatan yang paling efektif, tim peneliti menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan nonequivalent control group. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025 terhadap 40 pasien yang menjalani operasi artroskopi. Seluruh responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
- 20 pasien menerima terapi Forced-Air Warming (FAW).
- 20 pasien menggunakan selimut standar sebagai metode penghangatan.
Suhu tubuh diukur menggunakan termometer timpani digital saat pasien tiba di ruang recovery, kemudian kembali diukur setiap 10 menit selama 20 menit masa observasi. Suhu tubuh dinyatakan stabil apabila tetap berada pada kisaran 36,0–37,2°C. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5 persen. Penelitian juga telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan STIK Sint Carolus dengan nomor 045/KEPPKSTIKSC/IV/2025.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang sangat jelas antara kedua kelompok. Sebanyak 85 persen pasien yang menggunakan Forced-Air Warming berhasil mempertahankan suhu tubuh tetap stabil selama masa observasi. Sebaliknya, hanya 35 persen pasien yang menggunakan selimut standar yang mampu mempertahankan suhu tubuh normal.
Analisis statistik menghasilkan nilai p = 0,003, yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut signifikan secara statistik. Temuan ini memperlihatkan bahwa penggunaan Forced-Air Warming memberikan perlindungan yang jauh lebih baik terhadap risiko hipotermia dibandingkan metode penghangatan pasif menggunakan selimut biasa.
Menurut Destri dan Enna Rossalina S., efektivitas Forced-Air Warming terjadi karena alat tersebut secara aktif mengalirkan udara hangat melalui selimut khusus sehingga panas dapat tersebar merata ke seluruh permukaan tubuh pasien. Berbeda dengan selimut standar yang hanya mempertahankan panas tubuh yang sudah ada, FAW terus memasok energi panas sehingga mampu mengurangi kehilangan panas akibat radiasi, konveksi, maupun penguapan.
Penulis juga menjelaskan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan FAW efektif meningkatkan suhu inti tubuh, mengurangi kejadian hipotermia, menekan kejadian menggigil pascaoperasi, serta meningkatkan kenyamanan pasien selama masa pemulihan.
Temuan ini memiliki implikasi yang luas bagi pelayanan kesehatan. Penggunaan Forced-Air Warming berpotensi meningkatkan keselamatan pasien dengan menurunkan risiko komplikasi akibat hipotermia, mempercepat metabolisme obat anestesi, meningkatkan kenyamanan pasien setelah operasi, serta mempercepat proses pemulihan di ruang recovery. Dari sisi rumah sakit, penerapan metode ini juga dapat membantu meningkatkan mutu pelayanan perioperatif sekaligus mendukung praktik keperawatan berbasis bukti (evidence-based nursing).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis merekomendasikan agar rumah sakit mempertimbangkan penggunaan Forced-Air Warming sebagai bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP), khususnya bagi pasien yang menjalani prosedur bedah dengan risiko tinggi mengalami hipotermia. Peneliti juga mengakui bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena waktu observasi relatif singkat dan jumlah responden terbatas. Penelitian lanjutan dengan durasi pemantauan lebih panjang dan jumlah sampel yang lebih besar diperlukan untuk memperkuat temuan tersebut.
Profil Singkat Penulis
Destri merupakan peneliti sekaligus penulis korespondensi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Sint Carolus dengan fokus pada bidang keperawatan perioperatif dan keselamatan pasien. Penelitian ini disusun bersama Enna Rossalina S., yang juga berasal dari STIK Sint Carolus dan memiliki ketertarikan pada praktik keperawatan berbasis bukti, khususnya dalam penanganan pasien pascaoperasi. Informasi rinci mengenai gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam artikel jurnal.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Comparison of Forced-Air Warming Device and Standard Blanket Use on Body Temperature Stability in Post-Arthroscopy Patients in the Recovery Room
Penulis: Destri; Enna Rossalina S.
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5, No. 7, 2026, halaman 1745–1752.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i7.106
URL Jurnal: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar