Edukasi Termodinamika Kontekstual Ungkap Tantangan Baru Kesadaran Lingkungan Pelajar SMA di Bekasi

Ilustrasi by AI

Tim akademisi dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang dipimpin oleh Dr. Familia Novita Simanjuntak bersama rekan-rekannya menggelar program Focus Group Discussion (FGD) serta evaluasi interaktif mengenai pencemaran air dan termodinamika di SMA Sandikta, Kota Bekasi, pada tanggal 20 Mei 2026. Kegiatan ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana pemahaman mekanisme ilmiah siswa dalam membangun kesadaran lingkungan yang komprehensif di tengah tantangan krisis air perkotaan.

Kota Bekasi sebagai kawasan satelit penyangga Jakarta menghadapi tekanan ekologis yang serius akibat tumpukan limbah industri, pertanian, dan rumah tangga yang mencemari badan air. Sayangnya, materi sains di sekolah kerap kali mengajarkan hukum termodinamika sebatas rumus matematika abstrak yang sulit dihubungkan dengan realitas lingkungan sehari-hari siswa.

Untuk menjembatani celah tersebut, tim peneliti merancang program edukasi interaktif yang terbagi dalam dua sesi materi utama. Sesi pertama mengupas tuntas definisi hukum serta sumber pencemaran air berdasarkan regulasi yang berlaku, sementara sesi kedua mengaitkan hukum termodinamika pertama dan kedua serta energi bebas Gibbs dengan fenomena nyata pencemaran air di lapangan. Setiap sesi diakhiri dengan kuis gamifikasi melalui platform Kahoot! berisikan 10 pertanyaan yang diikuti secara serentak oleh 60 siswa peserta.

Berdasarkan analisis data kuantitatif menggunakan sistem pengolahan data, ditemukan beberapa temuan utama yang menonjol:

  • Pada Kuis I mengenai dasar pencemaran air, tingkat jawaban benar rata-rata mencapai 61,33% dengan 85% siswa berhasil masuk dalam kategori kemampuan sedang hingga tinggi.
  • Pada Kuis II yang menguji materi termodinamika ekosistem, tingkat jawaban benar merosot tajam ke angka 39,44%, di mana 71,7% peserta tergolong dalam kategori rendah.
  • Analisis berpasangan terhadap 47 siswa yang mengikuti kedua kuis menunjukkan penurunan tingkat akurasi rata-rata sebesar 42,3% (dari 6,49 menjadi 3,74 poin), di mana 78,7% siswa mengalami penurunan skor akibat tingginya tingkat kesulitan penalaran konseptual termodinamika.

Menurut para peneliti dari Universitas Kristen Indonesia, hasil ini mengindikasikan bahwa kepedulian atau kesadaran afektif siswa terhadap bahaya pencemaran sudah terbangun dengan baik, namun pemahaman teknis mengenai mekanisme ilmiah di baliknya masih perlu diperkuat. Implementasi model edukasi kolaboratif antara perguruan tinggi dan sekolah menengah ini memberikan sumbangsih nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin pendidikan berkualitas serta air bersih dan sanitasi.

Profil Singkat Penulis

  • Dr. Familia Novita Simanjuntak, SP, M.Si – Dosen Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Kristen Indonesia.
  • Dr. Bintang Simbolon, M.Si – Dosen Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Kristen Indonesia.
  • Alfa Graciani Kase – Peneliti di Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Kristen Indonesia.
  • Yuliana Casria – Peneliti di Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Kristen Indonesia.
  • Novita Veronica – Pendidik/Perwakilan dari SMA Sandikta, Kota Bekasi.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar